Featured Jateng News

Melongok Situasi Lokasi Prostitusi Peleman Menjelang Ditutup

*Sebagian PSK Berencana Eksodus ke Luar Daerah

Ternyata, rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal menutup empat lokasi prostitusi di wilayah Pantura bukan gertakan sambal semata! Pada 2017, Pemkab telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 miliar untuk menutup empat lokasi, yakni Wandan, Gang Sempit, Peleman, dan Pengasinan. Lalu? WAWAN SETIAWAN

Melongok Situasi Lokasi Prostitusi Peleman Menjelang Ditutup
SEPI – Salah seorang PSK Peleman hanya bisa duduk lesu di depan wisma saat menunggu pelanggan datang.
WAWAN SETIAWAN/RATEG

WAKTU baru saja menunjukkan pukul 21.00 ketika Radar menginjakan kaki di pelataran parkir lokasi prostitusi Peleman di Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal.

Sementara, tak jauh dari lokasi parkir, wajah tirus Sri (bukan nama sebenarnya) malam itu terlihat kusut. Tidak seperti biasanya yang berdandan menor dengan lipstik tebal dan blush-on di pipi, kali ini wajahnya hanya disapu bedak tipis. Pemerah bibirnya juga ala kadarnya. Keceriaan yang biasanya ditunjukkan untuk menarik tamu pun hilang. Sebaliknya, pembawaannya jadi cemberut.

Malam itu, hingga sekitar pukul 22.00, PSK (Pekerja Seks Komersial) asal Indramayu, Jawa Barat, tersebut belum mendapat seorang pun tamu. Padahal, biasanya jam segitu dia sudah menggaet minimal dua tamu. “Mau dapat tamu bagaimana? Semua orang takut ke sini. Isunya kan sebelum ditutup mau ada razia, ” ujar perempuan 26 tahun itu. Padahal, malam itu Sri berharap bisa mendulang banyak “rezeki ” . ” Minimal buat makan sehari-hari, ” ucapnya.

Sri belum kapok menjalani hidup sebagai PSK. Karena itu, jika Peleman jadi ditutup, dia berencana melanjutkan “karir ” -nya di daerah lain yang kehidupan prostitusinya masih ramai. Kalau tidak ke Bogor ya Batam. ” Mau kerja apa lagi selain begini? Ya, kalau kepepet, baru pulang ke rumah, ” kata perempuan yang telah empat tahun menjadi PSK di Peleman tersebut.

Dia mengaku bingung dengan perkembangan situasi saat ini, sehingga Peleman harus ditutup. Sri mengaku pernah diajak rapat terkait sosialisasi penutupan Peleman. Namun kapan pastinya penutupan dilakukan, dia tidak tahu. ” Tidak tahu. Tapi kalau jadi ditutup, saya mau pergi dari sini, ” ujarnya.

Memang, saat ini suasana lokalisasi Peleman tidak terlihat ramai seperti biasanya. Suara dentuman musik dangdut masih tetap terdengar keras bersahut-sahutan dari wisma-wisma yang berjejer di gang sepanjang 300 meter tersebut. Di teras, warung dan tempat parkir juga masih banyak PSK yang mejeng dengan dandanan tidak senonoh.

Namun, situasinya sudah tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Peleman yang biasanya ramai dengan para hidung belang yang berseliweran keluar masuk wisma, malam itu relatif lengang. Tidak banyak calon konsumen yang “memanfaatkan ” malam-malam ke lokasi prostitusi yang diklaim sebagai tempat prostitusi terbesar di Jawa Tengah itu.

Menyikapi rencana penutupan lokalisasi Peleman, Pengurus Lokalisasi Peleman, Desa Sidaharjo, Kecamatan Suradadi Andi Ojin menyatakan, sudah mengetahuinya. Menurut dia, saat ini jumlah PSK di Peleman antara 150-175 orang. Mereka tersebar di 65 wisma. “Jumlahnya memang fluktuatif, kadang 200, kadang dibawah 150 orang, ” katanya.

Menurut dia, PSK di Peleman tidak pernah ada yang menetap. Mereka hanya bertahan sekitar 2 sampai 3 bulan. Jika jumlah pelanggannya turun, mereka akan eksodus ke tempat baru. Biasanya, itu dilakukan mucikari agar para lelaki hidung belang tidak bosan saat mampir ke tempatnya.

Saat ini, lanjut Ojin, jumlah mucikari di Peleman sekitar 60 orang. Setiap bulan, mucikari harus menyetor uang ke pengurus Rp 150 ribu. Sedangkan PSK, hanya Rp 2.000 per hari. Untuk para pedagang, hanya dimintai setoran Rp 1.000 per hari per pedagang. ” Uang itu digunakan untuk kegiatan sosial di desa, bukan untuk kepentingan pribadi para pengurus, “tandas Ojin yang sudah 12 tahun mengurus Peleman dan dipercaya menjadi Ketua RT 25 RW 10, Desa Sidaharjo.

Menurut dia, geliat ekonomi tersebut bukan hanya dirasakan PSK dan mucikari saja, tapi juga warga sekitar seperti tukang cuci pakaian PSK, salon keliling, tukang buah, pengamen, pengemis, juru parkir dan warung makanan dan minuman.

Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk tetap mempertahankan keberadaan Peleman. Hal itu pulalah yang membuat PSK Peleman selalu bertambah dan hanya sebagian kecil yang mau beralih profesi dan dipulangkan.

BANYAK FAKTOR

Sementara itu, rencana Pemkab Tegal yang akan menutup empat loklisasi di wilayah Pantura Tegal, prinsipnya merupakan upaya untuk menekan praktik maksiat. Langkah ini juga sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup PSK. ” Meski demikian, menutup lokalisasi bukan berarti bisa menyelesaikan masalah. Karena masih banyak hal lain yang harus dikerjakan agar upaya ini maksimal, “tutur pengamat sosial Tegal Moh. Afis Zein kemarin.

Menurut dia, banyak faktor yang memengaruhi seseorang memilih menjadi PSK. Di antaranya faktor ekonomi, kepuasan seksual, psikologi dan beberapa penyebab lainnya. Artinya, untuk menuntaskan masalah ini, semua faktor itu harusnya dipenuhi dengan cara melakukan pendampingan.

“Kalau mereka (PSK, red) yang faktor ekonomi, ya disiapkan lapangan pekerjaan atau pelatihan. Tapi bagi mereka yang bukan masalah ekonomi, perlu pendampingan psikologi dan religius, ” ujar Afiz. Jika hal itu tidak dilakukan, imbuhnya, maka penutupan lokalisasi tidak memberi perubahan apapun terkait praktik maksiat ini.

Lain halnya dengan para pria hidung belang yang menjadi pelanggan seks. Afiz menyebut, mereka juga perlu pemahaman. Sebab, banyak faktor yang menyebabkan mereka menjadi pelanggan para penjual jasa kenikmatan. Misalnya rumah tangga yang kurang harmonis, ataupun mengidap kelainan seksual. “Kalau masalah yang seperti ini, selain pendekatan religius, membangun lingkungan yang baik juga sangat mempengaruhi pola hidup mereka, ” ulasnya.

Afiz menyebut, bisnis prostitusi tidak dapat dimusnahkan jika upaya yang dilakukan hanya setengah-setengah. Karena » wiraswasta tubuh» merupakan bisnis tertua dalam sejarah kehidupan manusia. Bahkan dengan penutupan lokalisasi secara formal ini, kecenderungan munculnya « bisnis lendir» secara terselubung sangat besar. » Pelacuran, perjudian dan lainnya itu sudah ada sejak manusia itu ada. Sehingga sangat sulit untuk dihilangkan,» ucapnya.

Apalagi perkembangan informasi dan teknologi semakin pesat. Orang dengan mudah berkomunikasi setiap saat. Bahkan dari jarak jauh. Artinya kondisi yang ada bisa menjadi peluang bagi para PSK untuk bisa bekerja kembali, tanpa harus menduduki tempat tertentu yang berizin.

“Zaman sekarang ini orang tinggal komunikasi lewat telepon seluler, kemudian bicara harga dan janjian ketemu di suatu tempat. Lantas bagaimana pemerintah bisa mengawasi hal ini?, ” tanyanya.

Menurut dia, penutupan lokalisasi tidak berjalan efektif jika tidak diikuti dengan pendampingan. Sebab, praktik ini harus dilakukan secara simultan, dengan penanganan yang lainnya. “Pada intinya penutupan lokalisasi ini hanya salah satu di antara banyak hal yang harus dikerjakan pemerintah untuk memerangi maraknya bisnis prostitusi, “tegasnya. Dengan demikian, perlu ada pendampingan, baik secara fisik maupun nonfisik untuk mencegah dampak buruk dari divakumkannya bisnis syahwat ini. (* /fat )

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *