Antara Kartini dan Peran Ibu Masa Kini

0
106
Hj Zahro SE MSi
Hj Zahro SE MSi

Oleh Hj Zahro SE MSi

HARI ini 21 April 2017, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Hari yang biasa kita sebut sebagai hari peringatan kebangkitan emansipasi wanita Indonesia. Kalau melihat sejarah, 138 tahun yang lalu tepatnya 21 April 1879 di Kota Jepara, lahirlah seorang bayi perempuan yang diberi nama Raden Ayu Kartini. Beliau wafat pada usia yang masih muda yaitu pada umur 25 tahun (17 September 1904).

Sejarah mencatat seorang wanita yang diberi kesempatan hidup 25 tahun tetapi memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi masyarakat. Terutama perjuangannya untuk menjadikan wanita Indonesia memiliki peran yang sama dengan kaum pria. Ini harus menjadi tauladan bagi kita semua generasi sekarang. Pertanyaan besar dan harus menjadi introspeksi bagi kita kaum wanita sekarang adalah, apa yang sudah kita berikan pada masyarakat, pada negara, untuk meneruskan perjuangan Kartini pada era sekarang?

RA Kartini memang sudah tiada, namun semangat, cita-cita dan spirit perjuangannya harus tetap melekat dalam diri setiap wanita. Tantangan wanita zaman dulu dan sekarang juga berbeda, namun apapun tantangannya harus bisa dijawab. Sehingga peran wanita baik sebagai seorang ibu, untuk peran domestik atau peran publik lainnya dapat memberikan warna yang lebih baik untuk generasi mendatang.

PERAN SEBAGAI IBU

Sumbangan pertama yang bisa diberikan kaun wanita kepada masyarakat dan negara adalah kaum wanita harus dapat berperan menjadi ibu yang baik bagi keluarganya. Peran ibu yang baik tidaklah mudah, profesi seorang ibu jika diuraikan hampir semua profesi yang ada di masyarakat melekat dalam profesi seorang ibu. Ibu harus berprofesi sebagai asisten rumah tangga yang harus pandai dan cekatan mengurus segala macam pekerjaan di rumah. Ibu juga berprofesi sebagai guru yang harus pandai mendidik, mendampingi anak dalam menempuh pendidikannya dan mendampingi untuk membangun karakter serta kualitas mentalnya.

Selain itu, ibu harus berprofesi sebagai dokter, perawat yang siap untuk memberikan pertolongan pertama bagi anak tatkala sakit. Ibu juga harus berprofesi sebagai manajer keuangan yang pandai mengatur dan mengelola keuangan keluarga . Ibu harus berprofesi sebagai psikolog yang siap menjadi tempat curhat bagi anak. Dan masih banyak profesi lain yang melekat dalam diri seorang ibu.

Agar seorang ibu dapat menjalani perannya sebagi ibu yang baik yang dapat menjalankan seabrek profesi tersebut maka seorang ibu dituntut untuk; pertama memiliki keimanan yang kuat. Bekal iman adalah bekal utama menjadi seorang ibu. Dengan keimanan, ibu dapat menjadi tauladan bagi anak untuk menjadi generasi yang agamis dan patuh terhadap ajaran agama, mengerti dan memahami nilai-nilai kegamaan secara baik dan benar. Perkembangan sosial masyarakat dan globalisasi yang terjadi sekarang yang membawa dampak negatif dapat ditangkal dengan bekal keimanan yang kuat terutama bagi ibu sebagai pendidik pertama bagi anak.

Kedua, memiliki kecerdasan. Sebagai pendidik pertama bagi anak, seorang ibu dituntut cerdas yang dapat menjawab pertanyaan apa saja. Sehingga dapat menjadi tempat curhat yang menyenangkan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu seorang ibu tidak boleh berhenti untuk belajar dan membekali diri untuk dapat menjadi pendidik yang menyenangkan bagi anak. Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, namun dengan terus menerus belajar, maka Insya Allah seoarang ibu bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya.

Ketiga, memiliki kesabaran. Jiwa yang besar dan sabar dalam menghadapi dan mendidik anak adalah bekal lain yang harus dimiliki seorang ibu. Untuk menjadi penyabar adalah sebuah proses yang tidak datang tiba-tiba. Sehingga untuk menjadi diri yang sabar seorang ibu harus melalui proses belajar yang terus menerus.

Keempat, memiliki jiwa raga yang tangguh. Menghadapi peran yang besar di atas dituntut seorang ibu yang sehat jiwa raganya. Oleh karena itu seorang ibu harus memperhatikan dan menjaga kesehatan jiwa raga agar dapat memberikan peran maksimal sebagai ibu bagi anak-anaknya.

PERAN SEBAGAI PENDIDIK

Peran sebagai pendidik sangat dibutuhkan untuk menyiapkan anak menjadi generasi penerus yang memiliki kompetensi dan daya saing yang kuat. Di era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang sangat kuat dibutuhkan seorang ibu yang pandai dan cerdas dan terbuka dan siap untuk belajar tentang perkembangan ilmu dan teknologi . Ibu yang memahami dan mampu menjadi pendorong, pendamping anak dalam mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi tersebut.

Oleh karena itu harusnya orientasi wanita berpendidikan yang tinggi bukan untuk mendapatkan karir yang tinggi tetapi untuk mempersiapkan menjadi ibu yang tangguh bagi anak-anaknya kelak agar menjadi generasi yang pandai dan cerdas menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di akhir tulisan ini mari para kaum wanita Indonesia kita persiapkan diri dan selalu belajar untuk menjadi wanita tangguh yang selalu siap untuk belajar dan terus belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak anak kita. Insya Allah. (*)

*) Penulis : Hj Zahro SE MSi, seorang ibu rumah tangga. Mengabdi di Fakultas Ekonomi Unikal.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY