Featured Kajen News

Pemandangan Eksotis, Kapal Jadi Restoran dan Kafe

*Belajar Bersahabat dengan Air, Catatan Perjalanan dari Belanda (6/Habis)

“Lekker…”, jawab kami serentak sambil mengangkat jempol ketika petugas hotel menanyakan bagaimana makanan yang kami santap di pagi ini. Potongan “ontbijtkoek” –kue khas Belanda yang dalam Bahasa Indonesia berarti “kue sarapan pagi” semacam kue bolu – cukup menjadi pengganjal perut untuk mengawali perjalanan kami di Kota Kanal ini. Catatan Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dari Amsterdam.

Pemandangan Eksotis, Kapal Jadi Restoran dan Kafe-belanda
SUNGAI – Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi didampingi Kepala Bappeda Bambang Irianto berdiri di atas Asmstell River yang menjadi simbol pengembangan Kota Amsterdam.
FOTO: YUDHI HIMAWAN

AMSTERDAM, kota terbesar di Negeri Belanda memang terkenal akan wilayahnya yang “terpotong-potong” oleh kanal-kanal yang telah direncanakan dan dibangun sejak abad ke 17 untuk tujuan pertahanan dan pengelolaan air. Dengan panjang kanal lebih dari 100 km dan 1.500 jembatan serta membentuk 90 pulau, Amsterdam masyhur dengan sebutan “Venice Utara”, mengacu sebuah kota cantik di Italia bagian utara yang populer akan kanal-kanal dan perahu khasnya, Gondola. Amsterdam – Venice, dua kota Eropa yang dikelilingi air dengan ‘nilai ekonomis’ tinggi, air yang bisa menarik jutaan bahkan milyaran euro dari kantong para turis tiap tahunnya. Dan di Amsterdamlah saat ini kami bisa mengamati dan menarik referensi dari kecantikan kota yang terencana dengan baik.

Keluar dari hotel bergaya aksitektur klasik Renaissance, langkah kami langsung menjejak Rembrandtplein Square, sebuah plaza utama di dalam blok di antara kanal-kanal kota yang menjadi salah satu spot favorit bagi warga Amsterdam dan para pelancong. Di tengah Plaza, berdiri dengan gagah sosok patung yang namanya juga diabadikan menjadi nama taman tersebut: Rembrandt. Sosok patung dari seorang seniman (pelukis) besar Negeri Belanda yang hidup pada Abad XVII dengan karya-karya potret dirinya yang termasyur, dibuat sejak akhir abad ke-19. Di sekeliling plaza, tampak deretan cafe yang masih meninggalkan aroma aktivitas malam. Maklum, kawasan sekitar Rembrandtplein merupakan salah satu kawasan paling sibuk di Amsterdam dengan dengan berbagai aktivitas nightlife-nya.

Beberapa ayunan kaki dari Rembrandtplein, kami sudah bisa melihat kanal-kanal eksotis Kota Amsterdam dan jembatan-jembatan kecil dengan desain gaya klasik yang elok. Dengan latar belakang deretan bangunan-bangunan residential yang tampak serasi model dan ketinggiannya, sungguh satu bentuk city landscape yang sangat menawan, harmonisasi ruang yang optimal dari sebuah kota. Single (tertua), Herengracht (terindah), Keizersgracht (terlebar), dan Pringsengracht Canal (terpanjang) menjadi empat kanal yang membentuk struktur ruang kota secara efektif dan humanis.

Di beberapa bagian kanal, terlihat tersandar kapal-kapal kecil yang difungsikan untuk melayani para palancong menyusuri kanal dan menikmati bangunan-bangunan bersejarah yang tersebar di sekitar ‘parit-parit raksasa’ tersebut. Pergi makan malam di restauran sepanjang kanal, menginap di hotel yang juga banyak berjejer dengan view kanal, atau mencoba countryside tour untuk mengeksplore keindahan pinggiran Kota Amsterdam denga windmill tradisionalnya menjadi pilihan aktivitas yang menyenangkan bagi pengunjung seperti kami.

Lepas dari kekaguman akan kanal-kanal kota, arah kaki kami tujukan untuk mengunjungi bangunan-bangunan monumental yang menjadi warisan dan bukti kebesaran peradaban Bangsa Belanda. Dari area kanal terluar, kami mengunjungi Museumplein, hamparan ruang terbuka yang luas dan membentuk satu kompleks dari tiga museum besar yang masyhur: The Rijksmuseum, Van Gogh Museum, dan Stedelijk Museum. Dirancang dengan detail dan dibangun pada akhir abad ke 19. Area ini menjadi salah satu simbol kebesaran sejarah dan seni yang dimiliki Bangsa Belanda, dilihat melalui ribuan objek yang ada di dalam museum-museum. Sungguh menjadi referensi bagi kami bagaimana mengelola sebuah kota dengan menghimpun serakan sejarah dan bentangan masa depan untuk memberikan nilai tambah yang besar bagi masyarakat.

Ke arah bagian pusat kanal Amsterdam, tentu saja salah satu spot penting yang tidak bisa kami lewatkan adalah Dam Square, sebuah plaza besar di tengah kota yang selalu ramai oleh turis. Wajar, di titik inilah kami bisa melihat bangunan-bangunan klasik artistik di sekeliling plaza yang sebagian besar dibangun pada Abad Pertengahan dan mencerminkan kemajuan Bangsa Belanda di bidang arsitektur. The Royal Palace, gedung megah yang dibangun pada Era Keemasan Belanda (Dutch Golden Age) pada Abad 17 dan difungsikan sebagai balai kota awalnya, adalah salah satu ikon di Damsquare tidak akan kita lewatkan. Selain itu ada Nieuwe Kerk (Gereja yang berkonversi menjadi Balai Pameran), National Monument sebagai tugu peringatan korban Perang Dunia II, dan tentu saja satu bangunan lain tempat berkumpulnya tokoh-tokoh dunia dalam bentuk ‘lilin’ yang harus dilihat: Madame Tussauds.

Hal menarik lain dari Belanda khususnya Amsterdam selain keagungan karya-karya arsitekturnya, kultur bersepeda dari masyarakat yang kami pandang lebih dari sekadar fungsi dari transportasi, tapi pada lifestyle spirit yang tidak banyak kita jumpai di rumah kita. Kami melihat bagaimana di berbagai sudut kota berjajar sepeda-sepeda –yang menurut kami modelnya sangat simple, fungsional– milik penduduk kota. Dengan 60% perjalanan di pusat kota menggunakan moda sepeda, layak lah jika Amsterdam menjadi kota metropolis yang ramah bagi pengguna sepeda. Kaum muda dengan tampilan modis dan fashionable terlihat tidak canggung mengayuh sepeda, menuntun sepeda untuk sekadar mencari celah parkir yang bisa digunakan, sungguh sebuah gaya hidup kaum urban yang ingin kami lihat di tanah air.

Perjalanan berlanjut ke arah bagian kota di mana kanal-kanal di Amserdam yang membentuk setengah lingkaran menemui ujung pangkalnya: Amstell River. Sebuah sungai yang menjadi tonggak pembentukan Kota Amsterdam pada Abad ke 13 dimana secara literal Amsterdam berarti “orang-orang yang bermukim di atas tanggul (dam) di sepanjang sungai”. Amstell River menjadi salah satu contoh terbaik penerapan konsep waterfront city –sebuah konsep perencanaan dan penataan kota di sepanjang badan air-. Membelah Kota Amsterdam, sungai ini memberi informasi visual terbaik bagaimana peradaban Kota Amsterdam terbentuk.

Dengan menumpang Amsterdam Canal Cruises tepat di depan Amsterdam Centraal Station (Stasiun Kereta Api Amsterdam), kami dibawa menyusuri Sungai dan menikmati keindangan bangunan-bangunan di sepanjang sungai, dan juga jembatan-jembatan eksotis yang seakan ikut ‘berbicara’ memamerkan keanggunan mereka kepada kami. Kapal–kapal yang berubah fungsi menjadi restauran atau kafe juga berjejer cantik di sepanjang sungai rumah-rumah dengan gaya arsitek khas Belanda bertuliskan tahun pembuatan Abad 17 yang (mungkin) negara kita juga ikut membantu membangunnya berjajar menyambut kami.

Sungguh sebuah perjalanan yang membuka mata dan pikiran kita akan luasnya cakrawala pengetahuan, tidak akan habisnya ilmu yang diberikan oleh Sang Pencipta bagi kita yang mau belajar. Dan perjalanan beberapa saat ke Belanda ini memberikan pelajaran penting bahwa apa yang kita lihat, apa yang kita pikirkan bukan tidak mungkin dapat kita lakukan di tanah kita. Kita punya gunung, kita punya laut, kita punya sungai. Ayo bersama kita masyarakat Kabupaten Pekalongan memikirkan arah kita: mau dibawa kemana Kabupaten Pekalongan? (Habis)

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *