Soal Buruh, Indonesia Kalah dengan Timor Leste

0
334
Soal Buruh, Indonesia Kalah dengan Timor Leste
DISKUSI PUBLIK : Lembaga pers mahasiswa Vokal Upgris melaksanakan diskusi publik dengan tema buruh migran.
DOKUMEN

*Diskusi Buruh Migran di Upgris

SEMARANG – Persoalan pelanggaran hak asasi terhadap buruh migran terutama di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Berangkat dari hal inilah, belum lama ini, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal mengadakan diskusi publik dengan tema “Buruh Migran : Kemanusiaan, Pendidikan, dan Literasinya” di Ruang Seminar Gedung Pascasarjana Universitas PGRI Semarang.

Diskusi Publik mengenai buruh migran menghadirkan dua narasumber yang berkaitan erat dengan buruh migran yaitu Nurul Qoiriah, Kepala International Organization for Migration Hongkong dan Budi Maryono penulis yang menuliskan buruh migran dari segi pribadi dan keluarga.

Kepala International Organization for Migration Hong Kong, Nurul Qoiriah, di depan peserta diskusi publik mengatakan, persoalan buruh migran sangat erat dengan kehidupan kita. Persoalan ini menjadi sangat kompleks karena berbagai aspek yang mendasarinya. “Banyak sekali buruh migran di luar negeri menjadi korban human trafficking. Beberapa di antara mereka masih dibawah umur. Human trafficking dialami buruh migran Indonesia khususnya buruh migran perempuan. Berbagai situasi dan kondisi kerja tidak layak bahkan sarat akan kekerasan, tekanan fisik dan psikis, penganiayaan, ancaman kekerasan, ketidaktahuan tehadap hukum dan budaya bahkan bahasa,” ujarnya.

Lebih jauh, kepala IOM itu mengatakan, perlindungan tidak cukup hanya dari Indonesia. Banyak sekali buruh yang datang kepada IOM dan meminta untuk diselamatkan. Di Hongkong lebih dari 150.000 buruh yang harus diperhatikan kesejahteraannya.

Nurul dalam seminar ini, mengkrtitik pemerintah yang belum bisa mengatur sistem buruh migran dengan baik. Pemerintah masih menngggap buruh migran sebagai masalah bagi negara. Padahal menurutnya, buruh migran turut andil menopang pembangunan ekonomi bangsa. “Negara Timor Leste yang ekonominya masih dibawah kita saja bisa membiayai pelatihan para calon buruh migran, kenapa kita dengan ekonomi yang lebih baik, tidak bisa?” Tuturnya Nurul yang menyesalkan masih bobroknya sistem buruh migran di Indonesia.

Nurul menuturkan bahwa negara ini harus mulai mengnsentrasikan untuk mengalihkan buruh kita di luar negeri untuk bekerja di sektor formal seperti perawat, kerja kantoran, dan tidak melulu pembantu rumah tangga. Hal seperti itu sudah dilakukan oleh pemerintahan Malaysia, Pilipina, dan lain sebagainya.

Kaitannya dengan pendidikan, Nurul mengatakan bahwa pendidikan kita harus mulai mendidik anak-anak menjadi pengusaha yang berproduksi. “Selama kita tidak bisa berproduksi maka kita hanya menjadi bangsa kuli dan bangsa pasar karena jumlah penduduknya,” tuturnya.

Selain itu, Budi Maryono, seorang penulis yang mengangkat tema buruh migran juga mengatakan bahwa literasi yang berangkat dari persoalan buruh sangat menarik. Salah satu alasan mengapa menulis tentang buruh adalah kecintaannya terhadap keluarga yang selalu menjadi tempatnya untuk pulang. Persoalan buruh bukanlah masalah yang jauh, namun sangat dekat dengan kita.

Budi Maryono dalam acara ini menceritakan pengalamannya yang pernah mengantarkan orang satu kampung pergi ke luar negeri untuk mencari uang dengan berbagai macam alasan, di antaranya untuk membeli sepatu bola, agar dapat menikah, dan lain sebagainya. “Anak-anak itu usianya masih belasan tahun, pergi untuk bekerja di perkebunan.”

“LPM Vokal berharap melalui acara diskusi publik yang mengangkat tema buruh migran ini membuat mahasiswa lebih peduli terhadap buruh yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sekitar. Berhenti bersikap apatis, seolah permasalahan pelik ini hanya merupakan permasalahan milik pemerintah.” tutur Banjar Mustika Hening,Pemimpin Umum LPM Vokal. (tas)

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY