Batang

Muncul Desakan Penutupan Lokalisasi Boyongsari

Selebaran Boyongsari
SELEBARAN – Kertas selebaran yang bertuliskan ‘Berantas miras dan prostitusi di boyongsari Batang’.
M Dhia Thufail

Sebar Selebaran hingga SMS ke Bupati

Oknum warga di Batang, Jum’at (27/10) siang menyebarkan selebaran kertas bertuliskan ’Berantas miras dan prostitusi di Boyongsari Batang’. Hal itu sempat menggegerkan warga dan pemerintah daerah setempat.

Pasalnya, ratusan selebaran kertas itu disebar disepanjang jalan dan di depan kantor kantor instansi pemerintahan Kabupaten Batang. Seperti kantor Satpol PP dan Kepolisian Resor Batang. Ditambah juga disebar di depan kantor Kesekretariatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Batang.

“Saya lihat disebar oleh dua pelaku yang berboncengan menggunakan sepeda motor. Berpakaian preman dan bercelanakan dorang, entah ormas atau instansi pemerintahan. Karena saya hanya melihat sekelibat saja, sangat kencang,” ungkap Udin, salah satu saksi mata.

Selebaran dengan tinta warna merah berlatar belakang putih tersebut berisikan ‘Berantas Prostitusi & Miras di Boyongsari Batang, berikutnya ada gambar Miras yang dicoret dan pojok bawah ada keterangan selebaran ke 2’. Hal itu membuat pengendara yang lewat tertarik untuk membaca dan mengambil selebaran tersebut.

Saat dimintai keterangan, Bupati Batang, H Wihaji mengatakan, bahwa pihaknya baru tahu ada selebaran tersebut setelah awak media memperlihatkan kepadanya. Namun sebelumnya, dikatakan Wihaji, ia telah terlebih dahulu menerima beberapa laporan melalui pesan singkat SMS yang berisikan sama.

“Sebelum ada selebaran ini, sudah ada beberapa SMS dan WA yang masuk ke saya. Terkait pembubaran Boyongsari. Seperti kalimat SMS ‘Terimakasih atas pembiyaran lokalisasi Boyongsari’. Namun langsung saya jawab terimakasih, dan akan saya tindaklanjuti dengan menurunkan personil Satpol PP Batang selaku penegak Perda ke lapangan,” ungkap Wihaji.

Atas hal tersebut Bupati tegaskan akan segera melakukan tindakan, terutama menyangkut Boyongsari yang jelas memang melanggar peraturan. Namun seperti apa tindakan yang akan dilakukan oleh Bupati, dirinya masih belum menjelaskan dengan detail.

“Saya tegaskan, ini bukan bentuk pembiaran. Kami sedang mencari penyelesaian yang komprehensif dan tidak sporadis. Karena mengingat, ini Pantura dan problemnya agak kompleks. Yang jelas, kami akan segera bertindak, seperti apa tindakan tersebut, kami belum bisa ungkap sekarang,” bebernya.

Karena menurut Bupati, menutup sebuah lokalisasi butuh rencana yang matang dan komplek. Karena banyak hal yang harus dipikirkan, termasuk solusi selanjutnya. Serta antisipasi jika ada gerakan lain yang justru semakin membahayakan.

Sementara, Kasatpol PP Kabupaten Batang, Suresmi, membenarkan bahwa di wilayah Boyongsari memang terdapat praktek prostitusi dan penjualan miras. Sebab, dari beberapa kali tindakan operasi pekat yang rutin ia gelar, pihaknya selalu berhasil menjaring sejumlah PSK dan miras.

“Kami sudah sering menggelar razia di Boyongsari. Kita razia para pekerja seks dan miras yang diperjual belikan disana. Kemudian kami bawa ke kantor untuk dilakukan pembinaan dan bahkan sudah ada delapan pekerja yang kami kirim ke panti rehabilitasi wanita Kementerian Sosial di Kota Solo,” terangnya.

Menanggapi selebaran itu, Suresmi mengatakan tetap akan melakukan tindakan tegas bersama anggotanya untuk menggelar operasi rutin kembali. Namun Suresmi mengatakan bahwa pihaknya belum bisa melakukan tahap penutupan lokalisasi tersebut.

“Untuk langkah penutupan, harus kita rapatkan matang matang terlebih dahulu. Tidak serta merta kita lakukan penutupan. Harus kita pertimbangkan efek kedepannya setelah lokalisasi itu ditutup,” tandasnya. (fel)

Penulis: M. Dhia Thufail & Redaktur: Dony Widyo

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *