Jateng News

Pemuda Desa Ubah Kotoran Sapi Jadi Gas, LPG Tak Laku

Pemuda Desa Ubah Kotoran Sapi Jadi Gas, LPG Tak Laku
MEMASAK – Warga desa memasak menggunakan biogas yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah kotoran sapi.
DETIK

Boyolali – Lethong sapi bagi sebagian orang mungkin menjijikan. Namun, limbah kotoran sapi tersebut menyimpan sejumlah manfaat.

Limbah kotoran sapi, tak hanya bisa digunakan sebagai pupuk organik atau yang biasa disebut pupuk kandang. Melalui teknologi biogas, lethong sapi bisa diubah menjadi energi gas yang dapat digunakan untuk memasak.

Lethong sapi diproses sebagai sumber energi menggantikan gas LPG maupun kayu bakar untuk memasak. Bahkan, juga bisa untuk lampu penerangan.

Pemuda Desa Sruni Ubah Kotoran Sapi Jadi Gas, LPG Tak Laku

Sejumlah pemuda di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali menginisiasi membentuk kelompok tani, yang mereka beri nama Kelompok Tani Agni Mandiri pada 2014 lalu. Tujuannya untuk mencari kesejahteraan bersama dengan pemanfaatan potensi lokal yang ada di desanya.

“Awalnya, anggotanya hanya 12 orang, sekarang sudah 54 orang,” kata Setyo, ketua Kelompok Tani Agni Mandiri, seperti diberitakand detikcom, Jumat (27/10).

Selain pertanian, hampir setiap rumah tangga warga di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, memiliki ternak sapi dengan jumlah bervariasi. Sudah sejak lama, masyarakat di lereng Merapi sisi timur ini beternak sapi. Sebagian besar sapi perah.

Biasanya, masyarakat memanfaatkan lethong tersebut sebagai pupuk organik untuk memupuk tanaman pertaniannya. Bahkan, pupuk kandang ini tetap menjadi pupuk wajib selain pupuk kimia. Di awal menanam, masyarakat selalu menggunakan pupuk kandang dari limbah kotoran sapi ini untuk memupuk.

Namun, lethong tak hanya bisa menjadi pupuk kandang saja. Melalui teknologi biogas, lethong sapi bisa menjadi sumber energi untuk memasak dan lampu penerangan. Limbah dari biogas atau slurry, juga masih bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

“Untuk membuat biogas tidak dibutuhkan ternak sapi yang banyak. Punya satu ekor saja sebenarnya bisa. Hanya untuk memenuhi tangki biogas diawal-awal membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi kalau sudah penuh, setiap hari kotoran sapi bisa langsung dimasukkan ke tangki biogas dan sudah bisa digunakan untuk memasak,” ujar Setyo.

Namun hal itu juga berpengaruh pada penggunaannya. Karena dengan ukuran tangki yang kecil, tentu gas yang dihasilkan juga lebih sedikit.

Di Desa Sruni, hingga saat ini sudah ada 116 warga yang memiliki biogas. Seluruh anggota Kelompok tani Agni Mandiri sudah memiliki biogas. Mereka pun kini memasak lebih banyak menggunakan biogas.

“Sudah tidak perlu gas LPG lagi maupun kayu bakar. Untuk memasak, cukup dengan gas dari kotoran sapi ini,” Asriyah, warga Dukuh Sruni, Desa Sruni.

Dengan kondisi ini, tentu sangat membantu kebutuhan dapur rumah tangga, khususnya untuk pembelian bahan bakar memasak menjadi semakin ngirit. Meski demikian, warga tetap sedia gas LPG, sebagai jaga-jaga jika biogas tiba-tiba habis saat digunakan untuk memasak.

Atas keberhasilan menggerakkan masyarakat anggotanya memanfaatkan kotoran sapi menjadi energi alternatif melalui teknologi biogas, kelompok tani Agni Mandiri berhasil memperoleh penghargaan sebagai juara I Lomba Desa Mandiri Energi Tingkat Provinsi Jateng tahun 2016 lalu. Selain itu, juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Kampung Pro Iklim Utama tingkat nasional.

“Untuk Desa Mandiri Energi ini persiapan maju tingkat nasional, sedangkan sebagai Kampung Pro Iklim juga persiapan menjadi Kampung Pro Iklim Lestari, dimana syaratnya harus menciptakan 10 embrio kampung pro iklim baru di lokasi berbeda,” imbuh Setyo. (dtk)

Tags

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *