Soal Politik, Belajarlah dari Kaum Perempuan

0
102
Diskusi perempuan dan politik
PAPARAN – Kepala Kesbangpol Batang, Agung Wisnu Barata, memberikan paparan tentang peran perempuan dalam politik saat diskusi di Gedung Pramuka, kemarin.
AKHMAD SAEFUDIN

BATANG – Bisa jadi, dunia perpolitikan dewasa ini belum memberikan tempat yang memadai bagi keterlibatan kaum perempuan. Padahal, untuk memahami sejatinya politik, siapapun bisa belajar dari kaum hawa.

“Definisi politik itu bermacam-macam, tetapi pada intinya adalah seni mengabdi. Karena itu, kuncinya adalah pemahaman atas nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kemanusiaan itu lahir dari perasaan berketuhanan,” ungkap Direktur Pusat Kajian Pancasila, Hukum, dan Demokrasi (Puskaphdem) Unnes, Arif Hidayat SH MH, saat diskusi pendidikan politik bagi kaum perempuan yang digelar Kesbangpol Batang, Rabu (19/4), di Gedung Pramuka.

Kata dia, pendidikan politik bagi perempuan adalah tarbiyah yang bisa dipahami dari siklus perempuan mendidik, sejak hamil, menyusui, menggendong, menuntun, dan pada saatnya melepas dan mendoakan. Inilah siklus politik yang sesungguhnya. “Maka apa dan bagaimana politik, mengabdi, belajarlah dari kaum perempuan, pahami nilai-nilai perempuan. Pemahaman atas hal ini akan melahirkan tanggung jawab dalam pengabdian karena semuanya dikembalikan pada Tuhan,” terangnya.

Ihwal pentingnya peran perempuan juga ditegaskan Pimpinan Pondok Modern Tazakka, Kh Anang Rikza Masyhadi MA yang menurutnya telah mewarnai sejarah peradaban manusia. Dia mencontohkan Aisyah, istri Nabi Muhammad Saw yang telah meriwayatkan ratusan hadits.

“Bayangkan jika Aisyah tutup mulut, kita tidak tahu bagaimana perilaku keseharian Rasulullah saat di dalam rumah dan bahkan di dalam kamar. Islam telah menunjukan pengakuan atas martabat kaum perempuan yang setara dengan laki-laki di zaman ketika eksistensi dan peran mereka masih dipinggirkan. Maka perempuan jangan lagi mengambil peran di pinggir, apalagi di belakang, tetapi di tengah sejajar dengan laki-laki untuk mewarnai peradaban,” jelas alumnus Gontor dan UGM itu.

Sementara dalam uraian Kepala Kesbangpol Batang, Agung Wisnu Barata SSos MM, ada dua faktor penting yang menghambat keterlibatan kaum perempuan di ruang publik, terutama politik. Pertama, hambatan utama adalah budaya sebagaimana tergambar dalam konsep lama tentang perempuan sebagai konco wingking. Kedua, citra politik yang sedemikian buruk dan kotor juga membuat banyak kaum perempuan menghindar dari dunia politik.

“Padahal, politik ini teramat penting karena terkait dengan pengambilan keputusan yang menyangkut orang banyak. Maka perempuan harus terlibat di politik agar bisa ikut menjadi penentu kebijakan, jangan apriori,” tandasnya.

Beruntung, kata Agung, kesadaran untuk berpartisipasi dalam politik belakangan menguat. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam politik dan pemerintahan. “Kita lihat lokal saja, 9 dari 45 anggota DPRD adalah perempuan. Sementara di eksekutif, ada 6 perempuan menduduki jabatan kepala dinas. Ini bukti perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki,” terangnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin & Redaktur: Dony Widyo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY