Jateng

Sembilan Anak Dibawah Umur Diciduk Polisi

Sembilan Anak Dibawah Umur Diciduk Polisi
AMANKAN – Kasat Sabhara AKP Prastowo mengamankan langsung anak-anak dibawah umur yang sedang mengemis.
AGUS WIBOWO

LANTARAN dinilai meresahkan, dan membahayakan bagi pengguna jalan lainnya. Sembilan anak dibawah umur diciduk oleh Satuan Sabhara Polres Tegal Kota, Rabu (11/10) siang. Selain anak dibawah umur, polisi juga mengamankan tujuh anak jalanan lainnya.

”Anak-anak dibawah umur kami amankan saat sedang mengemis di sekitaran lampu merah, yang ada di Jalan Martoloyo, Alun-alun, Gili Tugel dan Pos Maya,” terang Kapolres Tegal Kota AKBP Semmy Ronny Thaaba melalui Kasat Sabhara AKP Prastowo.

Ditegaskan bahwa upaya mengamankan anak-anak dibawah umur ini, lantaran kegiatan yang mereka lakukan sangat membahayakan bagi anak-anak tersebut maupun pengguna jalan lainnya. Sebab, aksi ngemis yang mereka lakukan yakni tiduran di jalanan dibawah lampu merah.

”Coba jika mereka tertabrak motor atau mobil, siapa yang disalahkan,” urai Perwira yang memiliki ciri khas kumis tebal.

Prastowo juga menambahkan untuk 9 anak-anak dibawah umur ini, usai dilakukan pendataan langsung dikirim ke Dinas Sosial. Kemudian, untuk 7 anak remaja, langsung dikirim ke Pengadilan untuk menjalani sidang Tipiring.

”Ya, kami juga kesulitan untuk mengatasi anak-anak dibawah umur ini. Dan kami perlu instansi terkait untuk bisa sama-sama menanganinya. Sebab, jangan sampai setelah kami amankan hari ini (kemarin-red), besok atau lusa mereka datang ngemis lagi di jalan sama.

Karenanya, pihaknya juga berharap adanya wacana soal pengajuan Raperda Trantib oleh Pemkot Tegal, kepolisian juga mendukungnya. Karena tidak dipungkiri, keramaian wilayah di Kota Tegal, banyak diincar oleh mereka yang malas, untuk ngemis di sejumlah sudut lampu merah dengan berbagai modus.

“Dari hasil pendataan, sembilan anak dibawah umur yang kami amankan, rata-rata berasal dari Kabupaten Tegal dan Brebes,” tegasnya.

Sementara salah satu anak dibawah umur yang sempat diwawancara, sebut saja AA, mengaku kalau dirinya ini ke Kota Tegal sudah dua bulan yang lalu. Dia bersama dengan rekan-rekan seusinya sengaja mencari uang dengan cara mengemis.

”Alhamdulillah, uang yang saya dapat minimal Rp 40-50 ribu per hari kalau sedang sepi. Namun jika ramai, saya bisa mengantongi sekitar Rp 100 ribu lebih,” aku anak asal Bumijawa Kabupaten Tegal.

Terpisah sebelumnya Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Tegal, Budio Pradipto menjelaskan bahwa keberadaan pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) yang saat ini menjamur di wilayahnya, memang menjadi permasalahan sosial yang tidak bisa terelakkan dari sebuah Kota Metropolis.

”Ya, kami telah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Dan saat ini, Raperda tersebut sedang dibahas Panitia Khusus (Pansus) di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dan semoga bisa selesai tahun ini,” pungkasnya. (gus)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *