Batang Featured News

Saat Pondok Modern Tazakka Inisiasi Tasyakuran HUT TNI ke-72

*Digelar Pesantren, Bupati dan Danrem Beri Apresiasi

PONDOK Modern (PM) Tazakka kembali menunjukan kelasnya dalam kerja-keras merekatkan umat dan bangsa. Selasa (10/10) malam pun menjadi sejarah, ketika acara tasyakuran HUT TNI ke-72 untuk pertama kalinya digelar kalangan non-militer, melainkan justru pesantren. Seperti apakah? Akhmad Saefudin, Batang

Saat PM Tazakka Inisiasi Tasyakuran HUT TNI ke-72
SEMANGAT – Pimpinan PM Tazakka, Habib Luthfi bin Yahya, Danrem 071/Wijayakusuma, Bupati dan Wabup Batang, Dandim melakukan salam kepalan tangan saat foto bersama.
DOK ISTIMEWA

Hebatnya, ide itu bermula dari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, salah satu Dewan Pembina Yayasan Tazakka. Tidak hanya Tazakka agar bersama masyarakat ikut ngayuh bagyo HUT TNI ke-72, tokoh tarekat kharismatik asal Pekalongan itu bahkan meminta namanya disertakan sebagai yang ikut mengundang.

Hasilnya seperti tergambar dalam suasana Selasa malam kemarin. Acara bertajuk silaturahim kebangsaan itu menjadikan Tazakka selayaknya rumah kebangsaan, di mana lebih dari 500 tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang hadir dengan komitmen yang sama, yakni demi umat dan bangsa.

“Tazakka telah mendedikasikan dirinya sebagai perekat umat, maka apapun kelompoknya masuk ke Tazakka ini harus bisa cair, guyub dan rukun, di sini kita tidak lagi membahas perbedaan golongan dan madzhab, apalagi perbedaan parpol dan profesi, tapi di sinilah tempatnya kita sebagai umat dan bangsa membicarakan masa depan Indonesia,” kata Guz Anizar Masyhadi dalam sambutannya selaku tuan rumah.

Semangat itu pula yang mendorong Tazakka mengambil inisiatif menyatukan umat dan bangsa dengan mengambil momentum HUT TNI guna merekatkan umat dan bangsa. Karena hanya persatuan yang bisa mempertahankan NKRI sehingga masih ada sampai sekarang ini. “Maka kain kebangsaan itu tidak boleh robek. Jangan sampai bernasib seperti negara lain, yang dulu besar dan disegani dunia, tetapi karena perpecahan dan perang saudara akhirnya menjadi negara gagal,” pesan Gus Nizar.

Pimpinan PM Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi MA, mengungkapkan, fenomena guyubnya tentara dan masyarakat sulit ditemukan di negara manapun. Hanya di Indonesia, kata dia, tentara dan masyarakat bisa kompak duduk bersama, ngaji bareng, kerja bakti dan gotong royong.

“Dari dulu sampai sekarang, masyarakat dan TNI selalu kompak. Insya Allah, nanti HUT Polri juga kita tasyakuri dengan suasana kebersamaan seperti ini,” ucapnya.

Dengan tingkat kemajemukan yang tinggi, lebih dari 300 etnik, 1.300 suku bangsa, dan lebih dari 700 bahasa daerah, Indonesia menurut Kiai Anang rujukan dunia soal kemampuannya merawat dan mengelola keanekaragaman.

“Jadi, dari kemampuan mengelola kemajemukan ini, kita ini imamnya dunia. Maka jagalah jangan sampai batal agar makmumnya tak bingung dan bubar. Indonesia merupakan sebuah prototype dari Islam yang rahmatan lil alamin. Islam dan nasionalisme itu satu tarikan nafas, maka jangan ada lagi yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme karena itu pembodohan,” jelas alumnus Al Azhar Kairo dan UGM itu disambut tepuk tangan yang hadir.

Bupati Batang, H Wihaji MPd, pun menyambut baik tasyakuran HUT TNI yang digagas Tazakka. Terlebih, hal itu merupakan tradisi baru yang baik, bagaimana masyarakat dan TNI bisa kompak dan bersinergi. “Saya nilai Tazakka mampu melakukan kerja-kerja besar menyatukan umat dan bangsa ini,” ujarnya.

Ditegaskan Bupati, Batang harus maju dan dikelola dengan baik. Dia juga menyampaikan hasil kerjasama Pemkab dan Undip di mana di Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, akan dibangun salah satu fakultas milik Undip. “Bandar ini ke depan kita proyeksikan menjadi kawasan pendidikan yang maju dan bertaraf nasional maupun internasional” cetusnya.

Apresiasi pun diberikan Danrem 071/Wijayakusuma, Kol Inf Suhardi. Selama karir militernya sejak 1990 silam, baru kali ini HUT TNI diselenggarakan elemen masyarakat. “Biasanya saya yang ngundang, ini malah diundang, apalagi ini oleh pesantren, luar biasa. Semoga ini bisa ditiru seluruh penjuru nusantara” ujarnya.

Kolonel Suhardi mengingatkan pesan Panglima Besar Jenderal Sudirman agar jangan menjadi penghianat bangsa dengan cara keluar dari ikatan kebangsaan, seperti halnya lidi yang terpisah dari ikatan sapu. “Sebatang lidi tidak akan berarti apa-apa tetapi sebatang sapu dapat membersihkan semuanya, kita satukan lidi-lidi bangsa untuk menjaga bangsa ini menumbuhkan kegotongroyongan yang menjadi ciri khas bangsa ini agar maju dan sejahtera” tandasnya.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam tausiahnya mengingatkan semua untuk tak sekali-kali melupakan sejarah. Dengan segala kekurangannya, Indonesia adalah adalah negara kuat, sehingga jangan sampai diobok-obok bangsa lain apalagi sampai dijual.

“Ojo ngasi kepaten obor, kelangan obor (jangan sampai obor penerang kita mati, apalagi hilang). Sebab, jika obornya mati atau hilang maka bangsa ini akan berjalan tak menentu arahnya, seperti dalam gelap gulitanya malam,” pesannya.

Habib menekankan bahwa seharusnya semua elemen bangsa ini meniru lautan, yang mempunyai jati diri tetap asin walaupun digeruduk oleh ribuan sungai dan air banjir sekalipun.

Jati diri sebagai bangsa Indonesia yang ramah, majemuk, toleran dan saling gotong royong inilah yang harus dipertahankan, tidak boleh luntur dari seluruh anak bangsa Indonesia.

“Jangan sampai TNI, Polri dan ulama dibenturkan, apalagi antar ulama sendiri diadu-domba, itulah cara menggembosi bangsa ini. Andaikata saya, misalnya, dizinkan menjadi juru bicara para pahlawan pendahulu itu, saya akan katakan: jangan kecewakan kami” pungkasnya.

Selain Bupati dan Danrem, hadir juga Wabup H Suyono MSi, Dandim Batang Letkol. Inf. Fajar Nugraha bersama para perwiranya, Dandim Pekalongan, Wakapolres Batang dan para perwira, OPD Pemkab, camat Bandar dan sejumlah kades, perwakilan Kejari, PN, serta BNN Batang.

Dari unsur tokoh agama, juga tampak Ketua FKUB Drs H Subkhi, Ketua MUI Batang KH. Abdul Faqih, Ketua PDM Batang Drs H Nasikhin MH, Ketua RMI Tegal KH. Syamsul Arifin serta para pengasuh pondok di Jateng. Ormas lain, seperti Pemuda Pancasil dan Srikandinya, Pagar Nusa Pekalongan, LBH LIndu Aji, FPI, GPK, Banser Tegal, FKPPI, GMBI, Barisan Roban, HNSI dengan tokohnya H Karbukti dan Mbah Urip, hingga perwakilan manajemen PT BPI, seperti H Ari Wibowo dan H Susilo, juga datang ke acara.(*)

Penulis: Akhmad Saefudin | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *