Featured Metro News

Perjalanan Bromo, dari Pekalongan Via Angkutan Umum

*Satu Tempat Beribu Cerita Menarik (2/HABIS)

Keindahan matahari terbit, lengkap dengan panorama alam gunung Batok-Bromo-Semeru, hingga kemurnian padang savana bukit teletubies bak lukisan. Eksotisme pasir berisik dan mendaki gunung aktif dengan seribu cerita budaya menjadi bagian dari keindahan Bromo. Seperti apa? M FURQON FS, BROMO JAWA TIMUR

Perjalanan Bromo, dari Pekalongan Via Angkutan Umum
MENAKJUBKAN – Pemandangan kawah aktif gunung Bromo Jawa Tmur.
M FURQON FIRMAN SYAH / RADAR PEKALONGAN

Kesan pertama berdiri di atas puncak gunung berapi aktif, Bromo, agak ngeri dengan kawah aktif yang setiap kali bisa saja bangun lagi, tapi Bromo lebih banyak keseruannya, menyenangkan penuh pengalaman baru, dan takjub pastinya.

Mendaki gunung yang diapit Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang dengan ketinggian 2.329 mdpl tersebut, mungkin tak selelah gunung besar lainnya. Tapi rasanya tak seorangpun mampu menyangkal keindahan alamnya. Tak sedikit pula wisata paruh baya yang turut penasaran mencicipi panoramanya. Lokal dan mancanegara kelihatan sama banyaknya. Menikmati budaya dan kearifan lokal mampu membuat wisatawan werasa di kampung halaman. Rasanya tak hanya keindahan Bromo menawarkan serpihan pesona Indonesia tak bisa dipungkiri wisatawan yang menengok padanya.

Mulai dari spot Penanjakan. Dari sini, pelancong disuguhkan maha karya Sang Pencipta, panorama alam pegunungan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Batok, Bromo dan The Big One Semeru menjadi landscape mata sejauh mata memandang. Di bawah gunung Bromo dan Batok terdapat padang pasir yang luas yang lautan pasir tersebut kembali diapit tebing-tebing pegunungan yang berdiri menampakkan eksotisme alam.

Mengalihkan pemandangan ke sebrang kiri, matahari terbit Jawa Timur seakan menghipnotis mengalahkan rasa dingin yang memeluk sekujur tubuh. Kamera, tripot, perekam video, menjadi aksesoris yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Masing-masing berlomba menangkap kenangan di tempat yang masih di wilayah Cemoro Lawang. Rasanya hanya penjual kopi dan beberapa makanan ringan yang tak mengabadikan moment kemunculannya. “Kopi-kopi-kopi. Kopi mas, kopi mister, non, madam,” sahut si tukang kopi memecah subuh Penanjakan waktu itu.

Keindahan Penanjakan membuat rasa penasaran akan Bromo dari dekat semakin memuncak. Menuruni bukit menuju padang savana menggunakan Jeep Hardtop, kuda, atau kendaraan lainnya. Semakin dekat dengan Bromo, kepulan debu pasir oleh roda-roda Hardtop menghiasi perjalanan menuju 3 spot lainnya. Kali ini fokus ke savana, meski rasanya tak sabar mendaki Bromo yang sudah dipelupuk mata namun spot savana dan pasir berisik menjadi prioritas utama. Setidaknya itulah rekomendasi utama pengemudi dibalik setir hardtop merah dengan roda kekar, Joko sebutannya.

“Kalau ke puncak dulu nanti capek jadi gak maksimal ke savananya, kalau siang juga tidak sebagus pagi. Kalau di puncak sekarang atau nanti sama saja,” paparnya, meredam haus akan selfie para penumpang. Hardtop sendiri bisa disewa maksimal 6 orang dengan biaya rata-rata Rp500.000 sampai Rp650.000 tergantung penawaran. Tentunya harga bisa berbeda saat waktu libur atau akhir pekan.

Sampai di padang savana dan bukit teletubis puluhan hardtop lain sudah berjajar di sana. Menunggu penumpangnya puas abadikan alam sekitar. Bak lukisan, pemandangan indah ada di depan mata. Lalu layang yang datang dan pergi seakan tak ada habisnya. Lika-liku bukit dan akar pegunungan semakin jelas di sini. Semakin indah, padang bunga liar menebarkan pesonanya. “Jika musim tertentu, jauh lebih indah. Bunganya mekar dan rimbun,” terang Pak Joko di sela perjalanan.

Menuju ke Puncak Bromo, sudah begitu jelas gunung aktif tersebut ada di depan mata. Bahkan asap dari nafasnya seakan semakin menggoda. Tapi perjalanan harus kembali terhenti. Kali ini di spot ke 3. Pasir berbisik namanya. Seperti lautan pasir yang luas, fenomena pasir berbisik sebenarnya muncul ketika angin bertiup, butiran-butiran pasir bertebangan dan terdengar seperti bisikan yang sampai ke telinga setiap orang yang melewatinya. Bentuknya juga bergelombang menyerupai ombak-ombak kecil.

Pasir berbisik menjadi salah satu spot yang tak boleh terlewatkan saat berkunjung ke Bromo. Tidak jauh dari lokasi yang juga sering diambil kebutuhan shutting film, kini spot ke empat, puncak Bromo menanti. Bagi yang tak kuat mendaki, fasilitas kuda wisata banyak ditawarkan di sana sewanya pun beragam, mulai puluhan hingga ratusan ribu tergantung jarak kesepakatan perjalanan. Jalan setapak yang terjal menjadi separuh perjalanan menuju puncak, setengahnya sudah berbentuk tangga dengan jalur naik dan turun sehingga membuat pejalan lebih teratur. Jika tepat di bulan kasada, pemandangan perjalanan lebih menakjubkan di pagi buta. Kaki menitih tangga ke puncak dengan hasil bumi sebagai sesajian persembahan untuk dimasukkan dari bibir kawah.

Sampai di puncak gemuruh kawah gunung berapi yang aktif semakin kentara. Menggelegar bak kompor raksasa. Menakjubkan, kawah aktif menjadi pemandangan eksotis para pelancong. Dan pastinya memandang dari puncak Bromo semakin menakjubkan di bawah sana. Termasuk dengan pura, gunung-gunung, padang pasir dan kesibukan hardtop dan kuda yang menemani pelancong menikmati Keindahannya.

Banyak pilihan transportasi yang bisa digunakan untuk menuju ke Bromo. Selain kendaraan pribadi bagi traveler yang doyan backpakeran bisa memilih angkutan umum sebagai salah satu pilihannya. Memulai perjalanan dari Kota Pekalongan untuk menuju ke Bromo alternatif pilihan bisa menggunakan transportasi darat berupa kereta api mulai dari stasiun Kota Pekalongan dengan tujuan akhir Kota Malang.

Sebenarnya selain dari Malang menuju ke Bromo bisa dilakukan dari Kota Surabaya atau pun Pasuruan. Namun Malang merupakan kota terdekat dan jalur transportasi umum untuk menuju ke bromo lebih umun digunakan traveler. Kereta api sendiri dipilih karena merupakan salah satu tansportasi yang cukup efisien dengan pilihan harga yang lebih variatif. Di mulai dari Kota Pekalongan pilihan perjalanan jika ingin lebih efisien dalam biaya perjalanan bisa memilih kereta Matarmaja kelas Ekonomi dengan biaya Rp109.000 per orang total perjalanan memakan waktu lebih kurangnya 11 jam dari pukul 20.36 sampai 07.51.

Sangat disarankan untuk melakukan pemesanan jauh hari untuk menghindarkan dari kehabisan tiket. Namun pilihan lain bisa menjadi alternatif perjalanan seperti kereta Jayabaya Rp220.000 dan Rp260.000 per orang mulai pukul 18.12 sampai 02.42 memakan waktu tempuh lebih kurang 8 jam 30 menit dan kereta Majapahit dengan harga yang sama yakni Rp220.000 dan Rp260.000 per orang mulai pukul 23.15 sampai 10.105 memakan waktu tempuh lebih kurang 10 jam 50 menit.

Setiba di Stasiun Kota Malang, perjalanan bisa dilanjutkan menuju terminal Arjosari. Banyak pilihan kendaraan untuk menuju ke sana. Agar lebih hemat cari angkutan umum berwarna biru seri AL. Alternatif lain bisa mencari angkutan umum seri ADL/GH/HA/AMG diusahakan terdapat huruf, huruf A kode tujuan perjalanannya. Huruf A menandakan bahwa angkutan itu akan ke Arjosari. Tarif angkutan ini Rp5.000 per orang dengan waktu perjalanan lebih kurangnya setengah jam. Sekadar tips, jika keluar stasiun diupayakan jangan menampakkan wajah bingung, seakan pernah dan tahu akan Kota yang terkenal akan apelnya tersebut. Jalan santai kalau perlu tegak dan gagah. Jika sebaliknya bukan tidak mungkin biaya perjalanan akan lebih mahal dengan menjadi santapan supir taksi tanpa agro atau calo lainnya. Bagi yang kelaparan selama perjalanan tidak perlu risau. Tidak jauh dari stasiun terdapat kedai-kedai makan seperti bakso malang, rawon, nasi yang bisa menjadi pilihan untuk mengganjal perut.

Setelah sampai di terminal Arjoni, Malang rute perjalana tinggal menuju ke Probolinggo dan Cemoro Lawang sebagai tujuan akhirnya. Menuju terminal Bayuangga, Probolinggo dapat di tempuh dengan menggunakan bus AKAS dan LADJU jurusan Probolinggo/ Jember/ Banyuwangi dengan pilihan kelas ekonomi atau patas. Untuk biaya perjalanan bus ekonomi Rp20.000 sedangkan patas AC Rp30.000. Tergantung selera ingin memilih kelas yang mana. Jika lancar, perjalanan menuju Terminal Bayuangga, Probolinggo hanya membutuhkan waktu tempuh 2-3 jam.

Sampai di terminal Bayuangga Probolinggo, berjalan ke sisi kanan Terminal perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan umum berupa elf (jadi elf bukan di dalam terminal melainkan parkir di luar stasiun). Untuk bisa ke Cemoro Lawang angkutan elf tersebut harus memuat 15 sampai 16 orang pas dengan dibebani biaya perjalanan Rp35.000 per orang. Waktu tunggu sangat tidak menentu tergantung ada atau tidaknya traveller lain yang juga akan menuju ke Cemoro Lawang. Sekadar info, jika angkutan ini belum terisi penuh makan perjalanan tidak akan dilakukan dan harus menanti sampai kuota penuh. Terkecuali jika ingin cepat jalan bisa beberapa penumpang yang ada bisa patungan (iuran) biaya yang perperjalanan minimal Rp525.000 untuk sekali jalan. Ataupun bila memang harus menunggu tidak perlu risau, di sana terdapat banyak menu-menu yang siap kembali mengganjal perut untuk mengisi energi yang sudah terkuras selama di perjalanan.

Cemoro Lawang merupakan desa terdekat dengan Bromo yang merupakan tujuan akhir sebelum benar-benar menikmati obyek wisata yang ada di Bromo seperti Penanjakan, pasir Berbisik, padang savana dan puncak Bromo tentunya. Di Cemoro Lawang sendiri banyak sekali yang menyediakan berbagai tipe penginapan seperti Hotel, Home stay, dan juga villa. harga yang ditawarkan sendiri beragam, mulai dari Rp150.00an per kamar. Tentunya lebih bagus fasilitas yang ada pastinya lebih mahal harga yang ditawarkan.

Untuk menuju ke objek-objek wisata Bromo masih perlu melakukan perjalanan menuju ke spot-spot tersebut. Bisa memilih menggunakan Jeep Hardtop yang mermang menjadi tren di wisata tersebut, ojek, berkuda (jasa tarik kuda), atau mungkin berjalan kaki bila memang ingin menikmati lebih dalam setiap perjalanannya. Fokus ke jeep hardtop, biaya yang ditawarkan umunya Rp450.000 sampai Rp650.000 tergantung jumlah penumpang dan jumlah spot yang ditawarkan. Sekedar info, jika melakukan boking berdua dan rombongan konsekuensi biaya perjalanan bisa beda. itupun tergantung jumlah spot yang akan dipilih yang umumnya ada dua pilihan, yakni dua spot wisata dan 4 spot wisata yang terdiri penanjakan, pasir berbisik, padang savana, dan puncak Bromo.

Dekat area menuju kawah gunung Bromo tepatnya di area parkir Jeep, jasa antar menuju ke kawah dengan kuda banyak ditawarkan di sana. Sebenarnya akan sangat membantu dengan perjalanan yang cukup jauh, panas dan berdebu. Belum lagi 250 anak tangga menanti tepat sebelum puncak. Namun traveller harus pintar-pintar menawar, penawaran akan sangat unik tergantung dari jarak mana mulai menaiki kuda. Saat berada di dalam jeep, setelah turun dari jeep dan mulai berjalan menuju ke kawah, juga di tengah perjalanan bahkan jasa antar turun ke parkiran lagi ditawarkan dengan biaya yang berbeda. Umumnya harga sendiri ditawarkan Rp150.000 per kuda.

Perjalanan selanjutnya adalah menaiki 250 anak tangga yang menakjubkan. bagi yang jarang olahraga dan meulai perjalanan dari bawah, tentu perjalanan akan lebih berat dari pada mereka yang sebelumnya erkuda. Namun pemandangan yang menakjubkan serta banyaknya turis baik lokal maupun mancanegara, muda hingga tua bisa ikut memotivasi diri untuk sampai di puncak. Di perjalanan suara gemuruh sudah riuh bising berbisik sampai ke dalam telinga. “Menakjubkan,” seakan kata itulah yang pertama bergema saat sampai ke puncak. Tidak hanya pemandangan kawah dengan beragam sisa tengkorak hewan sesembahan upacara kasada. tekstur dan suara kawah yang tak terdengar di kota-kota metropolitan dan eksotisme pemandangan alamnya rasanya mampu memukau mereka yang datang. Makanya tak jarang turis mancanegara yang memilih menjadikan Bromo salah satu destinasi wisatanya. Bagaimana mau mencoba? (*)

Penulis: M Furqon Firman Syah | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin