Melihat Kampung Tidar Campur, Pembudidaya Lidah Buaya

0
71
Melihat Kampung Tidar Campur, Pembudidaya Lidah Buaya
LIDAH BUAYA – Warga Kampung Tidar Campur membudidayakan tanaman lidah buaya.
DOKUMEN

*Pekarangan Rumah Jadi Lumbung Rupiah

YANG dulunya cuma ngerumpi, sekarang malah bikin iri. Bisa menambah rezeki tanpa melupakan anak dan suami. Itulah yang dilakukan mayoritas ibu rumah tangga di Kampung Tidar Campur, Rw 01 Kelurahan Tidar Selatan, Magelang Selatan.

Kampung itu cukup tenang saat siang. Berbeda jika bertandang saat sore. Sejumlah ibu-ibu ngerumpi di sebuah teras. Ceria dan tertawa lepas. Namun, jangan anggap mereka hanya rasan-rasan biasa. Dua tangan mereka cekatan memilah dan mencuci lidah buaya, mencari dagingnya, dan menyiapkannya dalam wajan khusus. Ibu-ibu tersebut tidak sedang punya gawe. Tetapi, mereka sedang memproduksi beraneka macam kuliner dari bahan baku lidah buaya.

Kesibukan mengolah lidah buaya menjadi rutinitas mereka dalam beberapa tahun terkahir. Hasilnya bisa menjadi kue, minuman nata, sirup, dan banyak makanan olahan lain yang kaya manfaat itu. “Tahun 2015 lalu, ibu-ibu tiap RW dikumpulkan dan dilatih menanam lidah buaya sampai mengolahnya menjadi produk bernilai jual. Banyak yang minat, tapi yang serius cuma beberapa kampung saja,” kata Nani Haryani (38) seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kampung Tidar Campur.

Meski sekarang ia dan sejumlah ibu-ibu lainnya getol mengolah makanan berbahan lidah buaya, tetapi masih terkendala masalah pemasaran. Terkadang mereka hanya membuat makanan menyehatkan dari lidah buaya ketika ada pesanan saja. “Soalnya jualnya masih pusing mau ke mana. Kalau ada pesanan ya baru ibu-ibu ini bikin makanannya,” ucapnya.

Aloe vera bukan menjadi tanaman langka di Kampung Tidar Campur. Saat dirintis tahun 2015 lalu, jumlah peminat budidaya lidah buaya kian pesat. Bukan lahan terbuka yang mereka manfaatkan, tetapi hanya lahan pekarangan yang dikemas bertingkat menjadikannya sebuah lumbung dan menghasilkan rupiah.

“Perawatannya nggak ribet, cuma disiram saja dan nggak ada satu tahun sudah bisa dipanen. Hama juga nggak ada, paling cuma bekicot, dibuang selesai. Kalau pakai pestisida malah hasil panennya tidak bagus,” ujarnya.

Selain ibu rumah tangga, ternyata usaha pembibitan aloe vera juga ditekuni kaum pria. Seperti yang dilakukan Nurdi Setyo Bowo (37). Ia sudah menekuni usaha pembibitan lidah buaya pada tahun 2015 lalu. “Waktu itu saya ketemu dengan Ketua Komis B DPRD Kota Magelang, Pak Waluyo saat itu, dan menyarankan supaya saya membuat terobosan menanam lidah buaya. Karena tanaman ini banyak manfaatnya. Saya tekuni dan berlanjut seperti sekarang,” katanya.

Di atas lahan yang tak begitu luas milik Bowo, sapaan akrabnya, tumpukan pot berisi aloe vera tertanam rapi. Di lahan bawahnya, tanaman lidah buaya siap panen sedang digemburkan tanahnya. “Yang saya tanam di lahan ini sekitar 2.000 meter persegi, yang dirumah ada sekitar 1.600 meter persegi kalau ditotal,” ujarnya.

Berkat ribuan tanaman aloe vera yang ia lakoni sejak dua tahun lalu itu, Bowo kini mampu meraub omzet hingga jutaan rupiah. Keberhasilan ini pula yang membuatnya meninggalkan bisnis sebelumnya sebagai seorang peternak lele dan ayam.

“Modal awal tahun 2015 lalu hanya sekitar Rp3 juta saya dapat dari jualan lele. Waktu itu saya belikan bibit semua. Sekarang dua tahun berjalan sudah mendapatkan pendapatan sekitar Rp14 juta untuk penjualan bibit dan penjualan minuman nata aole vera yang saya produksi,” sebutnya.

Kini, dengan pendapatannya mencapai belasan juta, Bowo mampu menggaet pemuda setempat untuk turut terlibat dalam budidaya lidah buaya. Bahkan, pekarangannya yang berada di tepian Kali Elo itu kerap menjadi jujukan pelajar untuk studi banding.

“Pekan lalu ada dua turis asal Singapura berkunjung ke pekarangan saya dan terheran-heran. Mereka kagum karena lidah buaya biasanya hanya dipakai sabun, tapi ternyata menyehatkan jika dikonsumsi. Kemarin sempat bibit dan minuman natanya diborong turis,” akunya. (pi)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY