Nasional

Kemenristekdikti Hentikan Program SM3T

*Indonesia Kekurangan 300 Ribu Guru Profesional

JAKARTA – Tidak banyak program pemerintah yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat di daerah terpencil. Diantaranya adalah program sarjana mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (SM3T). Sayangnya program yang berjalan sejak 2012 ini dihentikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Dengan penghentian itu, otomatis 3.007 orang peserta SM3T angkatan VI yang sekarang berada di daerah penempatan, adalah angkatan pamungkas. Direktur Pembelajaran Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Paristiyanti Nurwardani mengatakan sebenarnya SM3T tidak dihapus. ”Yang benar itu dimodifikasi,” jelasnya di Jakarta kemarin (14/4).

Perempuan yang akrab disapa Paris itu menjelaskan sebagai ganti dari program SM3T, Kemenristekdikti menjalankan program mencetak guru profesional berbasis sistem Hybird atau campuran/kombinasi. Selama ini SM3T adalah program mencetak guru profesional dan berkualitas untuk daerah 3T. Namun pada realitasnya yang membutuhkan guru profesional dan berkualitas tidak hanya daerah 3T.

Dia menjelaskan setelah dihitung kebutuhan guru saat ini mencapai 300 ribu orang. Sementara kuota peserta SM3T setiap tahun hanya 3.000 orang. Jika kekurangan guru profesional dan berkualitas itu hanya diisi melalui skenario SM3T, maka membutuhkan waktu 100 tahun atau seabad.

Selain itu dia menjelaskan pengiriman guru SM3T itu tidak sesuai dengan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. Sebab di dalam UU Guru dan Dosen dinyatakan yang boleh mengajar adalah guru pemegang sertifikat pendidik. Sementara para peserta SM3T itu belum mengantongi sertifikat pendidik.

Mantan atase pendidikan KBRI di Manila itu menjelaskan kebutuhan 300 ribu orang guru itu tersebar di banyak bidang. Perinciannya adalah kekurangan guru produktif di SMK sebanyak 91.861 orang. Kemudian kekuranga guru profesional di SD, karena hanya berijazah D1 atau mentok D3, meacapai 200 ribu orang. Sisanya kekurangan guru mata pelajaran di SMP.

”Sesuai namanya yakni sistem hybrid kami siapkan tiga jenis pengisian kekurangan guru. Harapannya di akhir kabinet kerja 2019 nanti bisa terisi signifikan,” urainya.

Pengisian pertama adalah menyiapkan alokasi 3.500 guru produktif untuk ditempatkan di SMK. Yang boleh mendaftar lulusan jurusan kejuruan di kampus lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), lulusan politeknik, dan jebolan universitas atau sekolah tinggi. Rencananya pendaftaran untuk mengisi kuota 3.500 guru ini dibuka pekan ketiga April nanti.

Proses pendidikannya adalah tiga bulan pertama kuliah di politeknik. Kemudian tiga bulan berikutnya mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) di LPTK. Dan terakhir selama enam bulan praktik mengajar langsung di SMK. Setelah itu baru mendapatkan sertifikat profesi guru produktif.

Pengisian kedua adalah menuntaskan proses pendidikan 3.007 orang peserta SM3T yang sudah berjalan saat ini. Setelah menjalani penempatan di daerah 3T mereka akan menjalai PPG berasrama di kampus LPTK selama enam bulan sampai satu tahun.

Pengisian yang ketiga adalah menyiapkan 3.500 orang guru untuk mengajar di jenjang SD dan SMP. Pendaftaran pengisian kekurangan guru model ketiga ini dibuka Mei. ”Rencananya Juli dipanggil pendidikan profesi guru,” tuturnya. Proses pendidikan profesi guru jenis ketiga ini rencananya selama satu tahun.

Pris mengatakan dengan gabungan tiga skenario pengisian itu, pemerintah bisa menghasilkan guru profesional dan berkualitas sebanyak 10 ribu orang. Belum lagi ditambah dengan program pengalihan dari guru adaptif menjadi guru produktif. Dimana rata-rata setiap tahun bakal dialokasikan kuota pengalihan untuk 10 ribu sampai 15 ribu guru.

Guru besar pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rochmad Wahab mengatakan sebaiknya program SM3T tetap dilanjutkan. Perkara ada rencana pengisian guru dengan skema lainnya, tidak sampai menghapus program SM3T.

Dia menjelaskan memang benar yang boleh mengajar itu adalah guru dengan sertifikat pendidik. Tetapi bukan berarti program SM3T itu melanggar undang-undang. Dia mengatakan peserta SM3T itu bukan sebagai guru utama. ”Mereka statusnya nyantrik kepada guru tetap yang ada di sekolah,” katanya.

Namun yang terjadi di lapangan adalah sebaliknya. Umumnya guru SM3T justru beralih fungsi menjadi guru utama. Lantas guru tetapnya menjadi jarang datang ke sekolah, karena sudah ada peserta SM3T. Dia lantas menyamakan dengan program koas atau profesi dokter. ”Calon dokter nyantrik dulu ke dokter profesional. Sama dengan peserta SM3T berguru dulu ke guru tetap,” pungkasnya. (wan)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Honda_Fais Juli 2017

REV Suzuki Yulina Agustus 2017