Nasional News

Ketua DPRD Meninggal Setelah Ditusuk Istrinya Sendiri

Ketua DPRD Meninggal Setelah Ditusuk Istrinya Sendiri
KENANGAN – Foto Ketua DPRD Kolut, Musakkir saat masih hidup bersama istri.
KENDARI POS/JPG

*Diduga Akibat Sang Istri Merasa Cemburu

Kabar duka melanda keluarga besar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kolaka Utara (Kolut). Ketua DPRD Kolut, H. Musakkir Sarira menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Benyamin Guluh (RSBG) Kolaka

sekira pukul 16.45 Wita, Rabu (18/10) kemarin. Belum diketahui penyebab pasti kematiannya. Sebab, dokter dan keluarga kompak merahasiakannya. Polres setempat juga masih lakukan penyelidikan.

Namun, akhirnya misteri kematian H. Musakkir Sarira akhirnya terkuak. Berdasarkan hasil penyelidikan Polres Kolut, Ketua Dewan Perwakialan Rakyat Daerah (DPRD) Kolaka Utara (Kolut) itu meninggal karena mengalami pendarahan hebat setelah ditikam istrinya berinisial AEA di rumah jabatannya, Selasa (17/10). AEA saat ini sudah ditetapkan tersangka dan ditahan.

Kapolres Kolut, AKBP Bambang Satriawan menjelaskan, penetapan AEA sebagai tersangka usai menerima hasil otopsi jenazah Musakkir oleh tim ahli forensik pukul 06.00 Wita, Kamis (19/10) serta berdasarkan keterangan beberapa saksi. Hasil otopsi, di perut korban sebelah kanan atas menganga akibat luka tusukan benda tajam, berupa pisau buah sedalam 4,1 cm dan mengenai hatinya. Akibat luka itu, Ketua DPD PDIP Kolut itu mengalami pendarahan hebat dan kehilangan darah sebanyak 700 cc.

“Saat ini tersangka sudah ditahan. Kami ingin mendalami lebih jauh soal motif pelaku sehingga nekat membunuh suaminya,” jelasnya. Ada beberapa saksi yang dimintai keterangan soal kasus itu, yakni dua petugas Pol PP yang

berjaga di rujab Musakkir, sopir dan seorang dokter RS Djafar Harun. Termasuk sang istri yang kemudian dinaikan statusnya jadi tersangka.

Aparat telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa pisau, pakaian korban yang berlumuran darah hingga mensterilkan rujab Musakkir dengan memasangi garis polisi. Saat Kendari Pos menyambangi rujab tersebut semua terkunci rapat tanpa ada yang diperbolehkan melintas.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian pembunuhan itu, pasangan suami istri yang belum lama tiba dari ibadah haji sempat cekcok.

Sekretaris DPD I PDI-P Sultra, Litanto mengaku mendapat keterangan dari keluarga jika korban dan istrinya sering cekcok. “Memang suka cemburu buta istrinya. Almarhum terima telpon selalu dicurigai dengan perempuan lain. Peristiwa ini sangat saya sesalkan,” tuturnya seperti diberitakan kompas.com, Kamis (19/10).

Bahkan sebelum berangkat haji, lanjut Litanto, istrinya sempat meminta cerai. Namun almarhum tidak mau karena memikirkan anaknya. Ia menyesalkan kenapa istri korban harus melakukan penganiayaan hingga mengakibatkan Ketua DPD II PDI-P meregang nyawa.

“Yang jelas, kami PDI-P Sultra sangat kehilangan kader terbaik. Saya sama-sama almarhum sudah 30 tahun berkarir di PDI-P dari bawah, jadi jelas saya sangat kehilangan sahabat yang penuh dedikasi,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang kerabat almarhum yang meminta namanya dirahasiakan menuturkan, sebelum penikaman, pasangan suami istri itu sempat cekcok.

“Pas Pak Ketua mau keluar dari kamar mandi, tiba-tiba istrinya datang menusukkan pisau di perutnya Pak Ketua. Almarhum masih sadar dan istrinya bawa masuk dalam kamar dibaringkan di ranjangnya, dokter dari RSUD Jafar Harun dikontak untuk memeriksa dan disuruh bawa ke rumah sakit untuk ditangani medis,” tuturnya.

Pertengkaran keduanya sering terjadi. Bahkan, sang istri sering melakukan kekerasan terhadap suaminya. Namun almarhum tetap mempertahankan rumah tangganya karena memikirkan tiga anaknya yang masih kecil.

Insiden penikaman itu sendiri terjadi pada Selasa (17/10/2017) sekitar pukul 23.00 Wita. Korban kemudian dilarikan ke RSUD Jafar Harun, Kolaka Utara. Karena tidak ada dokter bedah, keesokan harinya sekitar pukul 08.00 Wita, almarhum dirujuk ke RSUD Kolaka untuk dioperasi.

Namun sebelum dilakukan operasi, korban menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.30 Wita.

Jenazah Musakkir diboyong pihak keluarga di kampung halamannya di Desa Maroko Kecamatan Rante Angin, Kolut. Sembari menunggu kerabat dan keluarga korban, Musakkir di SALATKAN di Masjid Nurul Hidayah. Alamrhum dilepas di rumah duka di Dusun II Maroko sekira pukul 16.27 Wita. Hanya saudara dan anak Musakkir yang hadir melayat dari anggota keluarga dan sang istri AEA tengah ditahan di Polres Kolut.

Kakak Musakkir, Haedirman Sarira secara pribadi minta agar AEA diproses dan dihukum setimpal. “saya imbau keluarga besar, jangan coba main hakim sendiri. Mari percayakan pada penegak hukum,” ucapnya sambil menghapus air matanya. Jenazah Musakkir dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Salurengko, Kolut. (jpg/kmp)