Nasional

Sedang Transaksi, Panitera PN Dibekuk

*Ditangkap KPK, Beserta Dua Pengacara
*Diduga Terima Suap Rp 300 Juta

Jakarta – Tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) berinisial T dan dua orang pengacara dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta, Senin (21/8). Berdasar informasi, T disebut menerima suap sebesar Rp 300 juta dari dua pengacara. Suap tersebut terkait dengan perkara perdata yang sedang berproses di PN Jaksel.

Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua KPK, Basaria membenarkan nominal uang suap yang diduga diterima T terkait pengamanan perkara perdata ini. Namun belum diketahui secara pasti apakah uang tersebut turut disita tim Satgas KPK dalam OTT kali ini atau tidak.

“Ya (suapnya sebesar Rp 300 juta),” kata Basaria.

Basaria menyatakan, terdapat empat orang yang diamankan. Selain Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) berinisial T, tim Satgas KPK juga menangkap dua orang yang berprofesi sebagai pengacara dan seorang yang berprofesi sebagai office boy.

“Satu panitera, dua advokat, dan seorang OB (office boy),” katanya, seperti dilansir beritasatu.com.

Keempat orang itu ditangkap saat sedang melakukan transaksi suap. Basaria menyebut keempat orang itu diduga bertransaksi suap terkait penanganan sengketa perdata yang sedang berjalan di PN Jaksel.

“Terdapat indikasi transaksi suap terkait dengan sengketa perdata yang sedang berproses di PN Jaksel,” katanya.

Meski demikian, Basaria masih enggan membeberkan lebih jauh kasus perdata yang ‘dimainkan’ keempat orang tersebut. Dikatakan, saat ini keempat orang tersebut masih diperiksa intensif. KPK memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan status hukum keempatnya. Basaria berjanji akan segera menyampaikan informasi lengkap mengenai OTT ini.

“Informasi lebih lanjut akan kami sampaikan berikutnya. Terhadap yang diamankan, tim akan lakukan pemeriksaan secara intensif,” katanya.

Sementara itu, Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan pihaknya belum bisa menyampaikan identitas empat orang yang ditangkap siang tadi. Saat ini keempat orang tersebut masih dalam pemeriksaan.

“Untuk nama inisial belum bisa disebutkan. Ada unsur panitera dan pengacara, kami riksa dulu, peran masing-masing diamankan,” tuturnya.

Febri menyatakan pihaknya memiliki waktu 1×24 jam untuk melakukan pemeriksaan, sebelum menentukan status dari pihak-pihak yang ditangkap tersebut. Soal sumber uang suap itu, Febri mengaku saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan.

Pegawai Berhamburan

Sementara itu, pada Senin siang kemarin pegawai Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berhamburan begitu mendengar informasi adanya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK.

Pantauan di lokasi, sejumlah orang mengenakan batik tampak membawa satu orang berkemeja putih sekitar pukul 13.20 WIB, Senin (21/8). Ada sekitar 7 orang yang datang ke PN Jaksel, Jl Ampera Raya.

Setelah dua orang dibawa KPK, belasan pegawai mengenakan seragam ‘berhamburan’. Mereka mencari tahu kejadian yang terjadi di lingkungan kerja mereka.

Setelah dua orang dibawa, mobil Honda HRV B 160 TMZ disegel KPK di halaman parkir PN Jaksel. Lemari dalam ruang panitera juga ikut disegel

Humas PN Jaksel Made Sutrisna membenarkan adanya operasi tangkap tangan (OTT) salah satunya panitera pengganti. Namun Made belum tahu kasus yang membelit panitera pengganti tersebut.

“Saya belum tahu apa-apa, saya nge-blank,” ujar Made kepada wartawan.

Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) Aroziduhu Waruwu mendatangi Mahkamah Agung (MA). Dia mengaku menemui Ketua MA Hatta Ali untuk melapor tentang operasi tangkap tangan (OTT) KPK di kantornya.

“Saya laporkan dan Ketua MA tidak membela orang-orang yang tidak memiliki integritas yang bagus,” ujar Aroziduhu usai menemui Hatta Ali di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (21/8/2017).

Aroziduhu mengaku berada di kantornya saat anak buahnya itu ditangkap KPK. Namun dia mengaku tidak tahu detail terkait penangkapan tersebut.

“Ada informasi dari kita, kesempatan pertama itu ya kita laporkan,” ucap

Aroziduhu pun menegaskan tak akan membela panitera pengganti berinisial T yang ditangkap KPK tersebut. Dia menyebut perbuatan T mencederai pengadilan apabila terbukti nantinya.

“Kalau dia salah siapa yang mau membela, itu kan namanya mencederai pengadilan, nggak ada namanya membela,” ucap Aroziduhu. (brs/dtk)

Tags

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Web - Honda_Efa September 2017