Jateng News

Mahasiswa Malaysia Belajar Gamelan di Waduk Penjalin

*Satu Rumpun, Ada Kesamaan Alat Musik Tradisonal

Indonesia dikenal memiliki warisan tradisi yang begitu melimpah. Namun, sebagian generasinya sudah mulai melupakannya. Justru generasi muda dari luar negeri yang lebih berminat belajar kesenian Indonesia. Misalnya yang terjadi Kecamatan Paguyangan, Brebes. TEGUH S.

Mahasiswa Malaysia Belajar Gamelan di Waduk Penjalin
BELAJAR – Mahasiswa International Islamic University College Selangor Malaysia belajar Gamelan di sanggar Ki Dalang Winduaji Suwarto.
TEGUH SUPRIYANTO/RADAR BREBES

KEUNIKAN seni tradisi sebagai warisan budaya bangsa yang kita miliki membuat sepuluh mahasiswa asal International Islamic University College Selangor Malaysia, tertarik dan datang untuk belajar memainkan gamelan.

Didampingi dosen, kesepuluh mahasiswa tersebut sengaja datang untuk berlatih alat musik tradisional tersebut kepada Ki Dalang Winduaji Suwarto, di Obyek Wisata Waduk Penjalin, Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Selasa (17/10). “Kita beri pengetahuan mengenai pengenalan nada untuk gending, termasuk cara memegang, menabuh dan juga mengenai posisi nada,” terang Ki Suwarto.

Dengan penuh antusias, para mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Infromatika ini mengikuti arahan untuk memainkan gamelan hingga menjadi satu komposisi musik. “Yang dimainkan ini adalah gending Manyar Sewu, sebagai gending untuk pemula dengan nada satu dan enam,” jelasnya.

Agar dapat lebih memahami, Ki Suwarto mengajak para peserta untuk memainkan alat musik berulang-ulang sesuai dengan komposisi nada. Tujuannya agar mereka bisa lebih merasakan dan hafal setiap karakter nada dari alat musik yang ditabuh. “Selain kita arahkan secara langsung, juga dilakukan dengan cara visual lewat menampilkan nada-nada itu di papan tulis,” terangnya.

Yona Natasha, salah seorang mahasiswa mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurut dia, Indonesia memiliki budaya dan masyarakat yang sangat majemuk. Terlebih dengan keramahan dan persahabatan yang ditunjukan. “Ada kesamaan dari beberapa alat musik tradisional Indonesia dengan Malaysia, karena kita memang satu rumpun. Di sana juga kami punya sekolah khusus, yakni Aswara, tapi dengan datang ke sini kita bertambah pengetahuan,” katanya.

Sebelumnya, rombongan mahasiswa ini diajak menonton acara tradisional Grebeg Suronan di Kabupaten Banyumas. Sementara di Winduaji, mereka disambut dengan penampilan 40 siswa SMK Maarif NU Paguyangan yang memainkan seni Calung.

Kepala SMK Maarif NU Paguyangan Mardiyanto mengapresiasi kegiatan tersebut. Selain untuk menyebarluaskan nilai-nilai dan gambaran mengenai keanekaragaman budaya Indonesia, juga merangsang apresiasi masyarakat lokal terhadap seni budaya yang mulai surut. “Mahasiswa asing saja mau datang dan belajar serta menghargai budaya yang dimiliki Indonesia, masa kita sendiri tidak,” ucapnya. (*/ism/fat)