Jateng News

Kapolda Jateng Ajak Santri jadi Polisi

Kapolda Ajak Santri jadi Polisi
TA’DZHIM – Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono mencium tangan KH Maimoen Zubair usai memberikan hadiah Alquran di Ponpes Al Anwar kemarin.
KHOLID HAZMI/RADAR KUDUS

REMBANG – Kapolda Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Condro Kirono membuka peluang bagi santri yang ingin menjadi anggota Polri. Upaya pemberian pelatihan bagi santri akan dilakukan agar siap menghadapi tes penerimaan. Terutama, tes kesehatan dan fisik.

Hal itu diungkapkan kapolda saat berkunjung ke Ponpes Al Anwar, Kecamatan Sarang, kemarin (27/10). Kesempatan terbuka itu, terutama bagi santri yang hafal Alquran. Sebab, santri tersebut mempunyai nilai tambah.

Di penerimaan anggota Polri tahun ini, kapolda mengungkapkan, sudah ada santri yang mendaftar. “Tapi, masih lemah di kesehatan dan fisiknya. Makanya nanti kami akan beri pelatihan agar santri bisa menyiapkan diri baik itu kesehatan maupun fisiknya,” paparnya.

Kapolda saat tiba di ponpes yang diasuh KH Maimoen Zubair sekitar pukul 10.00, Irjen Pol Condro Kirono disambut dengan marching band. Kapolda berangkat dari Semarang menggunakan helikopter dan mendarat di Lapangan Desa Kalipang, Kecamatan Sarang. Dari lokasi pendaratan, kapolda melanjutkan perjalanan ke Ponpes Al Anwar menggunakan mobil.

Kapolda disambut KH Maimoen Zubair dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Rembang. Kapolda langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Bersebelahan dengan KH Maimoen Zubair.

Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Korlantas Polri ini menyadari fenomena aliran Islam radikal saat ini perlu diwaspadai. Mereka menganggap seolah-olah ajarannya sendiri itu benar. Jika ada orang yang tak sejalan dengan ajarannya, maka dibunuh.

Oleh karena itu, perlu penguatan bangsa. Salah satunya lewat organisasi Islam. Contohnya, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. “Perlu kami beri penguatan terus. Organisasi Islam diperkuat. Agar bisa menentang upaya-upaya kelompok radikal,” jelasnya.

Selain itu, pendekatan berbasis budaya juga bisa membuat situasi negara menjadi kondusif. Seperti yang dilakukan oleh Walisongo ketika menyebarkan Islam di Jawa. Menurutnya, agama dan negara merupakan satu kesatuan.

Agama sebagai landasan dan negara yang memelihara. Kalau dalam negara tak ada agama, akan roboh. Begitu pula ketika agama tak ada yang merawat, akan hilang perlahan-lahan. “Penyebaran Islam zaman wali-wali itu dengan sopan lewat budaya. Makanya, Islam di Indonesia itu adem. Ini perlu digaungkan bahkan sampai ke luar negeri agar rahmatan lil alamin,” ungkap kapolda. (lid)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *