Shalat sebagai Penghibur

0
158
KH Anang Rikza Masyhadi, Pengasuh PM Tazakka Bandar
KH Anang Rikza Masyhadi, Pengasuh PM Tazakka Bandar

*Isra Miraj (Bagian Kedua dari Tiga): Shalat sebagai Penghibur

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Shalat dijadikan sebagai penghibur hatiku.” (HR. An-Nasai).

Maka, dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW pernah menyuruh Bilal bin Rabah RA, seorang budak kulit hitam yang memiliki suara merdu kemudian menjadi salah seorang sahabat terkemuka, untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan waktu shalat telah tiba. “Bangunlah wahai Bilal, tentramkanlah hati kami dengan shalat” begitu kata Rasul.

Jelaslah, bahwa bagi Rasul shalat adalah hiburan yang menentramkan. Bukan sekedar rutinitas fardu yang tidak memiliki makna. Artinya, kesedihan dan kegundahan akan hilang bersama dengan datangnya waktu shalat.

Namun, saat ini, diakui atau tidak, banyak orang muslim belum mampu menangkap esensi dan makna shalat yang demikian itu. Malah, yang terjadi shalatnya hanya sekedar gerakan-gerakan yang tak bermakna dan tak berimplikasi pada perubahan perilaku. Yang sedih tetaplah bersedih, yang gundah tetaplah gundah!

Sebuah keluarga yang rajin shalat, toh masih tetap saja tidak tentram (sakinah), apalagi mencapai mawaddah wa rahmah. Bukankah sekali lagi, shalat adalah penentram jiwa?

Bahkan, jangankan menjadi hiburan yang menentramkan, ternyata shalat tidak mampu mencegahnya dari perbuatan maksiat, keji dan mungkar. “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Qs. [29]: 45)

Jika demikian, maka pasti ada yang keliru dalam shalat kita. Mungkin secara fikih, syarat rukun shalat tidak ada yang keliru. Kekeliruan terjadi karena gagal memahami makna shalat, dan selanjutnya gagal mengimplikasikan shalatnya dalam realitas kehidupan.

Dalam ungkapan ahli hikmah yang demikian itu seperti burung yang mematuk-matuk makanannya: hanya gerakan yang berulang-ulang. Shalat kita tidak lebih hanyalah gerakan yang berulang-ulang.

Marilah setiap muslim melihat dirinya: apakah shalatnya sudah benar; sudahkah ia memahami hakekat shalat sesungguhnya; adakah perubahan sifat dan sikap dari shalatnya itu? Jika belum, segeralah berbenah agar shalatnya tidak sia-sia.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. [2]: 45) (*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY