Batang Featured News

Curug Sirawe, Pesona Alam Tersembunyi di Kabupaten Batang

Curug Sirawe, Pesona Alam Tersembunyi di Kabupaten Batang
POTENSIAL – Bupati Batang melihat secara langsung Curug Sirawe yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi objek wisata andalan daerah.
M DHIA THUFAIL / RADAR PEKALONGAN

*Terbagi Tiga, Dua Curug Mengalirkan Air Panas

Jika kalian datang ke Kabupaten Batang, tak ada salahnya berkunjung ke Curug Sirawe. Curug dengan letak yang tersembunyi ini menawarkan keindahan alam yang sulit untuk ditolak. Karena pesonanya siap untuk memukau indera penglihatan kalian.

Kemolekan alamnya yang terpancar seolah olah memberi pemikat untuk dapat dinikmati oleh khalayak ramai masyarakat.

Secara Geografis, Curug Sirawe terletak di Dusun Sigempol, Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara dan dekat dengan objek wisata dataran tinggi Dieng.

Curug sirawe merupakan salah satu Curug di Kabupaten Batang yang kondisinya masih asli dan perawan. Untuk menuju ke lokasi Curug Sirawe, pengunjung masih harus berjalan menyusuri jalan setapak yang menurun menuju lembah dengan jarak sekira 1 kilometer dari pemukiman warga.

Perjalanan menuruni lembah membutuhkan waktu sekitar 60 menit. Sepanjang perjalanan yang dilalui, kalian bakal disuguhi dengan pemandangan hutan lindung dan hamparan kebun sayur di lereng bukit. Jalan setapak bekas rute pencari kayu hutan menjadi satu dari dua rute yang bisa ditempuh oleh pengunjung. Rute lainya bisa melalui jalur Dusun Sibiting masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara yang lebih mudah.

Penat dan lelah sepanjang perjalanan akan terbayarkan, manakala terdengar suara gemuruh air yang luruh menghujam bebatuan yang artinya perjalanan telah sampai.

Menurut Kepala Dusun (Kadus) Sigempol, Tutur Sumadi, konon cerita orang tua dulu, batu batu yang ada di sekitar Curug Sirawe menjadi bahan pembangunan candi candi yang ada di dataran tinggi Dieng. Sedangkan penamaan Curug Sirawe sendiri diambil dari asal kata rawe yang artinya banyak suwiran atau seperti kain yang terdapat roncenya. Itulah mengapa Curug Sirawe terbagi menjadi tiga Curug lainya.

Sementara, dua Curug berukuran lebih kecil berada diatas dan satu Curug berukuran lebih besar berada di dasar lembah. Yang unik, dua Curug diatas merupakan Curug air panas yang bersuhu lumayan tinggi dan satu Curug dibawahnya mempunyai suhu air sangat dingin. Ketinggian Curug Sirawe sendiri mencapai 118 meter.

Sebelumnya, Curug Sirawe hanya dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan mandi oleh para pencari kayu atau pencari madu hutan. Namun sejak keberadaanya menarik minat para petualang di alam bebas, warga dan pemuda setempat berkeinginan untuk mengelolanya sebagi objek wisata baru yang dapat meningkatkan nilai tambah atau ekonomi warga.

Untuk itu, warga berharap agar pemerintah daerah maupun badan usaha milik negara (BUMN) atau perusahaan swasta mau membantu melalui program corporate sosial responbilty (CSR).

Keinginan warga Dusun Sigempol untuk mewujudkan impian mengelola Curug Sirawe menjadi wisata andalan di wilayah perbatasan melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis) mendapatkan respon positif dari Bupati Batang, Wihaji. Orang nomor satu di Pemkab Batang itu belum lama ini melakukan kunjungan ke Curug Sirawe pada Minggu (22/10).

“Saya meyakini, dengan penataan yang bagus dan pengelolaan yang baik, Curug Sirawe akan menjadi salah satu objek wisata Curug andalan yang akan mendukung Batang sebagai kota seribu Curug. Serta dapat disinkronkan dengan program Batang Visit Years 2022 dengan tagline Batang sebagai Heaven Of Asia,” ucap Wihaji.

Namun demikian, Wihaji tidak menginginkan Curug Sirawe diekplorasi atau dikomersilkan sedemikian rupa, dengan mengharap bantuan investor tanpa ada keterlibatan pengelolaan langsung dari warga.

Wihaji berencana melakukan penataan tanpa melibatkan investor, namun justru melakukan penguatan pengelolaan murni dari warga yang anggaranya disiapkan melalui program CSR. Kemudian CSR itu nantinya akan dikelola oleh Pemda, yang hasil sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. (fel)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo