Kajen

Mencari City Branding Kabupaten Pekalongan

ADE ASEP SYARIFUDDIN, GM Harian Radar Pekalongan
ADE ASEP SYARIFUDDIN, GM Harian Radar Pekalongan

CITY branding sekarang ini mirip dengan memarketingkan sebuah produk ke konsumen secara terus menerus. Bedanya kalau City Branding yang dijual adalah kota atau tempat. Sementara kalau produk yang dijual adalah benda yang dikemas dengan cara tertentu dan memiliki merek tertentu, sehingga menarik dan dipromosikan lewat berbagai media. Sehingga yang membutuhkan dan tertarik dengan produk tersebut akan membeli sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.Di kota-kota besar terutama di berbagai belahan dunia, city branding sudah menjadi sesuatu yang wajib. Mengapa? Karena ketika tidak memiliki city branding, maka sama saja keberadaan kota tersebut dengan tidak ada. Ada tapi tidak ada. Ada tapi tidak dikenal. Percuma saja kan. Di sisi lain banyak juga kota yang hanya memiliki sedikit kelebihan namun dibranding dan dipromosikan secara gencar, maka seluruh seantero negeri dapat mengenalnya.

Kota-kota di Indonesia yang sudah memiliki city branding yang sangat populer adalah Solo The Spirit of Java, Jogja Never Ending Asia, Surabaya Sparkling, Semarang Variety of Culture, Enjoy Jakarta, Banyuwangi Sunrise of Java, Batu Kota Wisata, Kulonprogo The Jewel of Java, Malang The Beautiful Colonial City, Bantul The Harmony of Nature and Culture.

Setelah dibranding dan dimarketingkan, beberapa wilayah di atas memiliki brand yang kuat dan sangat populer. Banyak wisatawan yang datang untuk berkunjung ke tempat tersebut. Akhirnya, pendapatan asli daerah (PAD) bisa terdongkrak. Efek ini yang diharapkan yang dapat menguntungkan daerah dengan branding yang kuat sesuai dengan konten yang ada. Kunjungan tersebut sudah tentu tidak hanya sekali atau dua kali, namun menjadi berkali-kali.

Untuk menemukan city branding, sudah tentu bukan pekerjaan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan focus group discussion, meminta pendapat berbagai tokoh, membuat survei, membut questioner, membuat sayembara dll. Sehingga prosesnya betul-betul terlihat dari awal sampai akhir dan semua pihak terlibat. Yang sangat penting lagi adalah, good will dari kepala daerah. Kalau kepala daerah yang punya mau, sudah tentu ini jauh lebih baik dan bisa cepat terealisasi.

Kabupaten Pekalongan tidak kalah menarik dengan kota-kota lainnya di Jawa maupun di Indonesia. Kabupaten Pekalongan memiliki sejarah panjang sebagai perajin batik, desainer batik. Bahkan batik Oey Soe chun yang sangat pupuler pada zamannya berasal dari Kedungwuni. Belakangan Bupati Pekalongan juga sangat gencar mempromosikan Petungkriyono sebagai paru-paru Jawa. Petungkriyono adalah Hutan yang masih perawan, masih asli yang sudah sangat langka di Indonesia. Ini pun bisa menjadi branding Kabupaten Pekalongan yang tidak kalah kuat. Di manakah positioning dan daya tawar Kabupaten Pekalongan ketika akan dibranding keluar?

Ketika dibranding dengan batik, Kota Pekalongan jauh-jauh hari sudah memproklamasikan diri dengan World’s City of Batik. Walaupun ada brand baru Kota Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia. Pertanyaannya, masih bisakah menggunakan identitas batik untuk Kabupaten Pekalongan? Yang kedua, apakah tetap menggunakan Kabupaten Pekalongan dan tagline nya, atau menggunakan istilah lain seperti Kajen? Dan bagaimana bentuk logo yang akan dibranding?

Di sinilah kita membutuhkan brainstorming yang sangat kuat dan panjang. Dilihat dari berbagai aspek, melihat pengalaman kota lain dalam membranding dirinya. Tidak kalah penting, kita juga bisa menengok kota-kota di luar negeri, seperti apa mereka membranding diri sehingga tetap kuat di benak khalayak banyak. Ditunggu Urun Rembugnya. (*)

Penulis: Ade Asep Syariffudin | Radar Pekalongan

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Web - Honda_Efa September 2017