Featured Nasional News

Perjuangan Kopral Tri Suharyono Mendirikan TK dan TPA

*Sisihkan Gaji, Ikhlas Tanpa Bayaran

Jiwa sosial Kopral Tri Suharyono patut dicontoh. Anggota TNI yang bertugas di Pangkalan TNI-AU Sri Mulyono Herlambang, mendirikan TK dan TPA di Masjid Miftahul Jannah. KIKI WULANDARI

Perjuangan Kopral Tri Suharyono Mendirikan TK dan TPA
TK DAN TPA – Sejumlah anak-anak, ramai belajar mengaji di Masjid Miftahul Jannah, di lingkungan RT 6, RW 13, Kelurahan Talang Betutu, Kecamatan Sukarami, Palembang. Satu per satu guru memanggil murid untuk mengaji Iqro.
KIKI WULANDARI/SUMATERA EKSPRES

SEJUMLAH anak-anak, ramai belajar mengaji di Masjid Miftahul Jannah, di lingkungan RT 6, RW 13, Kelurahan Talang Betutu, Kecamatan Sukarami, Palembang. Satu per satu guru memanggil murid untuk mengaji iqro. Tak hanya itu, mereka juga terlihat asyik menggambar.

“Anak soleh…siap,” kata seorang guru yang disambung siswa agar duduk rapi. Setelah selesai mengaji, beberapa siswa usia 8 tahun hingga 13 tahun melakukan latihan rebana untuk persiapan pementasan di salah satu acara.

TK dan TPA itu kini sudah “hidup”, didirikan Kopral Tri Suharyono bersama tetangganya yang seorang guru, Rahmad, setahun lalu. “Waktu pindah di sini, suasana masjid tidak ada kegiatan (selain salat, red). Inilah yang menginspirasi saya mendirikan TK dan TPA, untuk menghidupkan dan memakmurkan masjid dengan kegiatan anak-anak,” tuturnya.

Untuk mencari guru mengaji, Tri dan Rahmad door to door mendatangi kediaman guru mengaji yang dikenalnya. Bersyukur dari enam guru mengaji yang didatangi, tidak menolak diminta mengajar mengaji dengan sukarela. “Di antara dari mereka, sebelumnya memang membuka belajar mengaji di rumah, ada yang di TK dan TPA lain,” bebernya.

Selesai mendapat sukarelawan guru ngaji, giliran mereka mensosialisasikan ke warga kampungnya. Mengajak anak-anak mengaji gratis di Masjid Miftahul Jannah. Sebab kehidupan ekonomi di sana memang rata-rata pas-pasan, dominan buruh bangsal batu bata dan genteng. “Makanya kami tidak memungut uang, daripada jadi pikiran orang tua untuk bayar,” ungkap ayah dari Makayasa dan Jihan.

Seiring berjalannya waktu, jumlah siswanya kian bertambah. Kini sudah sekitar 89 orang, diajar oleh tujuh guru mengaji. Termasuk istrinya Tri, Ari Widyanti SE. Mereka ikhlas mengajar, tanpa mengharapkan bayaran. Siswa yang terdaftar, juga disiapkan buku dan alat tulis.

Meski gratis, tapi Tri menyebut ada beberapa siswa yang mampu memberikan infak. “Kami tidak menetapkan besarannya, seikhlasnya siswa kalau memang mau bersedekah,” tuturnya. Untuk aktivitas di TK dan TPA itu, pria dengan hobi berpetualang ini menyisihkan uang gajinya.

Agar anak-anak tidak merasa bosan, ia pernah mengajak para siswa untuk mengunjungi ke tempat wisata Alquran raksasa di Gandus. “Kami juga yang menanggung biaya perjalanan mereka, anak-anak hanya bayar Rp5 ribu untuk mengenal tempat wisata religi,” tuturnya.

Ari Widyanti SE menambahkan, mereka tidak membatasi jumlah siswa yang ingin belajar mengaji. “Siapa yang ada kemauan untuk mengaji, silakan gabung,” ujarnya. Aktivitas TK dan TPA ini dilakukan empat kali dalam seminggu. Sebab Rabu dan Kamis, masjid digunakan ibu-ibu pengajian.

Sejak adanya TK dan TPA tidak hanya warga yang merasa terbantu, kedua anaknya juga ikut belajar mengaji. Ini juga yang menjadi alasan didirikan tempat mengaji di masjid dekat rumah. “Baru-baru pindah saya harus antar anak saya ke tempat ngaji yang lama karena di sekitar sini tidak ada tempat ngaji. Akhirnya suami punya rencana mendirikan TK dan TPA,” ucapnya bangga dengan sang suami.

Saat ini, kondisi TK dan TPA masih memiliki kekurangan. Di antaranya, kekurangan untuk sertifikasi guru, yang saat ini ada beberapa yang sudah didaftarkan. Kemudian, seragam anak santri ketika mengikuti kegiatan di luar. “Ini yang masih diperjuangkan karena baju seragam ini tidaklah murah,” tuturnya.

Rahmad sendiri, kesehariannya guru SMP Muhammadiyah 5 Kertapati Palembang. Dia sudah lama bersahabat dengan Kopral Tri, kebetulan mereka memiliki satu tujuan mulia yang sama. Ingin menghidupkan suasana Masjid Miftahul Jannah dengan sekumpulan anak-anak agar dapat belajar mengaji tanpa memikirkan biaya yang harus mereka keluarkan.

“Di sini kami memang berkeinginan yang sama untuk menghidupkan suasana masjid, namun di balik itu kita juga inginkan anak-anak tersebut dapat belajar mengaji secara gratis karena memang perekonomian warga sekitar kita ini rata-rata menengah ke bawah semua,” imbuhnya. (*/air/ce1)

Tags

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Web - Honda_Efa September 2017