Nasional News

Buruh Tiongkok Tak kooperatif , Sempat Mogok Makan

Buruh Tiongkok Tak kooperatif
MOGOK MAKAN – Belasan buruh Tiongkok sempat mogok makan dan membentak pewarta saat mencoba mengambil gambar mereka di ruang khusus Kantor Imigrasi Kelas I Bogor, Jalan A Yani, Kota Bogor, Jawa Barat.
ROMDHONI/RADAR BOGOR

BOGOR- Seperti saat digerebek Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di pabrik PT Huaxing, Jalan Narogong Kilometer 20, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Rabu (28/12), belasan tenaga kerja asing (TKA) Tiongkok kembali melawan. Mereka ogah-ogahan saat diperiksa petugas Imigrasi Bogor. Bahkan ketika diberi makanan siap saji, para buruh asal Negeri Tirai Bambu itu menolak.

“Memang sudah dari pagi ini (kemarin, red) mereka tidak mau makan. Entah maunya merek ini atau mau yang itu,” ujar salah satu penyidik kepada Radar Bogor seraya menunjukan kotak nasi berisi ayam goreng tepung ternama.

Seharian kemarin, petugas Imigrasi masih memeriksa para buruh Tiongkok secara maraton. Kantor Imigrasi Kelas I Bogor sengaja mendatangkan seorang penerjemah untuk mempermudah pemeriksaan. Selama diperiksa, mereka ditempatkan di ruang khusus dan bukan dalam tahanan.

“Karena ruang tahanan tidak cukup. Jadi kami buat ruang staf menjadi tempat tinggal sementara buat mereka. Kami keluarkan semua meja dan komputer, biar luas,” tukas petugas tersebut.

Ditemui Radar Bogor, wajah belasan TKA Tiongkok itu tampak murung. Posisi mereka ada yang sedang mengantre di toilet, ada yang bersantai di lantai ruangan. Ketika dihampiri, wajah mereka ditutupi lengan. Dari dalam ruangan itu juga terlihat kepulan asap rokok tak henti-henti.

Ketika pewarta mencoba mengambil gambar pun, para TKA itu malah menghardik dengan bahasa asing. Bahkan salah seorang TKA berdiri menghampiri dengan wajah berang. Namun petugas Imigrasi kemudian langsung mentutup pintu.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Bogor, Herman Lukman, mengatakan kini penyidik tengah mengusut tuntas perizinan mereka. Menurut Herman, dua WN Tiongkok yang hanya mengantongi visa kunjungan diketahui memang bukan bekerja, melainkan mengunjungi sanak famili mereka di Bogor.

“Setelah diperdalam lagi, sekarang kita dapat 18 orang yang diduga bersalah. Tapi belum tentu bersalah karena pemeriksanaan belum selesai,” katanya kepada Radar Bogor.

Rinciannya, sebanyak 10 TKA tidak bisa menunjukkan paspor. Sedangkan delapan lainnya, memiliki paspor namun wilayah kerja tidak sesuai domisili pada kartu izin tinggal terbatas (Kitas).

“Saat ini kita sedang dalami bersama Kemenaker (Kementrian Ketenagakerjaan). Kita dalami, apakah jabatan sesuai dengan perizinan,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan Kemenaker, kata Herman, jabatan sejumlah TKA tidak sesuai dengan izin yang diberikan Direktorat Jenderal Imigrasi. Misalnya, mengaku sebagai pembisnis pada kenyataannya hanya buruh kasar,” ungkapnya.

Jika terbukti bersalah, ke-18 TKA Tiongkok itu dikenakan Pasal 71 juncto pasal 116 Undang Undang nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian. “Kita sanksi tindakan Keimigrasian, ya, kita deportasi,” tandasnya. Kendati demkian, Herman memastikan 2 Januari mendatang penyelidikan selasai.

Di sela pembicaraan, Herman sempat menjelaskan perkembangan hukuman terhadap empat petani Tiongkok yang menanam cabai berbakteri di perbukitan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Menurutnya, proses hukum para pelanggar izin itu sudah di tangan Kejaksaan Negeri Cibinong.

“Kita sudah selesai. Sekarang berkas sudah di Kejaksaan, silakan tanyakan Kejaksaan. Tersangkanya sudah kami titipkan ke Pondok Rajeg,” imbuhnya.(don/d)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Suzuki Yulina September 2017
Web - Honda_Efa September 2017