Featured Kajen News

Bermimpi Jutaan Bunga Tulip Tumbuh di Petungkriyono

*Belajar Bersahabat dengan Air, Catatan Perjalanan dari Belanda (5)

…In an old Dutch garden where the tulips grow That’s when first I whispered that I love you so For my heart was blue till I gave it to An angel in a pair of wooden shoes …. Berikut catatan Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dari Rotterdam

Bermimpi Jutaan Bunga Tulip Tumbuh di Petungkriyono
TULIP – Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi belajar managemen penataan bunga Tulip untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Pekalongan.
FOTO: YUDHI HIMAWAN

SEPENGGAL bait dari lagu oldies berjudul In an Old Dutch Garden (By an Old DutchMill) yang dinyanyikan dengan manis oleh Glenn Miller & His Orchestra menjadi bagian dari teman perjalanan kami menuju sebuah kota yang mungkin namanya terdengar asing bagi para pelancong, atau setidaknya tak semasyhur Amsterdam atau Rotterdam.

Lagu yang sengaja diputar di mobil oleh kolega kami dari Rotterdam sebagai guide seakan mendorong fantasi dan imajinasi akan keelokan dan keanggunan bunga tulip untuk segera dapat kami sambangi di kota kecil yang terletak hampir di tengah-tengah jalur Rotterdam–Amsterdam: Lisse. Kota yang disebut terakhir, adalah sebuah kota yang menjadi salah satu destinasi utama para travelers di awal musim semi di Eropa, tentunya berkat sebuah taman bunga yang namanya sudah sangat mendunia. Keukenhof (=kitchen garden), sebuah bentangan seluas 32 hektar yang menjadi tempat tumbuhnya 7 juta benih bunga dari sekitar 800 varietas bunga tulip yang ada di Belanda.

Mungkin telinga kita tidak asing dengan kata Keukenhof yang selalu identik dengan taman bunga tulip. Namun pernahkah terbayangkan dan terlukis dalam imajinasi kita bagaimana lahan seluas itu dipenuhi dengan bentangan aneka ragam corak dan warna bunga bagaikan kanvas yang dilukis oleh Tuhan yang sedang tersenyum?

Selama hampir 1 jam perjalanan dari Rotterdam menuju Lisse (=Keukenhof), hasrat untuk menikmati keagungan karya Sang Pencipta itulah yang memenuhi benak kami, keinginan untuk memasuki dan sekadar mencium harum ‘taman surga’. Sebelum sampai ke titik tersebut, pun mata kami sudah dimanjakan dengan hamparan lahan-lahan pertanian masyarakat yang ditumbuhi dengan aneka warna bunga tulip, terlihat seperti karpet warna warni yang dibentangkan di halaman rumah.

Memasuki gerbang Keukenhof, setelah sekadar merasakan nikmat kopi expresso dan sepotong pain au chocolat, kami disambut dengan suguhan aneka bunga tulip warna warni yang secara historis sebenarnya bukan bunga asli Belanda. Tulip adalah bunga asli dari Turki dan merupakan motif utama yang ditampilkan dalam berbagai seni tradisional masyarakat Persia dan Turki. Lama dibudidayakan di tanah Kekaisaran Ottoman, bunga tulip diperkenalkan dan diimpor ke Belanda pada akhir abad XVI oleh seorang peneliti bernama Carolus Clusius dan setelah itu selama berabad-abad bunga yang cantik dan colorful itu menjadi ikon negeri Raja Willem-Alexander dan berperan besar dalam merepresentasikan negara tersebut sebagai eksportir terbesar bunga segar ke seluruh penjuru dunia.

Keukenhof, yang mampu menarik rata-rata 800.000 pengunjung selama 6 minggu waktu bukanya di musim semi tiap tahunnya memberikan pembelajaran penting bagi kami akan pentingnya sinergitas dari para stakeholders pembangunan daerah dalam memasarkan wilayahnya ke luar. Ratusan petani bunga dilibatkan dalam ruang eksibisi tersebut –tidak ada bunga tulip yang dijual di Keukenhof, kecuali bunga tulip berbahan plastik dan kayu yang dijual di toko-toko souvenir di area pintu masuk.

Keukenhof menjadi arena perluasan jaringan dan kontak bisnis bagi para perusahaan atau petani partisipan di ajang tersebut. Berbagai paket tour ke lokasi tersebut juga disediakan oleh hampir semua hotel atau tempat-tempat khusus yang ada di kota-kota sekitar seperti Amsterdam, Den Haag, sampai Rotterdam. Bahkan bus-bus khusus juga disediakan di stasiun-stasiun utama seperti Bandara Schiphol, Stasiun Leiden Centraal, dan Stasiun Haarlem.

Satu kerja bersama yang membutuhkan komitmen kuat dari tiap stakeholder –satu titik destinasi yang dapat menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah lain. Sebuah referensi!

Masih dari Lisse, pikiran Saya menerawang, kembali ke Kajen, memikirkan bagaimana wilayah Kabupaten Pekalongan yang begitu luas, membentang dari pesisir utara sampai kaki Pegunungan Dieng di Petungkriyono bisa menjadi daerah yang dikenal di dunia internasional. Di Petungkriyono ada hamparan taman bunga yang mirip dengan bunga Tulip dan bagi saya itu bukan merupakan suatu kemustahilan.

Sebagaimana Lisse, sebuah kota kecil di negara yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut, bisa mendunia dan (hanya) berawal dari riset terhadap bunga. Memang bukan pekerjaan mudah dan instan, tapi dengan keyakinan dan ikhtiar serta doa kepada Pencipta, pasti ada jalan untuk meningkatkan nilai Kabupaten Pekalongan. Dengan kanekaragaman potensi yang ada, adalah sebuah keniscayaan untuk menyediakan objek-objek riset unggulan yang selanjutnya dapat ‘dijual’ untuk memberikan nilai tambah bagi wilayah kita. Tanpa harus menunggu hasil riset, kita sudah bisa mengembangkan satu bentuk wisata riset bagi mereka yang ingin mengekplore potensi-potensi tersembungi di Pekalongan. Why Not? (bersambung)

 

1 Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *