Nasional News

Bareskrim Bakal Bentuk Crisis Center

Bareskrim Bakal Bentuk Crisis Center
GELEDAH – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri saat menggeledah kantor First Travel di Jakarta Selatan, Kamis (10/8/2017).Polisi menetapkan pemilik First Travel Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Desvitasari, sebagai tersangka dengan pasal penipuan dan penggelapan.
MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

JAKARTA – Gelombang korban First Travel yang mempertanyakan nasibnya muncul. Kemarin (11/8) puluhan korban kasus dugaan penipuan mendatangi kantor Bareskrim untuk meminta penjelasan atas berbagai masalah, dari pengembalian dana, pemberangkatan umroh hingga sekedar ingin meminta paspornya kembali. Karena itu Bareskrim berencana untuk membuka Crisis Center untuk menangani masalah tersebut.

Pantauan Jawa Pos, sejak pukul 09.00 satu per satu korban First Travel berdatangan. Puncaknya pada pukul 13.00, puluhan orang berkumpul di depan Lobi Bareskrim. Tampak seorang penyidik yang mulai kerepotan dalam menjawab berbagai pertanyaan mereka. Dia dikerubungi semua calon jamaah First Travel.

Salah satunya, Warga yang mengaku Tinggal di Tangerang Selatan bernama Firman. Pada petugas dia mempertanyakan bagaimana dengan nasib pemberangkatan dirinya bersama sebelas anggota keluarganya. “Kemungkinan berangkatnya bagaimana ini,” ujarnya.

Penyidik yang tidak ingin disebut namanya itu tidak menjawab. Dia mengambil handphonenya dan menunjukan dua buah foto. Kedua foto itu ternyata diambil saat petugas mengecek isi saldo rekening perusahaan First Travel. Dalam satu foto terbaca dengan jelas uang yang ada dalam rekening itu hanya Rp 13.050.000.

Dalam foto kedua tidak jauh berbeda, hanya tertera Rp 1.900.500. Saat itu semua yang mengerubungi penyidik terdiam sesaat. Wajah mereka tampak lebih kebingungan. Firman yang tampak cukup ngotot, masih mempertanyakan kemungkinan pengembalian uang keluarganya. “Bagaimana dengan uang kami, bagaimana potensi kembalinya,” tanyanya pada penyidik itu.

Penyidik itu lalu mengatakan bahwa pihaknya hanya menangani masalah pidananya. Terkait pengembalian uang itu, tentu bukan dirinya yang berhak menjawab. “Saya persoalan pidananya, ada laporan 13 agen yang merasa ditipu. Lalu, diselidiki ternyata memang ada pidananya.” Walau, penyidik belum selesai, orang lain menyambar dengan pertanyaan baru.

“Bagaimana dengan pengembalian dokumen-dokumen penting, seperti paspor dan lainnya,” tanyanya salah seorang jamaah yang bernama Rusaini, 52. Penyidik mulai gelagapan dengan berbagai pertanyaan itu. Dia lalu menyebut bahwa untuk keperluan mendesak tentu dokumen itu bisa diambil. Namun, dengan menyertakan bukti.

“Yang lengkap, seperti bukti pembayaran, bukti penyerahan paspor dan keterangan asli keperluannya. Pasti, kami akan kembalikan kalau ada keperluan penting,” jelasnya.

Dia menuturkan, Bareskrim rencananya akan membuat krisis center untuk menangani masalah First Travel. Nantinya, akan dirancang bagaimana proses pengembalian dokumen-dokumen tersebut. “Ya, crisis center ini yang nanti akan menangani semua,” paparnya pada korban First Travel.

Setelah perdebatan sekitar 1 jam itu, penyidik kembali masuk ke kantor Bareskrim. Namun, korban First Travel masih berkumpul di depan Lobi Bareskrim. Mereka membahas berbagai kemungkinan untuk bisa diberangkatkan umroh atau dikembalikan uangnya.

Rusaini menyatakan, dirinya menginginkan salah seorang dari dua tersangka itu bisa untuk dibebaskan. Jangan dua-duanya dibebaskan, namun hanya satu orang. “Boleh Pak Andika atau Ibu Anniesa,” ujarnya.

Pembebasan satu orang ini ditujukan untuk mengurus keberangkatan dari jamaah umroh. Sehingga, proses hukum jalan, tapi pemberangkatan untuk umroh juga jalan. “Kalau satu itu tidak melarikan diri saja,” terangnya pada Jawa Pos kemarin.

Seorang jamaah lain yang tidak ingin disebutkan namanya justru memiliki ide untuk meminta pada Andika dan Anniesa membantah keterangan polisi. Caranya, dengan menunjukkan rekening uang yang cukup untuk memberangkatkan jamaah umroh.

“Harusnya, First Travel tunjukkan dong uangnya yangcukup membiaya pemberangkatan. Kalau begitu kita merasa aman. Biar keterangan polisi juga terbantahkan,” jelasnya.

Perlu diketahui, masih banyak orang yang berharap untuk bisa diberangkatkan umroh melalui First Travel. Sebab, selama ini mereka diikutkan First Travel dalam pembahasan dengan Kementerian Agama yang tetap mewajibkan First Travel memberangkatkan jamaah yang telah membayar. (idr)

Tags

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *