Rakyat Bersedih, Sang Motivator dan Tauladan Telah Tiada

0
1943
Pemakaman Hj Chairiyah
ALAT JENAZAH – Ribuan pelayat khususnya laki-laki tampak mengikuti salat jenazah, dimana selaku imam dalam jamaah salat jenazah tersebut yaitu Habib Abdullah Baqir Al Athos dari Pekalongan.
MUHAMMAD HADIYAN

Melihat Pemakaman Hj Chairiyah, Sesepuh Teladan dari Kranji

Senin (17/4) pagi, ribuan orang baik laki-laki maupun perempuan, mulai
dari pejabat, alim ulama hingga masyarakat umum melayat Ibu kandung Bupati Pekalongan, Hj Chairiyah binti H Fadjari, yang meninggal pada hari Minggu (16/4) siang, di usianya yang ke 89 tahun. Seperti apa? M Hadiyan, Kedungwuni

Sejak Minggu (16/4), rumah pribadi Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi, di Gang 4 Kranji, Kelurahan Kedungwuni Timur, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, menjadi padat oleh lalu lalang masyarakat dan kendaraan yang berjajar.

Mereka bertakziyah atau melayat Ibu kandung Bupati Pekalongan, Hj Chairiyah binti H Fadjari yang meninggal pada hari Minggu (16/4) siang, di usianya yang ke 89 tahun. Ribuat pelayat pun membanjiri tempat pemakaman umum Kranji, Senin (17/4) pukul 09.00Wib, setelah disalati di masjid setempat.

Hj Chairiyah sendiri dikenal sebagai sosok sesepuh yang luar biasa. Lahir di masa penjajahan, membuat dirinya menjadi sosok yang meneguhkan hati perjuangan sang ayah, H Fadjari dalam melawanpenjajah. H Fadjari adalah tokoh pahlawan lokal yang pemberani di masanya.

Seorang sodagar batik sukses ini sempat ditawan penjajah pada tahun 1947 lantaran enggan memberikan informasi keberadaan para pejuang Laskar Hisbullah yang mengancam pasukan Belanda pada saat itu.

Usai mendampingi sang ayah, Chairiyah juga menjadi sosok tangguh di balik perjuangan dakwah sang suami, KH Anwar Amin. Posisi para pejuang yang terdesak oleh serangan penjajah, membuat Sang Kyai dan keluarga terpaksa mengungsi ke Kalibening, perbatasan Banjarnegara dan Pekalongan.

Di situ, mereka menetap dan melanjutkan perjuangan dakwah menyebarkan agama Islam.

Dalam pengungsian itu, ia membangun sebuah masjid sebagai media dakwah. Dia juga merupakan pendiri MWC NU di daerah tersebut. KH Anwar Amin dikenal sebagai sosok yang toleran terhadap perbedaan agaman dan ras, sehingga namanya dikenal di berbagai kalangan. Di situlah peran Hj Chairiyah sebagai istri sangat penting bagi
perjuangan dakwah sang suami.

Tidak berhenti sampai disitu, di usianya yang sudah senja, ia menjadi motivator dan tauladan bagi anak dan cucuknya, termasuk sang anak yang kini menjadi Bupati Pekalongan Asip Kholbihi. Dari doa dan restu sang ibu, karir politik Asip lambat laun terus menanjak.

Menurut Asip, Hj Chairiyah merupakan sosok ibu yang luar biasa. Sebagai sesepuh di Kranji, sang ibu tidak hanya memberikan tauladan bagi keluarga, namun juga bagi masyarakat Kranji pada umumnya.

“Ibu saya merupakan pejuang yang setia mendampingi perjuangan ayahnya, suaminya, dan anak-anaknya. Ini pelajaran bagi siapapun, untuk senantiasa meneladani sosok ibu,” ungkap Asip.

Kemarin, duka cita mengiringi ribuan pelayat. Kedatangan para pelayat langsung diterima Bupati Pekalongan beserta istri. Ucapan belasungkawa berupa karangan bunga berdatangan, mulain dari orang nomor satu di negeri ini yaitu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, para Bupati/Walikota dan Muspida se Jawa Tengah, OPD se Kabupaten
Pekalongan, Lembaga BUMN/BUMD, Lembaga Vertikal, hingga dari Media Massa dan para pribadi lainnya.

Asip Kholbihi, saat melepas almarhumah Ibundanya, dalam sambutan atas nama keluarga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pelayat yang berkenan hadir untuk mendoakan almarhumah. Bupati juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga Kranji khususnya dan masyarakat Kabupaten Pekalongan pada umumnya atas kekhilafan almarhumah jika memang ada.

“Kami mohon barokah doa dari seluruh hadirin dan segenap masyarakat Kabupaten Pekalongan agar ibu kami khusnul khotimah. Amiin,” ucapnya.

Selesai upacara pelepasan oleh pihak keluarga, selanjutnya jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan dan dikebumikan di makam desa setempat. Ribuan pelayat khususnya laki-laki tampak mengikuti salat jenazah, dimana selaku imam dalam jamaah sholat jenazah tersebut yaitu Habib Abdullah Baqir Al Athos dari Pekalongan. (*)

Penulis: M. Hadiyan & Redaktur: Widodo Lukito

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY