Kepala Rupbasan Klas 1 Pekalongan Ditahan Kejaksaan

0
266
Kepala Rupbasan Ditahan Kejaksaan
DITAHAN – Kepala Rupbasan Pekalongan Toga Maruli Sibanari (menutupi kepala dengan jaket), saat dibawa penyidik Kejari Pekalongan dan aparat kepolisian dari Kejari Pekalongan untuk dititipkan di Rutan Pekalongan atas dugaan kasus jual beli jabatan, kemarin (20/4) siang.
WAHYU HIDAYAT / RADAR PEKALONGAN

*Dugaan Jual Beli Jabatan

PEKALONGAN – Kepala Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Klas 1 Pekalongan Toga Maruli Sibanari ditahan penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekalongan, Kamis (20/4) siang. Toga ditahan karena diduga telah menyalahgunakan kekuasannya melakukan jual beli jabatan, atau gratifikasi.

Penahanan dilakukan usai yang bersangkutan menjalani pemeriksaan selama beberapa jam oleh penyidik Kejari Pekalongan. Saat dibawa ke mobil tahanan sekitar pukul 11.00 dengan kawalan penyidik Kejari Pekalongan dan anggota Polres Pekalongan Kota, Toga nampak tertekan. Ia bahkan terus menangis sembari menutupi wajahnya dengan jaket, sejak keluar dari ruang pemeriksaan hingga masuk ke dalam mobil.

Ditahannya Toga Maruli Sibanari itu, merupakan tindak lanjut penyelidikan dan penyidikan dugaan jual beli jabatan yang diduga dilakukan Toga. Kasus ini sendiri berawal dari laporan dua orang pegawai Rupbasan Pekalongan, yang tak lain merupakan anak buah Toga.

Krononologi Kasus yang Menjerat Kepala Rupbasan PekalonganSebelumnya, pada awal Maret lalu, dua pegawai Rupbasan Pekalongan, Eri Purwanti (50) dan Gunawan (45), melapor ke Kejari Pekalongan karena merasa telah dirugikan puluhan juta rupiah oleh Toga.

Salah satu pelapor, Eri, menjelaskan kasus bermula ketika Toga menawarkan promosi jabatan setingkat lebih tinggi kepada dirinya dan kepada rekannya, Gunawan. Alasannya, karena mereka berdua dinilai sudah senior dan pangkatnya sudah memenuhi syarat.

Mereka dijanjikan akan naik jabatan, syaratnya dengan memberikan sejumlah uang. Uang puluhan juta rupiah itu diberikan secara bertahap, katanya untuk mengurus segala sesuatu dan semuanya akan diuruskan oleh Toga.

Namun ternyata janji itu tidak pernah terealisasi, meski nominal uang yang diminta sudah diberikan. “Ia (Toga Maruli Sibarani, red) meminta uang ke saya melalui bank secara tunai hingga empat kali dan semuanya ada bukti print outnya,” ungkap Eri kepada wartawan.

“Usulan promosi jabatan dibuat sekitar bulan April-Oktober 2016. Akan tetapi, begitu SK kolektif yang pertama turun untuk jabatan eselon IV dan V sekitar Desember 2016, nama kita berdua kok tidak muncul,” imbuh dia.

Saat itu, kata Eri, ia sempat merasa kecewa. Namun kemudian oleh Toga diminta bersabar, karena akan ada pelantikan lagi di bulan Januari 2017. Hanya saja, begitu Januari 2017 ada pelantikan, nama Eri maupun Gunawan kembali tidak muncul dalam daftar pegawai yang naik pangkat atau promosi jabatan. “Lantas kita tanyakan kembali tentang nasib kami berdua, malah beliuanya marah besar,” katanya.

Permasalahan tersebut, menurut Eri, juga pernah mencoba ia selesaikan secara kekeluargaan dengan Toga. Bahkan permasalahan itu pernah dimediasi di tingkat Kemenkumham Kanwil Jateng. Tetapi ternyata tetap tidak ada penyelesaian dari yang bersangkutan. Karena merasa sudah tidak ada itikad baik dari Toga, maka Eri dan Gunawan melaporkan atasannya itu ke Kejari Pekalongan.

*) Masih Pemeriksaan Awal

Kasi Intel Kejari Pekalongan Suherman menjelaskan, penahanan dilakukan berdasarkan surat perintah penahanan dari Kajari Pekalongan Nomor Sprin-206/O.3.12/FT.1/04 2017 tanggal 20 April 2017. Penahanan itu juga dinyatakan sudah sesuai dengan KUHAP.

Dia menyampaikan bahwa berdasarkan alat bukti yang cukup dari hasil penyidikan, Toga Maruli Sibanari ditetapkan sebagai tersangka. “Sebelumnya pada saat penyelidikan, penyidik sudah memeriksa 13 orang saksi. Setelah alat bukti cukup, perkaranya dinaikkan ke tingkat penyidikan. Kemudian di tingkat penyidikan, ada delapan orang saksi,” ungkapnya.

Adapun pasal yang disangkakan adalah Pasal 12 huruf e atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Tersangka diduga telah menyalahgunakan kekuasaan untuk menguntungkan diri sendiri atau gratifikasi,” katanya.

Suherman menambahkan, pemeriksaan yang dilakukan kemarin terhadap tersangka masih berupa pemeriksaan awal. Itu lantaran tersangka belum didampingi penasehat hukum. “Karena tersangka tidak didampingi penasehat hukum, maka pemeriksaan belum dilakukan secara mendalam. Dia ingin mempersiapkan diri untuk membela dirinya dengan menunjuk penasehat hukum. Jadi tadi pemeriksaan belum menyangkut pokok perkara,” bebernya.

Sementara, Toga sendiri saat akan dimintai konfirmasi terkait penahanan dirinya itu, tidak memberikan jawaban sama sekali. Dia hanya menutupi wajahnya dengan jaket, sembari terus menangis. (way)

Penulis: Wahyu Hidayat | Radar Pekalongan
Redaktur: Abdurrahman

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY