Banjir Besar Melanda Rotterdam Tahun 1953

0
101

*Belajar Bersahabat dengan Air, Catatan Perjalanan dari Belanda (4)

Waktu menunjukkan pukul 07.30 pagi. Hari itu Rabu (5/4). Setelah sekitar 15 jam melayang setinggi 33.000 kaki di atas permukaan bumi di dalam pesawat milik maskapai kebanggaan Indonesia–Garuda, akhirnya kami bisa menjejakkan kaki di negara kecil di Eropa yang meninggalkan jejak besar di Indonesia, Belanda. Berikut catatan Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dari Rotterdam.

Banjir Besar Melanda Rotterdam Tahun 1953
BANDARA – Di depan Bandara Schiphol terpampang City Branding Kota, I amsterdam. Dengan desain yang khas dan eyecathing membuat para penumpang di bandara tersebut tidak dapat melewatkan untuk berfoto.
FOTO: YUDHI HIMAWAN

PERJALANAN dari Indonesia ke Negeri Kincir Angin sepanjang malam seakan tidak meninggalkan rasa lelah. Kualitas pelayanan maskapai dan senyum ramah para pramugari dengan uniform khas kebaya Nusantara yang memberikan comfort flight bagi para penumpang. Termasuk kami dari Kabupaten Pekalongan, saya Asip Kholbihi, diampingi Ketua Bappeda Bambang Irianto dan Kabid Ekonomi dan Infrastuktur Bappeda Yudhi Himawan. Patutlah kita memberikan apresiasi pada maskapai nasional kita yang dengan pelayanan prima tersebut telah menyandang predikat maskapai dengan cabin crews terbaik 3 tahun terakhir berturut-turut.

Keluar dari pesawat, udara dingin khas Wropa menyapu wajah kami dan seakan ingin membisikkan kalimat “Welkom in de Nederland”! Awal april ini memang negara-negara subtropis termasuk Eropa mulai memasuki musim semi sehingga suhu 10°C lah yang menyambut kami, setelah beberapa bulan sebelumnya diguyur salju. Memasuki bandara, kami dibuat takjub dengan kemegahan dan hiruk pikuk aktivitas manusia yang ada di dalamnya.

Schiphol, bandara dengan konsep terminal tunggal dan memiliki 6 runway yang merupakan bandara tersibuk ketiga di Eropa dalam kategori jumlah penumpang. Berlokasi di wilayah Haarlemmermeer, 9 km dari Kota Amsterdam. Amsterdam Airport Schiphol –Nama resmi Bandara– melayani lebih dari 63 juta penumpang di tahun terakhir, sebuah pencapaian besar untuk luasan negara seperti Belanda.

Di depan pintu Bandara, kami disambut dengan sebuah sclupture selebar 23 m dan setinggi manusia dewasa dengan tulisan sederhana “I amsterdam”. Yang kami pahami memiliki kaya makna. Sebuah kampanye identitas kota yang tidak hanya menumbuhkan semangat patriotis bagi warga Amsterdam yang multietnik, namun juga menjadi city branding yang dapat mempertajam posisi Kota Amsterdam di dunia internasional.

Sebuah referensi sederhana bagi para stakeholders pemerintahan kota seperti kami dalam menjalankan city marketing untuk mempromosikan daerah ke dunia luar. Sebuah frase sederhana, dan bagi kami dan pasti para pengunjung Kota Amsterdam lain, adalah spot dan background yang sempurna untuk ber-selfie, meng-upload-nya di media sosial. Akhirnya menarik pengguna medsos untuk datang ke spot yang sama, sebuah strategi kampanye city marketing yang jitu.

Perjalanan dimulai menuju Rotterdam, sebuah kota berjarak 60 km barat daya dari Bandara Schiphol atau 75 km dari pusat Kota Amsterdam. Sebagai kota kedua di Belanda setelah Amsterdam, kota ini memiliki pelabuhan laut terbesar di Eropa dengan jumlah kapal yang singgah sejumlah hampir 28.000 unit dan jumlah kontainer mencapai 127 juta unit di tahun terakhir. Kota pelabuhan ini juga terkenal akan arsitektur bangunanan modernnya: Cube Houses –bangunan rumah-rumah berbentuk kubus miring di atas pilar beton yang saling berhubungan (dibangun Tahun 1982 – 1984). Sebuah masterpiece arsitektur yang masih layak untuk dikagumi sampai hari ini.

Di samping itu kita juga bisa melihat karya-karya besar arsitektur lain di kota ini seperti Erasmusbrug (jembatan tertinggi di Belanda dan menjadi ikon Kota Rotterdam), Rotterdam Market Hall, Witte Huis, Nieuwe Luxor Theatre, De Rotterdam dan bangunan-bangunan ikonik lainnya. Sebuah kesempatan besar bagi kami dapat menyaksikan maha karya arsitek kelas dunia seperti Ben Van Berkel, Rem Koolhaas, dan Piet Blom.

Di balik cerita sukses sebagai kota modern dan pusat pelabuhan terbesar Eropa yang ditunjang oleh lokasi geografis stategisnya di delta Sungai Rhine –Meuse–Scheldt , Rotterdam yang pusat kotanya hancur dihujani bom semasa Perang Dunia II, sebagian besar wilayah administratifnya berada di bawah permukaan laut. Bahkan kami sempat mengunjungi titik terendah di Eropa ( 6,76 meter di bawah permukaan air laut) yang berada di wilayah Nieuwerkerk aan den IJssel (Zuidplas), beberapa menit perjalanan ke timur Rotterdam.

Cerita kelam terjadi sebagai konsekuensi dari posisi geografis yang ‘kurang strategis’. Sebagian besar kawasan permukiman berada di balik tanggul. Banjir besar pada awal Februari 1953 akibat hujan badai yang melanda wilayah selatan Belanda termasuk Rotterdam dan menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian material.

Belajar dari mimpi buruk masa silam tersebut, Pemerintah Kota Rotterdam melalui Regional Water Authorities –badan yang bertanggung jawab terhadap perlindungan banjir, pengelolaan air wilayah, dan pengelolaan limbah cair perkotaan– merevitalisasi sistem perlindungan kota terhadap air. Dengan sebagian wilayah yang berada di balik tanggul dengan sungai yang permukaannya lebih tinggi dari wilayah permukiman tersebut, penduduk Rotterdam “dipaksa” untuk bersahabat dengan air dan tidak ada cara lain selain terus menerus mengembangkan teknologi pengelolaan air.

Di samping telah membangun “Maeslant Barrier” (gerbang air) yang dipersiapkan untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim dan melindungi Kota Rotterdam dari badai besar yang dapat memunculkan bencana banjir, kota tersebut juga mempersiapkan diri pada lapis kedua dengan meningkatkan kapasitas pengelolaan air secara terintegrasi di wilayah permukiman.

Melalui fasilitasi Hoogheemraadschap van Schieland en de Krimpenerwaard (HHSK) -–satu dari tiga Regional Water Authorities yang ada di Rotterdam-– kami berkesempatan melihat kondisi riil wilayah permukiman dan bentuk water management yang dilakukan di kota tersebut. Kami mengamati bagaimana wilayah permukiman yang posisinya di bawah muka air sungai di balik tanggul. Jugasaluran-saluran yang menghubungkan buangan rumah tangga ke arah kanal yang mengalir sepanjang tanggul untuk kemudian dipompa dan dialirkan ke sungai. Tanggul yang juga difungsikan sebagai jalan dengan dua lajur kendaraan.

Sebagai catatan, ketingggian minimal tanggul adalah 10 cm di atas ketinggian air ketika banjir melanda Kota Rotterdam Tahun 1953 yang merupakan bentuk antisipasi kota terhadap pengalaman empiris bencana. Dan sebagai respon terhadap fenomena perubahan iklim, sebagian tanggul juga sudah dinaikkan hingga 1 meter dari batas air banjir tersebut.

Kami juga mengunjungi “Abraham Kroes Gemaal”, stasiun pompa terpadu dan terbesar yang ada di Rotterdam yang dilengkapi dengan Early Warning System yang dapat menunjukkan peningkatan muka air baik di saluran drainase permukiman maupun di kanal sehingga dapat dilakukan langkah-langkah penanganan yang diperlukan oleh HHSK. Melalui stasiun pompa inilah semua ‘aktivitas air’ di wilayah cakupan dapat terpantau. Bagian yang menarik adalah bahwa masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam penyampaian informasi terkait ‘aktivitas air’ di wilayah permukiman mereka kepada pihak pengelola air. Sehingga penanganan dapat dilakukan dalam skala yang paling kecil di masyarakat.

Kami kemudian dibawa ke Venue dayung bertaraf internasional, Willem-Alexander Baan, yang sekaligus juga manjadi area wisata air yang sangat cantik. Sejatinya lokasi tersebut merupakan polder sebagai tempat cadangan penyimpan air dari kanal sebelum dialirkan ke badan sungai. Selain lokasi itu, kita juga memiliki cukup waktu untuk mengeksplore proses penanganan limbah cair melalui sistem yang ter-computerized terpadu. Sehingga semua limbah perkotaan baik dari rumah tangga ataupun ekses dari aktivitas industri ditampung dan diolah untuk kemudian dialirkan dalam bentuk ‘clean water’ ke badan sungai.

Proses pembelajaran yang didapatkan di Kota Rotterdam ini memberikan inspirasi bagi kami sebagai stakeholder pembangunan kota. Walaupun dengan nature yang relatif berbeda, untuk mengembangkan inovasi-inovasi pembangunan yang akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Secara khusus dalam sektor water management, kami melihat bahwa pengamatan yang kami lakukan mempunyai kesamaan dengan permasalahan banjir rob di wilayah Kabupaten Pekalongan yang terjadi akibat adanya land subsidence secara kontinyu. Inilah yang mendorong kami untuk melakukan kerjasama dengan HHSK guna meningkatan kapasitas organisasi dan teknis dalam penanganan banjir rob. Harapan besar kami adalah, masyarakat bisa hidup berdampingan dengan air sebagai sesama makhluk Tuhan yang masing-masing perlu mendapatkan tempat sepantasnya. (bersambung)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY