Batang Featured News

Uniknya Tradisi Al Ta’allum al Muwajjah di Pondok Modern Tazakka

Uniknya Tradisi Al Taallum al Muwajjah di PM Tazakka
SERIUS – Para santri tengah serius mematangkan materi pelajaran yang dirasa kurang di hadapan wali kelasnya. Meski serius, suasana hangat justru terbangun dari tradisi muwajjah tersebut.
DOK ISTIMEWA

*Hangatkan Hubungan, Guru dan Murid Seperti Ayah-Anak

Pendidikan yang humanis memaknai posisi guru dan murid tak sebatas hubungan subyek-obyek. Sebuah proses pembelajaran yang berlangsung karenanya harus memberi ruang bagi kehangatan dan partisipasi. Tradisi itulah yang sejauh ini tengah dibangun di Pondok Modern Tazakka melalui model yang disebut al ta’allum al muwajjah.

Istilah itu menunjuk pada aktivitas belajar malam terbimbing bersama wali kelas masing-masing. Kegiatan itu menjadi pemandangan rutin di Tazakka, yakni di setiap ba’da isya atau sekitar pukul 19.45 sampai dengan 21.30 WIB.

Sunnah Muwajjah biasanya secara seremonial dibuka oleh Direktur KMI selepas isya, di hadapan seluruh santri dan guru. Maka sejak malam itu, seluruh santri dan guru praktis melakukan muwajjah pada malam-malam berikutnya. “Biasanya, masing-masing kelas akan memilik lokasi sendiri yang dirasa nyaman,” tutur Direktur Kulliyyatu-l-Mu’alliminal Islamiyyah (KMI) PM Tazakka, Ustadz M Bisri SHI MSi, Selasa (24/10).

Sebagai catatan, terang dia, muwajjah tidak sekadar belajar bersama. Tetapi lebih dari itu, kegiatan itu juga menjadi ruang kehangatan antara guru dengan murid-muridnya. Sebab para santri ibarat anak bagi setiap guru wali kelas. Relasi yang terbangun pun karenanya semisal bapak dengan anak, bukan lagi guru murid dalam pengertian sekolah formal.

“Tidak jarang, sang guru menyiapkan sendiri minuman susu ataupun snack untuk dinikmati bersama usai muwajjah. Uangnya juga dari kantong guru sendiri,” ucap Bisri.

Aktivitas para guru juga dipantau langsung Direktur KMI bersama Direktur dan staf-stafnya. Mereka akan keliling ke seluruh sudut pondok untuk memastikan bahwa dinamika muwajjah berlangsung dengan baik.

Sebagai ritual mendidik, riuh rendahnya aktivitas muwajjah juga tak lepas dari ketauladanan sang kiai selaku pimpinan pondok. Bukan rahasia kalau pada jam yang sama, kian pun menerima pasowanan dari para guru yang bertugas di pos-pos atau bagian-bagian pondok untuk melaporkan progres tugas ataupun sekadar meminta arahan.

“Bahkan, Pak Kiai tak jarang turun tangan langsung membimbing kelas enam, mematangkan materi pelajaran yang dianggap cukup rumit, mengisi kursus jurnalistik dan wawasan media, atau memberi pengarahan pada pengurus teras OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern),” terang Bisri.

Saat muwajjah berlangsung, masing-masing memang sibuk dan serius, tetapi asyik. Alih-alih gaduh, keriuhan itu justru terasa ritmis, terutama saat mendengarkan asyik masyuknya anak-anak berujuang keras menghafal ayat, hadits atau mahfudzat.

“Lalu, kapan para guru beristirahat, kalau siang dan malam sama padat? Jawabannya adalah ar-roohatu fi tabaadulil a’mal, bahwa istirahat adalah pergantian pekerjaan dan itulah falsafah yang kami anut di pondok,” pungkasnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *