Razia Berdarah Terus Diusut Oleh Pihak Kepolisian

0
148
Razia Berdarah Terus Diusut Oleh Pihak Kepolisian
KORBAN – Satu dari tujuh orang didalam mobil Honda City warna hitam BG 1488 ON tewas diduga tertembak polisi saat digelar razia dipimpin Kapolsek AKP M Ismail dan perwira pengendali Ipda Fransisko Yosef (Kanit Pam Obvit Sat Sabhara Polres Lubukinggau) di lokasi. Kejadian itu di Jl HM Soeharto, Kelurahan Simpang Periuk, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, disamping bank Mandiri unit Simpang Priuk kemarin (18/4) sekitar pukul 11.30 WIB.
ANSYORI MALIK/SUMATERA EKSPRES

*Mobil Diberondong 7 Peluru dari Senapan Serbu

Insiden razia berdarah di Lubuklinggau disikapi serius oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Tertembaknya enam dari delapan penumpang mobil Honda City Hitam BG 1488 ON diduga karena penilaian petugas yang salah.

Tito menjelaskan, bila dilihat kronologisnya, mobil itu menerobos razia dan hampir menabrak tiga anggota kepolisian. “Kondisi itu membuat anggota yang bertugas berasumsi bahwa pengemudi merupakan pelaku kejahatan,” ujarnya, kemarin.

Karena itu terjadi pengejaran. Tembakan peringatan tidak menghentikan pengemudi mobil yang membawa satu keluarga tersebut. Sehingga, tembakan dilakukan dengan posisi mengarah ke mobil.

Ternyata, setelah kendaraan berhenti dan dilakukan pengecekan, pengemudi dan penumpang bukan merupakan pelaku kejahatan. “Ada tindakan diskresi yang kurang tepat,” jelasnya di Komplek Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) kemarin.

“Satu korban meninggal. Saya sangat menyesali kejadian ini,” imbuh Tito. Dia memberikan jaminan bahwa bila terbukti bersalah, maka petugas yang melakukan penembakan akan diproses disiplin dan pidana.

Belaja dari insiden itu, penting bagi anggota punya kemampuan membuat keputusan sebelum melakukan tindakan diskresi. Seorang polisi harus memiliki kemampuan penilaian subyektif yang tepat. “Tindakan itu untuk menjaga keselamatan publik. Perlu untuk melakukan tindakan yang terukur dan tidak berlebihan,” tuturnya.

Menurut tito, posisi seorang anggota polisi itu ibarat satu kaki di kuburan dan satu kaki di penjara. Bila, kurang cepat bertindak dalam bertugas, bisa saja meninggal karena jadi korban pelaku kejahatan. “Tapi, bila penilaian salah, ujung-ujungnya dihukum,” terangnya.

Dengan kondisi semacam itu, maka yang perlu dievaluasi adalah penilaian dari personel dalam mengambil keputusan saat bertugas. Terutama saat memutuskan diskresi. Pada tingkatan pendidikan dan lapangan perlu coaching clinic dengan simulasi-simulasi berbagai kondisi gangguan keamanan. “Untuk mengasah pengambilan keputusan sehingga lebih tepat,” ujarnya.

Saat ini, yang penting adalah memulihkan situasi. Terutama dengan keluarga korban dan masyarakat. “Saya sudah perintahkan Kapolda Sumsel untuk memulihkan semuanya,” ungkap Tito.

Terpisah, Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto berjanji tidak akan melindungi Brigadir K, oknum polisi yang diduga menembaki mobil Honda City Hitam BG 1488 ON. Terungkap kalau kendaraan dengan sopir dan tujuh penumpang itu diberondong dengan senjata jenis SS1-V2.

Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 19 Februari 1965 mengatakan, jika personel Satuan Shabara Polres Lubuklinggau tersebut terbukti bersalah, akan diprosesnya hingga ke hukuman pidana umum.

“Kalau sudah ada unsur untuk dilakukan PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat, red), akan saya lakukan. Tapi, itu setelah hasil persidangan hakim. Jadi, tidak boleh mendahului sebelum ada putusan hakim,” kata Agung di Mapolda Sumsel, kemarin.

Mantan Kakorlantas Polri juga menyebut, ada 7 peluru yang dimuntahkan Brigadir K dari SS1-V2 miliknya. Saat ini, senjata dan 7 selongsong pelurunya sudah disita dan amankan di Mapolres Lubuklinggau.

Menurut Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1987, tim penyidik yang merupakan gabungan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sumsel, masih melakukan pemeriksaan pada Brigadir K, para saksi, dan uji balistik.

“Tim juga sudah saya perintahkan untuk membawa Brigadir K ke Mapolda untuk ditahan. Saya tidak akan menutup-nutupi karena saya komitmen untuk membersihkan apa yang tidak benar,” lanjutnya.

Kata suami Winny Charita, ada 11 saksi yang sudah diperiksa. Selain Brigadir K, Kapolsek AKP Muhammad Ismail dan perwira pengendali Ipda Fransisko Yosef (Kanit Pam Obvit Sat Shabara Polres Lubuklinggau), yang memimpin razia tersebut juga telah diperiksa.

“Hasil penyidikan Tim Polda, razia sesuai SOP. Ada perwira dalam hal ini Kapolsek-nya. Dan Juga ada papan petunjuk razia,”ujarnya. Penggunakan peluru tajam, juga diperbolehkan saat razia. Tergantung hakikat ancamannya. “Kan tidak mungkin polisi pakai peluru karet ketika berhadapan dengan pelaku kejahatan 3 C,” lanjutnya.

Agung juga menjabarkan secara rinci kronologis kejadian tersebut. Menurutnya, sekitar pukul 11.30 WIB, ada mobil Honda City Hitam BG 1488 ON yang melintas di saat gelar razia Cipta Kondisi di jalan Fatmawati, Kecamatan Lubuklinggaui Timur 1, Selasa (18/4) siang.

Oleh personel yang melakukan razia, mobil tersebut dusuruh berhenti untuk diperiksa. “Tapi, tidak ada tanda-tanda dari mobil tersebut untuk mengurangi kecepatan dan hampir menabrak 3 personil polisi,” kata Agung.

Mobil tersebut, lanjutnya, terus melaju. Personil sempat mencatat nopol mobil tersebut. Setelah di kroscek Samsat, kata Agung, ternyata nopol mobil tersebut tidak terdaftar di Sumsel. “Mobil itu seharusnya ber-flat B. Milik sebuah Yayasan di Jakarta,” katanya.

Karena mobil tersebut terus melaju, menerobos lampu merah, dan menyerempet salah satu mobil lainnya, menurut mantan kapolda Kalimantan Selatan, insting kepolisian dari personil bangkit. Para personil menduga mobil tersebut ada kaitannya dengan pelaku 3 C (curat, curas, dan curanmor), sehingga dilakukan pengejaran.

Kata Agung, ada 5 personil yang melakukan pengejaran. Tiga personil naik mobil Mitsubishi Kuda. Salah satunya Brigadir K. Mobil tersebut disopiri anggota Polantas. Dua lainnya naik sepeda motor. Namun, personil yang naik sepeda motor ini ketinggalan jauh.

Saat pengejaran, anggota sudah 10 kali memberikan tembakan peringatan. Namun, tidak digubris. Mobil sedan itu, kata Agung, baru bisa dihentikan di samping Bank Mandiri Unit Simpang Priuk.

Namun, lanjutnya, setelah mobil sedan tersebut berhenti, para penumpang yang ada di dalam mobil pun tidak mau turun saat diperintahkan untuk turun. Akhirnya, terjadilah penembakan tersebut oleh Brigadir K. “Mungkin juga karena keadaan kaca yang gelap dan dinilai membahayakan. Jadi, anggota mengambil inisiatif untuk menembak,” terangnya.

Dari penembakan tersebut, ada 6 dari 8 penumpang yang menjadim korban. Masing-masing Dewi Erlina (40), warga Rejang Lebong, tertembak bahu kiri atas, Novianti (30), warga Lubuklinggau Timur I, tertembak pundak kanan. Genta (2), anak Novianti, tertembak kepala samping kiri.

Kemudian, Surini (54), warga Rejang Lebong (ibunda Dewi Erlina), meninggal dunia setelah mengalami tiga tembakan di dada. Lalu, Indrayani (33), warga Rejang Lebong, tertembak leher depan (kritis) dan dirujuk ke RSMH Palembang. Serta Diki (30), sopir, warga Rejang Lebong, tertembak di perut kiri. Sedangkan 2 penumpang lainnya, Sumarjono (S) dan Galih luput dari tembakan.

“Dari pemeriksaan terhadap 2 penumpang tersebut, saksi S mengatakan pada polisibahwa dirinya sempat menyuruh Diki (sopir, red), untuk berhenti dari saat razia. Tapi, sopirnya tidak mau dan terus melajukan mobilnya,” tukasnya.

Kata Agung, selaku pimpinan Polda Sumsel, dia tidak akan lepas tanggung jawab. Semua biaya pengobatan terhadap korban yang terluka, maupun yang meninggal dunia, menjadi tanggung jawab Polda Sumsel. ” Saya perintahkan Bid Dokkes Polda Sumsel untuk mengurusnya.

Kapolres Lubuklinggau juga sudah saya perintahkan menemui keluarga korban meninggal dunia di Bengkulu. Kapolres sudah bertemu langsung dengan suami korban,” kata Agung.

Agung sendiri mengaku juga sudah menjenguk salah satu korban, Indrayani di RS Muhammad Hoesin Palembang. “Kondisinya sudah sadar. Namun, sepertinya akan dioperasi dan dirawat intensif,” lanjutnya. “Selaku Kapolda, saya prihatin dan turun berduka atas kejadian ini. Terutama atas meninggalnya ibu Surini,” tegasnya.

Insiden ini, kata Agung, menjadi pelajaran penting bagi seluruh personil Polda Sumsel dan jajaran. Katanya, tes psikologi akan dilakukan lagi. Namun demikian, Agung memastikan akan terus melakukan operasi Cipta Kondisi.

Pria yang satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Akpol 1987, ingin Sumsel makin kondusif. Terutama dari kejahatan 3 C. Lebih-lebih menjelang puasa, dan Asian Games XVIII-2018.

” Sejak digelar operasi Cipta Kondisi pada awal April lalu, kejahatan 3 C menurun drastis. Pelaku makin banyak yang tertangkap, bahkan ada yang sampai kena penegakan hukum tegas dan terukur,” pungkasnya. (vis)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY