Batang News

Perjuangan Tutur, Warga Miskin Pengidap Kanker Payudara

*Berhenti Berobat, Payudaranya Membusuk

Berbagai cara telah dilakoni Tutur dan keluarga untuk menyembuhkan kanker yang dideritanya. Hanya saja keterbatasan biaya membuatnya berhenti dari pengobatan rutin. Meski ia telah kehilangan payudaranya, nyatanya kanker tersebut masih menggerogoti dirinya. Bahkan lukanya membekas hingga menjadi busuk, dan kadang berulat. NOVIA R – Kandeman

Perjuangan Tutur, Warga Miskin Pengidap Kanker Payudara
TEMANI – Sudono (53) saat menemani istrinya, Tutur (47) yang mengidap kanker payudara.
NOVIA ROCHMAWATI / RADAR PEKALONGAN

Maksud hati ingin merantau ke negeri jiran untuk memperbaiki taraf hidup. Namun ternyata malang malah menimpa Tutur (47), Warga Desa Botolambat RT 15/04 Kandeman. Pulang dari Malaysia wanita yang kerap disapa Tutur itu malah divonis mengidap kanker payudara.

Setelah pulang ke Indonesia kondisinya makin parah. Ia pun telah bolak-balik untuk mengobati penyakitnya ini. Mulai dari diambil daging kankernya hingga diambil payudaranya. Namun nasib baik belum kunjung mendekatinya.

Kini Tutur hanya bisa merintih minta pertolongan. Pasalnya lukanya yang membusuk itu kadang menimbulkan perih dan panas yang amat mencekit. Terlebih ketika ulat-ulat di dalamnya bereaksi seakan menggelitik lukanya.

Karena keterbatasan biaya operasional ia hanya melakoni pengobatan seadanya. Terkadang ia menggunakan bubuk kapur barus atau tembakau untuk meringankan rasa perih dan mengeluarkan ulat-ulat di dadanya. Meski rasa sakitnya mereda, kadang bubuk itu malah menimbulkan efek samping.

“Lah mau bagaimana lagi. Sudah setahun ini keluarga menghentikan pengobatan. Karena sudah tak mampu lagi untuk biaya operasionalnya. Yang satu payudaranya sudah diangkat, tapi yang satunya malah ikut membusuk,” terang anak sulung Tutur, Umayah (27) saat diwawancaraiwww.radarpekalongan.com, Kamis (10/8).

Diceritakan, sebelum berangkat ke negeri jiran ibunya terbilang masih sehat. Namun setelah menjalani kontrak selama dua tahun, nenek satu orang cucu itu pulang dengan membawa penyakit kanker payudara.

“Mungkin di sana pola makannya kurang sehat. Di sana malah sering mengkonsumsi mie instan,” imbuhnya.

Semenjak mengidap penyakit ini, Tutur tak bisa merasakan tidur nyenyak. Bahkan bisa dibilang ia tidak bisa tidur, karena terus menerus merasakan perih. Tak hanya itu, kondisinya pun membuat Tutur ogah-ogahan untuk makan.

Beruntung, kini keluarga Tutur sudah sedikit bernafas lega. Berkat bantuan salah satu tetangga, berbagai simpati dan bantuan dari masyarakat berdatangan. Bahkan pemerintah Kecamatan dan berbagai elemen serta instansi pemerintahan sudah berkunjung dan memberikan bantuan.

“Sebenarnya saya baru mengerti kondisi Bu Tutur ini baru sekitar dua hari ini. Saya tidak bisa bayangkan penyakitnya ini sudah menggerogoti sedari dua tahun lalu. Dan belum ada bantuan untuk beliau sebelumnya,” terang tetangga Bu Tutur Wiwit yang mensharing kisah perjuangan Tutur ke media sosial dan relasinya.

Wiwit pun berharap pemerintah untuk segera membantu pengobatan Tutur. Pasalnya salah satu yang menghambat pihak keluarga adalahnya besarnya biaya operasional. Terlebih keluarga ini termasuk keluarga yang kurang mampu.

“Saya berterima kasih kepada pihak-pihak yang sudah meringankan beban keluarga. Namun keluarga ini masih membutuhkan banyak bantuan dari sesama. Terutama bantuan operasional. Karena meski pengobatannya sudah tercover BPJS, dibutuhkan biaya operasional untuk memperlancar proses kesembuhan Bu Tutur,” tandasnya. (nov)

Penulis: Novia Rochmawati | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Honda_Fais Juli 2017

REV Suzuki Yulina Agustus 2017