Kajen News

Sejumlah Sekolah Rawan Bencana

Longsor Lebakbarang
RAWAN – Memasuki musim penghujan, akses jalan menuju Desa Sidomulyo, Kecamatan Lebakbarang, rawan bencana tanah longsor.
TRIYONO

Di Dataran Tinggi, Saat Hujan

Memasuki musim penghujan, sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang terletak di daerah pegunungan Kota Santri rawan bencana longsor. Wilayah tersebut seperti di Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

Selain bangunan fisik sekolah yang rawan terkena bencana alam karena berada di lereng perbukitan, para pelajar dan guru yang mengajar pun dihantui ancaman serupa. Sebab, akses jalan menuju ke sekolahan juga rawan bencana alam longsor dan pohon tumbang.

Hal itu dibenarkan Kepala UPT Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang, Mashudi Saan. Kata dia, beberapa sekolah di daerah pegunungan yang lokasi berada di lereng perbukitan rawan bencana tanah longsor. Selain itu, akses jalan menuju ke sekolahan rawan bencana tanah longsor dan pohon tumbang, sebab melintasi medan yang sulit dan berada di tengah hutan.

Mashudi menyebutkan, sedikitnya ada tujuh sekolah dasar (SD) di Kecamatan Lebakbarang berada di daerah rawan bencana alam. Sedangkan di Kecamatan Petungkriyono ada enam SD yang rawan bencana alam. Beberapa SD di Petungkriyono yang berada di lokasi rawan bencana alam di antaranya SD Tlogopakis 4, SD Songgowedi 3, SD Curugmuncar, SD Songgowedi 1, dan SD Tlogohendro 3.

“Untuk bangunan sekolah memang sebagian besar berada di lereng perbukitan, sehingga rawan bencana tanah longsor,” terang dia.

Ditegaskannya, bukan sekadar bangunan sekolah saja yang terancam bencana alam. Akses menuju ke sekolahan juga melalui medan berbahaya dan rawan bencana alam, terutama tebing jalan longsor dan pohon tumbang. Menurutnya, jika hujan disertai angin kencang, banyak tebing di kanan-kiri jalan menuju ke lokasi sekolahan longsor, dan pohon-pohon besar di tepi jalan roboh.

“Kami selalu mengimbau kepada guru dan pelajar untuk lebih waspada dan berhati-hati, terutama saat hujan deras disertai angin kencang. Apalagi, 80 persen guru yang mengajar di wilayah pegunungan ini kan laju dari bawah,” ujar Mashudi.

Meskipun berada di daerah rawan bencana, kata dia, tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk berangkat ke sekolah, dan para guru untuk mengajar di wilayah atas tersebut.

“Memang terkadang ada hambatan. Misalnya, akses jalan tertutup akibat pohon tumbang atau tebing jalan longsor menutupi jalan. Namun, mereka sekuat tenaga untuk tetap datang ke sekolah. Bahkan, tidak sedikit yang membopong motornya agar melalui akses jalan yang tertutup tadi,” imbuhnya. (yon)

Penulis: Triyono & Redaktur: Widodo Lukito