Batang News

Jual Tanah Bengkok, Kades dan Kadus Ditahan

Jual Tanah Bengkok, Kades dan Kadus Ditahan
DITAHAN – Kades dan Kadus Yosorejo, Kecamatan Gringsing dibawa menuju ke Rutan Rowobelang dengan menggunakan mobil tahanan dan pengawalan petugas Kejari Batang, kemarin.
M DHIA THUFAIL / RADAR PEKALONGAN

BATANG – Setelah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) penjualan tanah bengkok di Desa Yosorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Kini Siti Nurningsih (44) selaku Kepala Desa (Kades) Yosorejo dan Nurudin (41) selaku Kepala Dusun (Kadus) Yosorejo, dijebloskan dalam penjara oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Batang.

“Setelah memasuki tahap dua, mereka kini kami titipkan sementara di sel tahanan rutan Rowobelang, Batang. Sebelum nantinya akan dipindahkan ke Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang, setelah ada putusan dari majelis hakim,” ujar Kajari Batang, Edi Ermawan saat ditemui di ruangan kerjanya, Kamis (20/7).

Edi menyebutkan, kedua tersangka ini telah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus jual beli tanah bengkok hingga merugikan uang negara Rp807.384.615.

“Ya, hasil audit yang telah dilakukan oleh BPK, dari luasan tanah bengkok yang dijual oleh tersangka kurang lebih 5-7 hektar m2 itu mengakibatkan kerugian negara mencapai angka 800 an juta rupiah,” terang Edi.

Dijelaskan Edi, kasus jual beli tanah bengkok itu pertama kali mencuat pada tahun 2015 silam, saat kedua tersangka kedapatan tengah memetak-metak (mengkapling-red) tanah bengkok untuk dijual kepada warga sekitar. Tersangka menjual tanah bengkok yang telah di kaplingnya dengan harga yang bervariasi, sesuai dengan luasan lahan yang ditentukan, berkisar Rp60-70 juta rupiah.

“Jadi, kedua tersangka ini diketahui hendak tukar guling tanah bengkok dengan tanah yang berada di tetangga desa. Nah, hal itu sebenarnya sudah tertera pada Permendagri nomor 4 tahun 2007, bahwasannya tanah bengkok tidak boleh diperjual belikan, kecuali untuk kepentingan umum. Terlebih, harus melalui persetujuan Bupati dan Gubernur,” jelas Edi.

Edi mengatakan, saat itu kedua tersangka sudah mencoba untuk mengajukan surat permohonan kepada Bupati Batang, namun belum mendapatkan persetujuan. Akhirnya, para tersangka tidak sabar, dan nekat melanggar aturan dengan lancang menjual tanah bengkok itu tanpa persetujuan.

“Tidak ada persetujuan dari Bupati dan Gubernur. Jadi dijual tanpa adanya persetujuan. Sebelumnya tanah bengkok itu berupa tanah sawah dengan luasan 5-7 hektar m2, namun oleh mereka diurug dengan tanah liat yang kemudian di kapling untuk dijual kepada warga sekitar. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp60-70 juta,” tutur Edi.

Untuk itu, dengan adanya berbagai bukti tersebut, kini kedua tersangka bakal dijerat dengan pasal 2 ayat (1) jo pasal 3 jo pasal 18 UU RI nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah ditambah dan diubah engan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Dengan ancaman hukuman, untuk pasal 2 minimal 4 tahun dan pasal 3 minimal 1 tahun. Sedang untuk dendanya, nanti pada saat tuntutannya. Kita menunggu nanti di pakta persidangannya berapa denda yang ditetapkan,” katanya.

Sementara, kuasa hukum tersangka, Dwi Heri Santosa menyatakan akan segera mengajukan permohonan penangguhan. “Mudah-mudahan dari Kejari bisa mengabulkan permohonan penangguhan. Karena selama penyidikan ini, kedua klien kami sangatlah kooperatif,” ujar Heri.

Dikatakan oleh hari, bahwa tanah bengkok yang diperjualbelikan tersebut merupakan hak milik Kades Yosorejo. Karena tanah bengkok tersebut sudah tidak produktif, Kades Yosorejo berinisiatif untuk mencari gantinya dengan menukar dengan tanah yang masih produktif.

“Namun saat sedang akan mengurus proses penukaran, Kejaksaan menilai ada kesalahan atau kekeliruan. Namun akan kita buktikan nanti saat persidangan,” tandas Heri. (ap6)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Honda_Fais Juli 2017

REV Suzuki Yulina Agustus 2017