Featured Kajen News

Menikmati Petungkriyono Lewat Secangkir Kopi Owa

*Jaga Eksistensi Owa Sembari Ngopi

Belum komplit rasanya jika ke Petungkriyono tanpa mencicipi seduhan kopi lokalnya. Selain memiliki varian Kopi Petung, Petungkriyono juga memiliki varian Kopi Owa. Mendengar nama itu awalnya anda pasti berpikir jika Kopi Owa merupakan kopi hasil pencernaan lewat hewan langka ini, macam Kopi Luwak. Meski terdengar demikian kehadiran Kopi Owa punya makna tersendiri. Kopi yang pung sudah dieskpor hingga ke Singapura ini punya pesan-pesan konservasi untuk menjaga kelestarian Owa. Seperti Apa? NOVIA ROCHMAWATI – Petungkriyono

Menikmati Petungkriyono Lewat Secangkir Kopi Owa
BORONG – Beberapa peserta memborong produk Kopi Owa di stan Kopi Owa Pak Tasuri di kawasan wisata Curug Lawe, Sabtu (5/8).
NOVIA ROCHMAWATI / RADAR PEKALONGAN

Sekitar pukul 17.00 WIB rombongan peserta Amazing Petung National Explore (APNE) 2017 mulai memasuki spot terakhir, Curug Lawe Sabtu (5/8). Hawa dingin di sekitar Desa Kasimpar ini membuat beberapa peserta dari kalangan blogger, pilot dronner, fotografer dan jurnalis ini kedinginan. Pasalnya daerah ini merupakan salah satu daerah tertinggi di Petungkriyono. Ditambah kondisi perut yang keroncongan setelah seharian mengeksplor keindahan Petungkryiono. Mulai Curug Sibedug, Jembatan Sipingit, Welo River hingga Curug Bajing.

Usai disambut keindahan musik Rampak yang sedang digandrungi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini langsung menyerbu warung makan. Nasi dari beras hitam yang disajikan langsung menjadi incaran favorit. Ditambah urap, gereh (ikan asin) dan lauk-pauk lainnya menjadi sajian khas ala masyarakat Petungkriyono.

Ada yang menyita perhatian peserta di kiri panggung acara APNE 2017. Selepas mendengarkan sambutan hangat dari Wakil Bupati Pekalongan, beberapa peserta langsung berkumpul di stan pegiat lingkungan Bapak Tasuri. Di stan ini dapat kita temui Kopi Owa, yang menjadi salah satu produk unggulan di Petungkriyono.

Kopi Owa ini terlihat sangat menarik, apalagi di tengah suasana dingin kawasan Wisata Curug Lawe yang makin membuat peserta ingin menikmati kehangatannya. Setelah sedikit icip-icip, beberapa peserta pun turut mendengar penjelasan penggagas tim Kopi Owa, yang diwakili Bapak Tasuri. Beberapa peserta pun tanpa ragu segera memborong kopi yang menjadi produk unggulan Petungkriyono ini.

Dari rupa bijinya, sudah bisa dilihat kopi ini punya ciri khas. Bijinya berukuran lebih kecil dari biji kopi yang biasanya ditanam di perkebunan warga. Hal ini dikarenakan kopi ini didapat langsung dari tanaman kopi liar di hutan. Kopi yang dihasilkan lebih organik lantaran tumbuh sendiri di alam berdampingan dengan pohon-pohon yang menjadi sarang Owa.

Hal inilah yang menjadi salah satu lantaran, mengapa nama Owa disematkan dalam kopi yang sudah dikenal hingga Singapura ini. Meski begitu ada alasan utama nan mulia Tasuri menyematkan nama primata langka ini. Hal ini dilakukannya untuk menjaga eksitensi Owa di bumi Petung.

Ia ingin mengajak masyarakat sekitar menghentikan aktivitas perburuan Owa. Tak hanya mengajak, Tasuri menawarkan kopi Owa ini sebagai solusi ekonomi bagi warga di sekitar Hutan Sokokembang. Pasalnya jika diolah dengan baik dan tepat, kopi ini bisa dihargai tinggi.

“Selama ini Owa selalu di Buru oleh masyarakat, karena memang punya nilai jual tinggi. Apalagi kini semakin langka di habitatnya. Saya mengajak masyarakat untuk beralih profesi dengan mengelola kopi organik ini. Dengan cara memproduksi kopi dan tidak merambah hutan lagi. Kita manfaatkan apa yang sudah ada di hutan,” terang pegiat lingkungan ini.

Karena berasal dari hutan, maka pengolahannya pun berbeda dengan kopi hasil perkebunan. Biji kopi dipetik secara masal, baik yang masih hijau ataupun berwarna merah. Tidak bisa dipetik satu per satu laiknya kopi perkebunan. Selain letaknya yang tinggi, hal ini juga untuk menngantisipasi perburuan dengan satwa lain yang sering memburu biji kopi.

Setelah dipetik, biji kopi disortir dengan memilih biji yang berwarna merah. Kemudian dilanjutkan pemprosesan dengan menggiling atau menumbuk biji kopi tersebut. Proses ini terbilang cukup sulit, pasalnya biji kopi organik memiliki kulit yang lebih tebal dari biji kopi biasa. Cita rasa kopinya cenderung ke pahit, berbeda dengan Kopi Petung yang cenderung asam . Pasalnya biji kopi Owa sendiri berjenis Robusta. Meski begitu menurutnya di Petungkriyono dapat mengembangkan empat jenis kopi, Arabika, Robusta, Excelsa, serta Liberica.

“Dulunya ini dijual Rp20.000 per kilo. Sekarang setelah diolah dengan baik dan tepat bisa menembus harga hingga Rp50-60 ribu per kilo. Kalau diproses secara benar, pasti kopi ini punya ciri khas yang tentunya bisa dirasakan oleh para penikmat kopi. Alhamdulillah kopi ini juga sudah diekspor ke Singapuran. Karena kemarin kopi ini baru dipamerkan dan dijual di sana, dari salah satu peneliti yang pernah berkunjung kemari,” terang Tasuri.

Ia berharap dengan ini bisa mengajak partisipatif masyarakat sekitar untuk lebih peduli pada eksistensi primata yang memiliki nama binomial Hylobates Moloch ini. Dengan memberikan edukasi pengolahan kopi yang berkualitas yang bisa menjadikan peluang bagi potensi ekonomi masyarakat.

Kopi Owa ini bisa dibilang sebagai lambang simbiosis mutualisme masyarakat dan Owa yang ada di Petung. Dimana satu sama lain bisa saling menjaga untuk bertahan hidup. Owa yang bertugas dan merawat kopi liar di hutan. Sedangkan manusia sekitarnya menjaga prminata langka dari pemburuan, dan senantiasa menjaga ekosistem alam Hutan Sokokembang.

Tentunya sayang sekali jika melwatkan kesempatan untuk mencicipi Kopi Owa ini. Apalagi jika kopi ini diseduh sore hari dimana bisa menjadi selimut kehangatan dari dinginnya udara Petung. Sembari menikmati keindahan alam sekitar atau sekadar kongkow bersama sahabat. Ini bisa menjadi jalan anda untuk ikut serta menjaga eksistensi Owa. Siapa tahu anda beruntung, bisa bertemu langsung dengan primata langka ini. (nov)

Penulis: Novia Rochmawati | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widy

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Honda_Fais Juli 2017

REV Suzuki Yulina Agustus 2017