Metro Pariwisata

Pelukis Bali Diajak Melukis On The Spot, Promosikan Wisata

Lukis Museum Batik
ON THE SPOT – Joko Sutrisno saat melukis Museum Batik diatas kanvasnya. Selain Museum Batik, ia juga diajak melukis on the spot ke beberapa obyek lain seperti galangan kapal dan pantai. Kehadirannya dimanfaatkan seniman lukis Kota Pekalongan untuk mempromosikan Kota Pekalongan.
M. AINUL ATHO’

KOTA PEKALONGAN – Seniman lukis Kota Pekalongan, memiliki cara tersendiri untuk mempromosikan pariwisata. Kedatangan seniman lukis asal Ubud, Bali, Joko Sutrisno, tak disia-siakan para pelukis Kota Pekalongan. Mereka mengajak sang pelukis untuk mencorat-coret kanvasnya secara on the spot dengan obyek beberapa lokasi yang menjadi destinasi wisata di Kota Batik.

Spot pertama, sang tamu diajak melukis dengan obyek Museum Batik. Selanjutnya bersama beberapa seniman lukis tuan rumah, ia diajak menggambar obyek galangan kapal di wilayah Slamaran. Kemudian pantai menjadi penutup ‘menu’ obyek-obyek wisata yang dilukis bersama hari itu. “Ini merupakan bagian dari upaya kami ikut mempromosikan Kota Pekalongan.
Seringkali kita lihat banyak lukisan, misalnya Tanah Lot di Bali, yang dibeli dan dipasang di rumah-rumah. Sekarang gantian, mumpung ada pelukis dari Bali kami ajak melukis on the spot di beberapa tempat. Harapannya hasil lukisan akan dibawa pulang, dipasang digalerinya disana sehingga setidaknya dapat mengenalkan Kota Pekalongan melalui beberapa lukisan tersebut,” tutur salah satu Pelukis Kota Pekalongan, Arifin Jombor.

Promosi lewat lukisan, menurutnya menjadi salah satu langkah yang efektif. Seringkali, kata Jombor, dengan hanya melihat lukisan seperti Tanah Lot di Bali, maupun tempat wisata lain, kita ingin mengunjungi lokasi tersebut. “Itu yang kami harapkan melalui kegiatan seperti ini,” tambahnya.

Melukis on the spot, sambungnya, juga memberikan hasil yang berbeda dibandingkan melukis di studio. Melukis on the spot, akan menyajikan hasil karya sesuai dengan kondisi obyek yang digambar saat itu. Berbeda jika melukis di studio yang akan lebih banyak mengeksplorasi makna, atau pesan dari obyek yang digambarkan.

Kedatangan pelukis dari Bali, dikatakannya bukan dalam agenda khusus. Joko Sutrisno, dikatakan Jombor hanya datang mampir. Namun sebagai sesama seniman, momen itu dijadikan ajang silaturahmi dan bertemu untuk kemudian diajak berkarya bersama. “Pak Joko hanya mampir tapi teman-teman memanfaatkan ini untuk silaturahmi,” tuturnya lagi.

Sementara itu, Joko Sutrisno mengaku baru pertama kali datang ke Kota Pekalongan. Pelukis asal Bali namun asli Jawa Timur itu menyatakan, selama ini hanya mendengar nama Kota Pekalongan. “Kalau ke Pasar Sukowati, banyak pedagang disana yang menjual batik yang diambil dari Kota Pekalongan,” tuturnya.

Batik menjadi satu-satunya hal yang dikenalnya tentang Kota Pekalongan. Namun menurut Joko, itu dapat menjadi modal yang besar jika dapat dikembangkan lebih jauh. “Jangan hanya menjadi obyek jual beli, atau berdagang saja. Karena batik ini sudah mendunia, sangat dikenal dan dapat dikembangkan lebih jauh sebagai ujung tombak promosi bagi Kota Pekalongan,” ucapnya. (nul)

Penulis: M. Ainul Atho’ & Redaktur: Abdurrahman