Jateng News

Ribut Lagi, Pengemudi Taksi Online Disweeping

Ribut Lagi, Pengemudi Taksi Online Disweeping
DIAMANKAN – Driver Go-Car (gundul) diamankan ke Polsek Purwokerto Barat setelah kedapatan menarik penumpang di komplek stasiun Purwokerto, kemarin, (19/9).
DIMAS PRABOWO

PURWOKERTO- Gesekan yang terjadi antar taksi online dengan taksi konvensional kembali terjadi di Purwokerto. Setelah insiden pada Jumat (15/9) lalu, gesekan kembali terjadi Selasa (19/9) kemarin di sekitar Stasiun Purwokerto.

Gesekan berawal saat armada taksi online terdeteksi mengambil penumpang di kawasan stasiun. Mengetahui hal itu, para pengemudi taksi konvensional yang mangkal di stasiun mendatangi mobil Luxio hitam nopol R 9228 MH.

Karena bersikap kooperatif, pengemudi taksi online yang diketahui bernama Suhandoko warga Jakarta Utara itu dibawa ke Mapolsek Purwokerto Barat untuk mediasi. Mediasi juga dihadiri perwakilan Komunitas Stasiun, Kobata (Koperasi Banyumas Taksi) dan KPK (Koperasi Prima Karya).

Pantauan Radarmas di Mapolsek Purwokerto Barat, proses mediasi berlangsung alot dan cukup panas. Pasalnya, perwakilan Kobata menolak keras adanya taksi online di Banyumas.

Perwakilan Komunitas Stasiun, Adi menyebutkan, perselisihan antara taksi online dengan konvensional di kawasan stasiun sudah berkali-kali terjadi. Pasalnya, driver taksi online tetap nekat dan bandel memasuki zona merah yang disepakati dengan taksi konvensional.

“Tadi pengemudi taksi mengambil penumpang di sebelah barat Rumah Sakit Ananda, itu masih zona merah. Untuk menghindari keribuatan saya bawa ke mapolsek, karena banyak pengemudi taksi di sekitar stasiun yang mendatanginya,” ujar dia.

Darto salah satu pengemudi taksi Kobata menyebutkan, sebelumnya telah terjadi kesepakatan antara taksi konvensional dengan taksi online mengenai zona merah. Disepakati, bahwa zona merah adalah radius 2 kilometer dari staisun.

“Dulu pernah ada perjanjian di kabupaten, tapi belum clear. Kita tidak mengehendaki adanya taksi online di Purwokerto. Kedatangan kami ke sini (Mapolsek Purwokerto Barat,red) sebagai bentuk solidaritas,” tutur dia.

Darto menegaskan, keberadaan taksi online belum diperlukan masyarakat Banyumas. Pasalnya, Banyumas merupakan wilayah yang cukup sempit dan kehidupan malam hari juga tidak seramai kota besar.

“Aktifitas masyarakat di sini masih didominasi pada siang hari, sehingga jam-jam keramaian sangat terbatas dan belum memerlukan angkutan berbasis aplikasi online,” tegas dia.

Sementara itu, Suhandoko yang mengaku hanya singgah di Purwokerto usai mengantar keluarganya hanya iseng membuka aplikasi. Sebelumnya, dia memang berstatus driver taksi online di Jakarta.

“Saya hanya singgah usai mengantar ibu, ternyata aplikasi bisa dibuka disini dan dapat order. Akhirnya saya ambil order itu,” sebutnya.

Di hadapan perwakilan taksi konvensional, Suhandoko membacakan surat pernyataan yang dibuatnya dan ditandatangani di atas materai. Suhandoko bersumpah tidak akan melanjutkan aktifitas taksi online di Kabupaten Banyumas.

Kapolres Banyumas AKBP Azis Andriansyah SH SIK MHum melalui Kapolsek Purwokerto Barat AKP Susanto SH mengungkapkan, angkutan berbasis aplikasi atau online belum diizinkan oleh Pemda dalam hal ini Bupati Banyumas. Sehingga, operasional taksi online masuk kategori illegal.

“Berkaitan adanya perselisihan tadi sudah kami damaikan. Untuk jangka panjang, untuk mengantisipasi adanya permasalahan lagi, kami akan segera mengadakan pertemuan dengan stakeholder terkait,” ungkap dia. (mif)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *