Jateng

Bedug Hasil Karya Orang Desa Sampai Italia

Bedug Hasil Karya Orang Desa Sampai Italia
KARYA – Khuzaemadi, Dusun Bleder Desa Ngasinan Kecamatan Grabag warga sedang membuat bedug.
DOKUMEN

Grabag- Hasil dari sentra kerajinan bedug Barokah Agung milik Khuzaemadi yang terletak di Dusun Bleder Desa Ngasinan Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, sampai saat ini masih menjadi lirikan masjid-masjid di Indonesia. Bahkan bedug hasil karyanya pun sudah merambah di sejumlah negara seperti Malaysia dan Italy.

“Sebelum tahun 2.000 bedug yang dibeli orang Italy masih 9 Juta,” ujar pemilik kerajinan bedug Barokah Agung, Khuzaemadi, saat ditemui di kediamannya, Senin (9/10).

Dikisahkannya, pada waktu itu ada seorang turis yang pergi ke hotel Losari. Namun setelah ia melihat adanya kerajinan bedug yang dipandangnya unik, ia kemudian memesannyan karena terpincut dengan nuansa seninya. Selain itu, bedug karyanya juga sudah terbang sampai di Banten, Pandeglang, semarang, Riau dan beberapa daerah di Indonesia yang lainnya.

Khuzaemadi merupakan salah satu orang yang sukses di Magelang dalam menekuni kerajinan bedug. Bedug hasil buatannya biasanya berdiameter 80 cm dan 90 cm, itu pun ada dua kategori ukir dan biasa. Untuk yang tanpa ukiran, harga penjualannya bisa mencapai 13 juta untuk satu bedug, dengan tambahan penyangga yang tidak diukir. Berbeda dengan yang ukir, karena pengerjaannya pun cukup sulit dan memakan waktu serta menambah biaya, harga yang dipatonya sekitar 17 juta. Sedangkan bedug yang sudah dikirimnya ke Riau untuk harganya mencapai 24 juta.

“Sampai saat ini bedug yang paling mahal yang dibawa ke dusun Nologaten kelurahan Bandungrejo kecamatan Ngablak. Harganya 52.500.000,” imbuhnya

Dibalik kisah suksesnya saat ini tidak menjadikannya sombong. Sebab, ada kisah pahit yang membekas dalam perjalanan hidupnya. Sebelum menekuni kegiatan ini, Khuzaemadi merupakan pebisnis sapi. Namun ia dan keluarganya ditimpa kerugian dari bisnisnya. Seluruh harta bendanya habis, yang tersisa hanyalah rumah yang ditempatinya.

“Saya juga tidak memiliki cita-cita menjadi tukang bedug. Ini tidak sengaja, tetapi menjadi jalan rezeki. Memang semua itu sudah ada yang mengatur,” ucapnya.

Awal mula membuat kerajinan bedung karena kepepet. Harta benda sudah tidak punya. Setelah bekerja ngareng, Khuzaemadi membeli kayu kantil dan kenangan yang besar diameternya mencapai 6 meter. Setelah ditebang ada orang yang memintanya untuk membuatkan bedug. Setelah ia menyelesaikan pesanannya kemudian ada yang memesan lagi. Dan kayunya pun habis dugunakan untuk membuat dua bedug.

“Alhamdulillah, dengan ketidaksengajaan ini, semuanya bisa mulai kembali. Ini ibaatnya orang sakit diobati,”jelasnya

Orang yang pertama kali menyuruh dirinya untuk membuatkan bedug yaitu Gus Tohir, putra dari Mbah Mangkli yang mengutus Salman dan Juwandi warga Canggalan. Untuk bedug yang pertama kali di buatnya itu menggunakan bahan kayu kantil dan cendana yang hidup dalam satu pohon namun berbunga dua jenis. Konon, katanya pohon tersebut angker dan sudah berusia 300an tahun lebih. Namun, Khuzzaemadi tidak mempedulikan hal tersebut. “Bedug yang pertama kali saya buat harganya janya 180.000,” ungkapnya, Beduk yang pertama kali dibuatnya tersebut pun sudah ditawar lagi oleh khuzaemadi seharga 10jt dengan ditambah 1 bedug pengganti. Namun oleh masyarakat tidak boleh. Niatnya, yang perdana dibuatnya akan di musiumkan di masjid di dusunnya. Selain untuk kenang-kenangan sejarah perjalanan pahitnya. (mgl)