Batang Featured Pendidikan

Melihat Kegiatan HIMMA Pekalongan Melalui Ngaji Kebangsaan

*Konsep Islam dan Nasionalisme dalam Kehidupan Berbangsa

Himpunan Mutakharrijin Al-Anwar (HIMMA) atau lebih dikenal Himpunan Alumni Sarang Wilayah Pekalongan Menggelar Ngaji Kebangsaan bersama Dr KH Abdul Ghofur MA. Seperti Apa? Novia R, Bandar

Melihat Kegiatan HIMMA Pekalongan Melalui Ngaji Kebangsaan
NGAJI KEBANGSAAN – Himpunan Mutakharrijin Al-Anwar (HIMMA) atau lebih dikenal Himpunan Alumni Sarang Wilayah Pekalongan Menggelar Ngaji Kebangsaan bersama Dr KH Abdul Ghofur MA.
DOK

Pertemuan rutin kali ini dilaksanakan di Bandar Batang dengan kajian kitab Al-Hikam yang dikemas dalam bentuk ngaji kebangsaan. Menghadirkan Dr KH Abdul Ghofur Maemun Zubair MA selaku Pengasuh PP Al-Anwar 03 dan Ketua Sekolah Tinggi Al-Anwar Sarang Rembang.

Ada yang menarik dalam acara ngaji kebangsaan dengan tema Nation State VS Khilafah atau konsep islam dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dimulai sejak pukul 19.30 WIB sampai 23.30 WIB. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Himpunan Alumni Sarang KH Mahrus Khudlari SPdi MPdI selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Simbang Kulon Buaran.

Acara dihadiri oleh segenap alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang dibawah asuhan KH Maemun Zubair di wilayah Pekalongan-Batang. Turut hadir juga Bupati terpilih Kabupaten Batang, Wihaji SAg MPd.

Dalam sambutannya wihaji mengatakan pentingnya jalinan komunikasi antara pemimpin dengan ulama, oleh karenanya ia berharap nasehat dan bimbingan dari para ulama dalam menjalankan roda kepemimpinannya nanti.

Koordinator Acara Dr KH Sabilal Rosyad MSI, Pengasuh PP Al-Qutub Wonopringgo mengungkapkan acara ngaji kebangsaan ini bertujuan untuk menguatkan semangat nasionalisme. Karena belakangan ini seringkali nasionalisme dibenturkan dengan persoalan keagamaan, bahkan muncul gerakan-gerakan yang ingin mengganti pancasila sebagai dasar negara. Ditambah lagi pembicaraan-pembicaraan yang mewacanakan isu khilafah semakin intens dan terbuka dikampanyekan, baik lewat opini-opini pemikiran maupun gerakan nyata.

Sementara dalam ngaji kebangsaan ini Dr KH Abdul Ghofur MA menjelaskan tentang konsep negara pada zaman Rasulullah dan munculnya negara bangsa (nation state) pasca revolusi Perancis. Menurutnya Konsep negara bangsa sekarang ini menjadi sistem pemerintahan modern yang dipakai oleh seluruh negara di dunia. Dalam mensikapi konsep negara ini, kata dia harus dipahami dengan tiga tahapan, pertama, fahmu al-nash (memahami teks) artinya memahami ketentuan-ketentuan agama sebagaimana yang tertuang di dalam al-quran, hadits, dan literatur literatur keislaman.

Kedua, fahmu al-waqi’ (memahami realitas), artinya bagaimana kita memahami kenyataan yang terjadi, misalnya dalam konteks negara, kita harus memahaminya secara komprehensif dan mendalam dengan segala komponennya. Kemudian diaplikasikan dengan tahapan yang ketiga yaitu tanzil al-nash ala al-waqi’ (menghubungkan teks ke realita). Artinya bagaimana menerapkan teks ke dalam realita. Makanya untuk merapkan nash kedalam realita perlu kajian yang mendalam dan ini sangat berpotensi munculnya perbedaan interprestasi.

Tanzil al-nash ala al-waqi’ (menghubungkan teks ke realita) menurutnya telah dipraktikkan oleh Rasulullah semenjak perjalanan beliau dari makkah ke madinah, seperti langkah Rasulullah dalam menjalin perjanjian damai antara kaum muslimin madinah dengan orang musyrikin quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan shulh hudaibiyah.

Menurut Abdul Ghafur bahwa paham kebangsaan belum ada pada zaman nabi. Oleh karenanya dia mempertanyakan apakah teks zaman dulu itu bisa ditarik dan diaplikasikan dalam realita yang ada sekarang ini, dan apakah harus merubah sistem negara yang sudah berjalan. Dan menurutnya, sebagaimana hasil keputusan NU bahwa realitas konsep negara yang seperti sekarang tidak bertentangan dengan nash (teks) yang sudah ada. Dia juga mengatakan bahwa secara nas (teks) bahwa negara pada zaman nabi hanya satu, tetapi realita (al waqi) sekarang, dengan konsep nation state terjadi banyak negara.

Dari sinilah muncul perdebatan keabsahan negara dalam perspektif fikih di kalangan fuqaha. Diantaranya imam haramain yang menyatakan sah. Dan pendapat inilah kata dia yang dijadikan pegangan ulama ulama Nahdlatu Ulama. (*)

Penulis: Novia Rochmawati | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Web - Honda_Efa September 2017