Madrasah dan Pesantren Tak Boleh Luput dari Perhatian

0
157
Madrasah dan Pesantren Tak Boleh Luput dari Perhatian
SANTRI NASIONALIS – Cabup Batang, As Burhan dan istrinya saat memenuhi undangan Gus Haidar, putra (alm) Mbah Muhaiminan Gunardo Temanggung, di kediamannya. Dua sosok asal Kemiri Barat dan Parakan itu juga masih memiliki hubungan keluarga.
AKHMAD SAEFUDIN / RADAR PEKALONGAN

BATANG –Madrasah dan pesantren dinilai belum mendapatkan atensi yang memadai dari para stakeholder terkait. Padahal, sebagai Institusi pendidikan yang memiliki sejarah panjang di nusantara, peran keduanya sangat vital, baik dalam mencerdaskan maupun terutama mendidik karakter generasi bangsa.

“Dewasa ini, ketika fenomena radikalisme dan terorisme bermunculan, peran madrasah dan terutama pesantren justru menjadi lebih vital. Negara sudah semestinya melirik institusi pendidikan tradisional itu, karena pesantrenlah yang selama ini konsisten mengajarkan paham keagamaan yang moderat,” ungkap Calon Bupati Batang pada Pilkada 2017, AS Burhan.

Darah santri memang mengalir ke darah Burhan. Putra (alm) KH Fahrurrozi itu juga pernah lama berkiprah di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Di struktur PCNU Kabupaten Batang, nama Burhan bahkan tercatat sebagai Wakil Katib Syuriah.

“Madrasah dan pesantren seperti banyak tersebar di Kabupaten Batang ini memiliki mekanisme internal untuk menangkal radikalisme. Nasionalisme kalangan pesantren juga sudah dibuktikan dalam sejarah. Maka tidak ada alasan untuk tak memperhatikan pesantren. Tidak hanya lembaga pendidikan formal yang butuh perhatian dan dukungan untuk berkembang, madrasah dan pesantren juga tidak boleh luput dari perhatian kebijakan,” jelas pria yang pernah menjadi Project Manager Gerakan Anti Korupsi Berbasis Pesantren itu.

Karena itu, dalam naungan visi “Batang Mulia yang Sejahtera, Adil dan Demokratis”, Burhan bersama Ariani juga memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan pesantren dan madrasah. Dalam daftar 20 program prioritas yang akan dilakukannya jika dipercaya memimpin Batang, ada lima di antaranya yang khusus menyasar pendidikan, baik konvensional maupun keagamaan. Pertama, bantuan biaya operasional untuk siswa pendidikan dasar dan menengah.

“SD dan SMP ini usia yang rentan bagi terjadinya putus sekolah karena kesulitan ekonomi. Maka siswa-siswa miskin ini harus terjamin bisa tetap mengenyam bangku pendidikan melalui bantuan biaya operasional di luar BOS regular,” ujar sosok aktivis nasional yang memilih berkiprah di tingkat lokal itu.

Kedua, bantuan biaya operasional siswa pondok pesantren salafiyah penyelenggara pendidikan dasar. Ketiga, bantuan biaya operasional bagi santri pondok pesantren. Keempat, tunjangan kesejahteraan bagi guru madrasah dan TPQ. Kelima, asuransi kesehatan untuk marbot masjid, mushola, gereja dan vihara.

“Dengan perannya masing-masing, lembaga pendidikan formal maupun pesantren harus sama-sama disentuh kebijakan. Termasuk guru dan siswa atau santrinya juga harus diperhatikan,” pungkas cabup yang dituding termiskin itu. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY