Terhimpit Hutang, Perangkat Desa Nekat Pimpin Aksi Penculikan

0
307
Terhimpit Hutang, Perangkat Desa Nekat Pimpin Aksi Penculikan
TERSANGKA – Kapolres Batang, AKBP Juli Agung Pramono (kiri) menunujukkan barang bukti senjata api mainan yang digunakan oleh tersangka.
M DHIA THUFAIL / RADAR PEKALONGAN

BATANG – Akibat terlilit hutang, Teguh Rahono (29) warga Dukuh/Desa Getas, Kecamatan Bawang nekat melakukan penculikan yang disertai dengan pemerasan. Dalam aksinya, Teguh yang kesehariannya menjabat sebagai salah seorang perangkat desa atau Pamong tersebut mengkerahkan tujuh orang rekannya untuk memperlancar tindak kejahatan yang sudah direncanakan itu.

Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Batang, AKBP Juli Agung Pramono yang menuturkan bahwa dalam aksi penculikan yang disertai dengan pemerasan tersebut dilakukan oleh delapan orang tersangka. Yakni Teguh (29), Jamzuri (25), Moch Kodir (42), Kusnul Soli (39), NH, R, A dan H. Dimana para tersangka ini menjadikan LY atau Yuli (32) warga Desa Pasusukan, Kecamatan Bawang sebagai sasaran korban penculikannya.

“Alhamdulillah, jajaran Satreskrim Polres Batang berhasil mengungkap tindak pidana penculikan yang disertai dengan pemerasan oleh delapan orang tersangka. Dan aktor intelektualnya adalah seorang pamong desa. Namun, kami baru berhasil menangkap keenam tersangka secara bertahap. Sedangkan dua tersangka lainnya masih dalam pengejaran,” ujar Kapolres Batang didampingi Kasatreskrim Polres Batang, AKP Suhadi dalam gelaran ekspos pengungkapan kasus di halaman Mapolres setempat, Rabu (17/5).

Lebih lanjut Kapolres mengungkapkan, kejadian penculikan itu sendiri bermula pada hari Sabtu (1/4) sekira pukul 23.00 WIB. Para tersangka yang dipimpin oleh Teguh mengadakan pertemuan di area alun-alun Limpung. Dalam pertemuan, para tersangka membahas perencanaan aksi penculikan dan membagi tugas yang akan dilakukan.

Tiga jam kemudian atau Minggu (2/4) sekira pukul 01.00 WIB, ke lima tersangka termasuk Teguh melakukan pengecekan ke rumah korban dengan menggunakan Mobil Avanza Nopol H 9269 GM warna silver. Sedangkan tiga tersangka lainnya, kembali ke rumah masing-masing dan menunggu konfirmasi atau perintah selanjutnya.

Setelah selesai melakukan pengecekan rumah korban, salah satu tersangka yakni Teguh minta diturunkan dari mobil. Dan keempat tersangka lainnya yang masih berada didalam mobil kembali mendatangi rumah korban. Sesampainya di rumah korban, sekira pukul 02.30 WIB, keempat pelaku mengetuk pintu rumah korban. Yang pada saat itu ibu korban membukakan pintu tersebut.

“Keempat tersangka langsung merangsek masuk kedalam rumah korban, dan salah satu tersangka langsung masuk kedalam kamar korban. Dengan menodongkan senjata api mainan (korek api) kearah kepala korban, tersangka berkata lantang ‘Saya dari Polda Metro Jaya’. Selanjutnya korban langsung dibawa masuk kedalam mobil. Karena merasa kaget dan ketakutan, ibu korban maupun korban tak memberikan perlawanan, dan semua berjalan dengan cepat,” terang Kapolres.

Lalu didalam mobil, kedua tangan korban diikat dengan seutas tali dan matanya di tutup dengan penutup kepala dan juga di lakban. Selanjutnya korban di bawa oleh ke empat tersangka sampai ke wilayah Brebes. Sesampainya di Brebes, para tersangka memilih untuk beristirahat dan menyewa kamar di salah satu hotel diwilayah tersebut.

“Kemudian, pada hari Senin (3/4) sekira pukul 12.30 WIB, para tersangka mengajak kembali korban ke wilayah Kabupaten Batang. Sesampainya di Batang, salah satu tersangka meminta sejumlah tebusan kepada ibu korban sejumlah Rp500 juta. Namun karena keberatan, terjadilah negosiasi dan disepakati Rp300 juta untuk melakukan penebusan,” tutur Kapolres.

Karena sudah ditemukan kesepakatan, para tersangka mengajak ibu korban untuk melakukan transaksi penukaran di Rumah Makan Monggo Moro. Tapi karena Ibu korban tidak menyetujuinya untuk melakukan transaksi di tempat yang dimaksud, maka transaksi berganti di Rumah Makan Gerbang Elok yang berada di Kecamatan Gringsing.

“Setelah mereka bertemu, terjadilah transaksi. Ibu korban menyerahkan Rp300 juta kepada para tersangka dan korban dikembalikan. Namun, karena belum bisa terima. Sepulang dari transaksi, ibu korban bersama korban melakukan pelaporan di Polsek Bawang yang selanjutnya dilimpahkan ke Satreskrim Polres Batang,” ungkap Kapolres.

Dijelaskan juga oleh Kapolres, dengan adanya pelaporan tersebut anggota langsung bergerak cepat menyelidikinya. Anggota juga mengintrogasi korban untuk melacak jejak peninggalan korban, yang akhirnya ditemukan di salah satu hotel tempat mereka menginap di wilayah Brebes.

“Pertama kami menemukan identitas foto kopi KTP milik salah satu tersangka yang ditinggalkan di hotel. Kemudian anggota bergerak cepat untuk meringkus tersangka pertama dan selanjutnya para komplotan tersangka lainnya dapat terungkap juga. Namun untuk dua tersangka, saat ini dalam pengejaran anggota,” ujarnya.

Diketahui, uang tebusan sebesar Rp300 juta tersebut telah dibagi kepada masing masing tersangka yang berjumlah delapan orang itu. Sementara, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan para tersangka, anggota Kepolisian menetapkan Pasal 328 dan 368 jo 55 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun dan 9 tahun penjara.

“Saya diceritakan oleh Ali (salah satu tersangka), bahwa dirinya bersama Yuli (korban) pernah merampok di daerah Jakarta. Namun, saat itu Ali tidak diberikan jatah hasil perampokan oleh Yuli (korban). Untuk itu kami sepakat melakukan perencanaan penculikan terhadap Yuli (korban). Dari hasil pembagian uang tebusan, saya mendapatkan pembagian Rp30 juta. Yang sudah saya gunakan untuk menutup hutang” tandas Teguh. (ap6)

Penulis: M Dhia Thufail | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY