Nasional News

Ganja 10,6 Kilogram Diselipkan dalam Kemasan Kopi Aceh

Ganja 10,6 Kg Diselipkan dalam Kemasan Kopi Aceh
GANJA – Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah Brigjen Tri Agus Heru (kanan) di Semarang, Kamis (12/10) mengatakan ganja asal Aceh tersebut dikirim dengan menggunakan jasa PT Pos.
ANTARA/METRO TV

SEMARANG – Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah membongkar paket pengiriman ganja kering seberat 10,68 kilogram yang coba dikirimkan melalui jasa pengiriman pos.

Ganja kering itu dimasukkan ke kopi kemasan 1 kilogram. Kopi berisi ganja pun sekilas tidak terlihat isinya karena bungkusan kopi masih utuh dibungkus plastik.

Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah, Brigadir Jenderal Tri Agus Heru mengatakan, ada dua orang kurir yang ditangkap dalam temuan ganja dari Aceh itu. Mereka ditangkap tak lama setelah mengambil barang kiriman tersebut di sebuah kantor Pos di Semarang.

“Ditangkap Senin (9/10/3017) pagi, setelah keduanya mengambil paket di pos. Tim menangkap keduanya lalu dibawa ke BNNP untuk proses selanjutnya,” kata Tri Agus, dalam konferensi pers di Semarang, Kamis (12/10).

Dua orang yang ditangkap merupakan warga Jawa Timur. Mereka adalah Suriyanto dan Moh Saddam Husen. Suriyanto berperan mengambil paket ganja, sementara Husen berperan mengawasi situasi di luar kantor Pos.

Agus menerangkan, setelah ditangkap, dua orang itu mengaku suruhan dari seorang narapidana yang ditahan di Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, bernama Agus Santoso.

“Mereka berangkat dari Jawa Timur untuk ambil paket ini minggu malam naik kereta,” ujar Agus, seperti diberitakan kompas.com.

Barang bukti sebanyak 10,68 kg ganja kering itu dibungkus ke dalam paket kopi sebanyak 20 paket. Setiap paket kopi diselipi ganja kering seberat 500 gram.

Agus menambahkan, narapidana bernama Agus juga langsung diperiksa untuk mengembangkan kasus itu. Dalam penyelidikan, diketahui bahwa dua orang yang ditangkap merupakan suruhan Agus untuk mengambil paket di Semarang.

Paket kopi itu sebelumnya dikirim oleh seorang bernama Irwandi dari Lhokseumawe, Aceh. Paket dikirim ke rumah Rosdiana Ikawati di Semarang Tengah.

Namun alamat dituju yang di Semarang ternyata salon kecantikan. Pegawai salon pun menolak paket kopi yang diantarkan petugas, hingga akhirnya kembali ke kantor pos.

“Selalu dalam pengiriman paket (narkotika) gunakan alamat palsu. Lalu diberi nomor handphone. Rute seperti itu agar peredarannya supaya lancar,” tambahnya.

Ganja yang dibungkus dalam 20 paket kopi Aceh itu sendiri rencananya akan diedarkan di Bali. “Rencananya ganja ini mau dikirim lagi ke Bali atas pesanan orang lain bernama Ketut,” ungkap Tri Agus Heru.

Tri Agus mengatakan, begitu dua kurir ditangkap, petugas langsung mengembangkan perkara itu hingga menemui narapidana di Lapas Porong Sidoarjo, bernama Agus Santoso.

Dalam proses penyidikan itu, narapidana narkotika mengakui memerintahkan dua kurir untuk mengambil paket tersebut. Agus juga mengakui memesan ganja kering kepada seorang bernama Teuku Wan di Lhokseumawe, Aceh.

“Untuk Tengku Wan sedang dikoordinasikan ke BNNP setempat,” ujar Heru.

Sementara itu, Saddam Husen, salah satu kurir mengakui berangkat ke Semarang untuk mengambil paket itu. Dia berangkat pada Minggu malam dengan ongkos sendiri.

“Enggak diberi uang, tapi dijanjiin mau diberi uang. Saya ketemu Agus dulu pernah ditahan bareng di Lapas Malang,” ujar Husen.

Para kurir tersebut dijerat dengan ketentuan UU Narkotika sebagaimana dalam Pasal 114 ayat 1 dengan ancaman hukuman minimal enam tahun penjara. (kmp)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *