Tantangan yang Dihadapi Batik Pekalongan

0
174
M Aditya Warman, Dewan Komisaris BPJS-TK
M Aditya Warman, Dewan Komisaris BPJS-TK

Oleh M Aditya Warman

DALAM kajian ini ditemukan minimal ada 11 tantangan yang sudah sepatutnya untuk dicermati dengan mendalam. Jika hal ini diabaikan akan berpengaruh terhadap keberlangsungan Batik Pekalongan yang saat ini sangat dinamis.

Beberapa kondisi yang tidak dapat dikontrol khususnya dalam kajian ini meliputi, 1. Distribusi dan mata rantai pasar. 2. Branding dan Image yang tidak optimal. 3. Harga pasar. 4. Standar kualitas batik. 5. Management keuangan lemah. 6. Riset dan pengembangan batik. 7. Pengolahan limbah. 8. Plagiatisme dan imitasi. 9. Sinergi dan kolaborasi dalam asosiasi (koperasi). 10. Perlindungan dan hak cipta yang tidak pernah tuntas. 11. Packaging dan add value sebuah produk. Kesebelas tantangan ini perlu didiskusikan secara mendalam melalui diskusi kita ini. Tantangan ini dapat diurai dalam analisis kajian seperti di bawah ini.

Distribusi dan Mata Rantai Pasar

Berbicara mata rantai pasar adalah tantangan yang paling berat bagi Batik Pekalongan. Distribusi adalah titik optimal dari sebuah keuntungan. Tapi sering kali pada fase ini Pekalongan tidak memiliki kekuatan sebagai ujung tombak. Sehingga bukan orang Pekalongan yang menggawangi outlet atau brand papan atas dari produk batik tulis, cap dan turunannya.

Wong Pekalongan cukup puas dengan sebatas berdagang dan direct selling. Tetapi tidak banyak yang membangun brand awareness dan membangun image dengan baik. Walaupun dalam satu dekade terakhir ini kita cukup bangga punya Dian Pelangi, punya Afif Syakur, punya Failasuf, punya Ridaka yang legendaris dan beberapa nama besar Batik yang mulai dikelola dari hulu hingga hilir. Tetapi belumlah cukup bagi ribuan pengrajin yang masih sekadar berkutat pada produksi dan proses saja.

Branding dan Image Tidak Optimal

Bisnis masa depan adalah bisnis yang berbasis digital. Berbisnis di era digital sangatlah penting untuk paham betul apa arti branding bagi produknya. Sebuah produk sangat ditentukan akan kuatnya image atau tidak di masyarakat. Dan apakah hal ini sudah menjadi concern Pembatik Pekalongan, atau mereka tidak tahu menahu atau memang tidak fokus terhadap arti penting branding?

Ada beberapa diskusi dan interview terhadap para pengrajin Batik di Pekalongan. Banyak pengrajin tidak mampu membangun sinergi dan kolaborasi dari para pendahulunya. PPIP dan GKBI adalah contoh nyata sebuah sinergi hulu hilir. Dari pengadaan kain mori, keuangan dan pemasaran adalah bidang garap dari lembaga semacam koperasi ini. Semua anggota secara bersama dan bersinergi menjadi sangat kuat. Beda hasil pengamatan atas kondisi hari ini.

Pembatik Pekalongan sangat soliter, terkesan percaya diri untuk bertarung dalam pasar yang kompleks sendirian. Tidak bersama-sama menaklukan pasar di setiap daerah. Kekuatan sebatas pameran dan bukan pasokan yang saling menguntungkan. Pasokan yang memberikan add value dengan menampilkan brand yang dibangun dengan menjaga kualitas, baik produk maupun attitude pedagang yang jujur, smart, gesit dalam melihat setiap tantangan.

Mampukah itu semua terjadi? Jawabannya adalah by design. Pemerintah daerah harus membekali semua yang terkait dengan distribusi batik, mesti dididik, dilatih dan dimentoring dalam membangun brand-nya agar lebih kuat. Sehingga tidak semata profit, tetapi bisnis yang memberikan add value. Add value adalah kata kunci untuk mengoptimalkan sebuah image positif atau sebuah branding, management yang rapi dan ditopang leadership yang efektif, maka pasar akan trust akan kualitas SDM dan produk batik yang dibuatnya. (bersambung)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY