Nasional

Sudah 25 Korban, Ada Pergeseran Usia

*Kasus Bunuh Diri di Gunung Kidul di 2017

WONOSARI – Angka kematian warga akibat bunuh diri di Gunung Kidul, Jogjakarta, masih memprihatinkan. Sampai dengan Agustus, sudah ada 25 orang yang memilih mengakhiri hidup.

Data per Agustus 2017 itu diambil hingga Kamis (10/8) lalu. Berdasarkan temuan dari Inti Mata Jiwa (Imaji), kasus bunuh diri terakhir terjadi di dusun Wates, kecamatan Semin, Gunung Kidul. Seorang warga berinisial H mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Pria 65 tahun itu tewas di pohon Kluwih tak jauh dari rumahnya.

Hasil visum Puskesmas Semin memastikan bahwa H melakukan aksi bunuh diri setelah tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. “Ini adalah angka ke-25. Khusus tahun ini saja,” ujar Basuki Rahmanto, Sekretaris LSM Imaji kepada Jawa Pos.

Menurut Basuki, dari data yang dikumpulkan LSM Imaji, korban atau pelaku selama ini menderita sakit gula menahun. Namun, karena sakitnya tak kunjung sembuh, diduga kuat bahwa korban mengalami depresi. “Depresi ini penyebab terbesar kasus bunuh diri,” kata Basuki.

Wakil Ketua LSM Imaji Sigit Wage Dhaksinarga menambahkan, data 2017 juga menunjukkan sejumlah perubahan. Dalam hal ini, angka bunuh diri tak lagi didominasi usia tua. Namun sudah ke usia antara 25-50 tahun.

“Tahun 2017 ini bergeser yakni usia produktif,” kata Wage.

Menurut Wage, depresi menjadi penyebab terbesar pelaku melakukan bunuh diri. Namun, munculnya depresi tidak dilatar belakangi satu atau dua penyebab saja. Faktor ekonomi maupun religi juga tidak bisa menjadi penyebab anggota masyarakat nekad melakukan aksi bunuh diri.

“Faktanya ada warga yang bunuh diri setelah dia sembahyang. Bahkan yang memiliki latar belakang ekonomi mapan juga bunuh diri,” ujarnya.

Jika dilihat dari tingkat kesejahteraan antar daerah di Gunung Kidul, Wage menilai itu juga bukan indikator utama. Sebab, daerah-daerah yang menjadi simpul ekonomi di Gunung Kidul memiliki angka kematian bunuh diri yang tinggi.

“Daerah seperti Wonosari, Semanu, Karangmojo yang menjadi penyangga ekonomi justru tinggi,” sebutnya.

Karena itu, Wage mendorong langkah nyata Pemkab Gunung Kidul mencari jalan keluar. Dia menilai perlu adanya pendampingan secara masif kepada masyarakat. Terutama yang berpotensi melakukan bunuh diri.

“Salah satunya menempatkan psikiater minimal di setiap kecamatan. Sebab, faktanya, psikiater di Gunung Kidul hanya satu,” tandasnya. (bay/ttg)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Honda_Fais Juli 2017

REV Suzuki Yulina Agustus 2017